Cerita Jatuh Bangun Tiket.com

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Cerita Jatuh Bangun Tiket.com

Shinta Angriyana - detikTravel
Kamis, 30 Agu 2018 19:15 WIB
Cerita Jatuh Bangun Tiket.com
Foto: (Shinta/detikTravel)
Jakarta - Tiket.com merupakan salah satu online travel agent terbesar Indonesia. Di balik kesuksesannya, ada cerita jatuh bangun sebelum saat ini.

Menurut Chief Marketing Officer dan Co-founder tiket.com, Gaery Undarsa, dahulu saat membangun tiket.com ia harus menggaet partner satu-persatu. Hal ini dilakukan agar pihak maskapai atau hotel ingin bekerjasama untuk menjual produk di tiket.com.

"Kita datengin hotel, airlines satu-satu selama 4 tahun. Jadi kita juga kerjasama dengan travel agent konvensional. Datangin per agen," ujarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi kalau dulu pesan di tiket.com, tulisannya issued by travel agent blablabla, jadi kita malah bayar sama orang, malah kita yang bayar demi bisa jualan," tambah Gaery.

Bisnis OTA ini didasarkan karena modal yang minim. Selain itu, Gaery menuturkan bahwa bisnis agen perjalanan berbasis daring masih jarang ditemui di Tanah Air.

"Simple alasannya, jadi kita mau bikin produk apa ya yang mudah, dan ngetren dulu e-commerce. Terus kita ngeliat zaman dulu juga jasa pengiriman masih belum dipercaya orang. Nah kita mau bisnis tapi nggak pakai modal. Kita mau nggak ada gudang, kirim barang dan inventori,"

"Nah lalu kepikiran online travel, nggak perlu kirim barang, yang dijual barang orang, ngirim juga by email aja. Awalnya mau bikin bisnis yang nggak pusing, mau cari yang simple," imbuhnya.

BACA JUGA: Tiket.com Bakal Hadirkan Fitur Pesan Hotel Dadakan

Bukan hanya kendala mencari hotel partner, tetapi kadang 'harapan palsu' pun muncul. Seperti ketika saat seorang pemesan hotel kemudian membatalkan transaksi.

"Dulu sempat susah banget. Bahkan pas ada orderan masuk, satu kantor tahu semua ada notifikasinya. Di semua laptop keluar semua. Bunyinya berisik banget," ucap Gaery.

"Pertama kali masuk transaksi hotel, eh nggak berapa lama di cancel. Makin lama mulai berisik, banyak yang pesan, sekarang sih dimatiin," tambahnya.

Ia pun mengatakan bahwa industri perjalanan merupakan bisnis menjanjikan. Selain itu, pertumbuhannya juga cepat di berbagai negara.

"Karena simple, dan dari segi bisnis growing dan pertumbuhan paling cepat adalah travel. Karena travel nggak ribet, nggak perlu infrastruktur, inventori dan nggak perlu bikin gudang. Jadi cepat bisnisnya. Meskipun di awal, Indonesia agak susah awalnya, kompetisi saat itu pada bikin e-commerce, tapi jarang ada yang online travel," papar Gaery.

Semakin berkembangnya industri OTA, Tiket.com melebarkan sayap saat menggaet pelanggan. Saat ini, banyak anak muda yang gemar jalan-jalan ke berbagai tempat.

"Jadi sebenarnya simple, dulu kita target 25-35, tapi kita sadar di sosial media banyak yang traveling itu yang muda. Karena waktunya lebih banyak. Jadi kita masukin milenial dan di bawahnya," ucap dia.

Kini, tiket.com bukan saja menjual produk untik membantu traveler jalan-jalan ke berbagai tempat dari sisi transportasi dan akomodasi. Tetapi, juga atraksi dan berbagai event menarik. (wsw/aff)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads