Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 12 Nov 2017 19:40 WIB

TRAVEL NEWS

Pemerintah Blak-blakan Jelaskan Pembangunan di Puncak Ijen, Banyuwangi

Ardian Fanani
Redaksi Travel
Wisatawan di Kawan Ijen (Ardian Fanani/detikTravel)
Wisatawan di Kawan Ijen (Ardian Fanani/detikTravel)
Banyuwangi - Simpang siur seputar informasi pembangunan fisik di puncak Gunung Ijen, Banyuwangi berujung polemik. Pemerintah pun buka-bukaan bagaimana urusan itu sesungguhnya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya kebanjiran pertanyaan maupun cuitan netizen yang banyak keberatan pembangunan di puncak Ijen.

"Beberapa pertanyaan media yang sampai di handphone saya, langsung saya forward ke Bu Siti Nurbaya Bakar, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, yang punya kawasan itu. Dan beliau langsung merespons cepat, terima kasih Ibu MenLHK, ini sangat membantu netizen yang ingin tahu," jelas Arief Yahya di Banyuwangi, usai menyaksikan Banyuwangi Ethno Carnival (BEC), Sabtu (11/11/2017).

Menpar yang asli Banyuwangi itu memberikan pejelasan kepada wartawan di Pendopo Kabupaten Banyuwangi. Pertama, apa yang dibangun yaitu pagar, musala dan toilet, sangat dibutuhkan oleh wisatawan.

Kedua, kata Arief Yahya, lokasi bangunan musala dan toilet tidak pada lokasi yang biasa untuk melihat pemandangan dan bukan di jalur pendakian.

"Mungkin ini yang perlu disosialisasikan, agar tidak menimbulkan aneka praduga," sebut Arief Yahya.

Lalu apa penjelasan MenLHK Siti Nurbaya yang dikirim ke Menpar Arief? Ini penjabarannya. Konstruksi dibangun dengan berbagai pertimbangan:

1.Karena lebar bibir Kawah Ijen hanya 2 meter, dengan kanan kiri kawah dan jurang sebingga perlu diantisipasi dengan pagar pengaman. Pagar dibangun dengan struktur menyerupai kayu sehingga menyatu dengan alam.

2. Pagar juga sudah ada sebelumnya dan sangat tidak aman. Pagar akan membatasi pengunjung dari kawah, karena pengunjung terlarang untuk turun ke kawah dan selama ini tidak ada pembatas meski ada papan larangan.

3. Toilet dan musala menjawab guna memenuhi permintaan wisatawan, masyarakat dan pejabat yg ke Ijen selalu mengeluhkan ketiadaan musala sehingga tidak bisa salat subuh tepat waktu.

Soal toilet dan musala, Menpar Arief Yahya juga membenarkan, bahwa itu dibutuhkan di setiap destinasi wisata di manapun.

"Di seluruh destinasi wisata dunia, di mana pun juga butuh toilet yang bersih, bagus, nyaman. Jadi ini bagus, kalau ingin menjadi global player, harus menggunakan global standard," kata Arief Yahya lagi.

Kata Arief Yahya, Menteri Siti Nurbaya juga memberikan penjelasan kepada dirinya bahwa di puncak hanya dibangun pagar pengaman, toilet, musala. Tidak ada bangunan lain selain itu dan bukan kereta gantung, warung, toko, resto, hotel ataupun taman bermain.

Titik musala dan toilet pun bukan di jalur pendakian, dan tidak akan menghalangi pandangan pengunjung dari Blue Fire, karena berjarak 226 meter dari titik Blue Fire. Demikian pula tinggi pagar hanya 85 cm sehingga tidak menghalangi view fotografi.

Siti Nurbaya kepada Menpar juga memastikan investornya proyek tersebut adalah negara, karena Ijen adalah salah satu prioritas nasional pariwisata. Anggaran pembangunan Ijen dibangun dengan Dipa KLHK melalui Dipa BBKSDA Jatim Tahun Anggaran 2017.

"Saya rasa penjelasan Bu MenLHK bagus, semoga ini bisa membantu netizen, yang ingin tahu seputar Ijen," kata Arief Yahya. (fay/fay)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED