Dijelaskan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Mulyono Prabowo dalam perbincangan dengan detikTravel, belum lama ini bahwa traveler harus mengenal karakteristik gunung yang akan didaki. Terutama di musim penghujan, potensi kecelakaan di alam akan semakin tinggi
"Jadi harus diketahui jika masing-masing gunung ini punya karakteristik tersendiri. Jika gunung itu punya banyak vegetasi maka akan lebih sering terjadi hujan juga lebih basah. Jika kaldera gunung lebih terbuka, maka akan mudah ada longsoran, seperti mudah terjadi luncuran longsor," kata Mulyono.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yakni di sisi barat gunung akan banyak pertumbuhan awan dan banyak hujannya. Hal lainnya yaitu, semakin tinggi medan maka semakin kuat anginnya," jelas dia.
Pasar Bubrah, Gunung Merapi Foto: (basriii/d'Traveler) |
"Pakailah pakaian yang cepat kering namun hangat. Jika hanya tebal, apabila basah akan susah kering dan malah memberi dampak hipotermia. karena tubuh dipaksa untuk mengerikan jeans," kata Mulyono.
"Kalaupun iya jadwalnya naik gunung tidak bisa ditunda, harus memiliki perbekalan cukup, biskuit padat kalori amat penting. Ketersediaan air walau dingin juga penting dan jangan sampai dehidrasi," tambah dia.
Pemandangan berawan dari Gunung Lawu Foto: (Reni PS/d'Traveler) |
"Kecenderungannya itu, musim yang baik untuk pendakian ada di bulan Mei-Agustus karena potensi hujan berkurang," pungkas Mulyono.
Pengalaman detikTravel mendaki Gunung Slamet dalam musim hujan pun demikian. Jarak antar pos yang seharusnya dapat ditempuh hanya beberapa jam saja harus melebihi estimasi. Hujan deras waktu itu membuat beban keril semakin berat juga jalur trekking yang semakin licin sehingga memperlambat pergerakan. (msl/aff)











































Pasar Bubrah, Gunung Merapi Foto:
Pemandangan berawan dari Gunung Lawu Foto: (