Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 16 Okt 2018 19:10 WIB

TRAVEL NEWS

Pelukis Disabilitas Pamer Karya di Pasar Seni Lukis Indonesia

Robi Setiawan
detikTravel
Foto: Dok. Kemenpar
Foto: Dok. Kemenpar
Jakarta - Pecinta seni wajib datang ke Pasar Seni Lukis Indonesia (PSLI) 2018 di Jatim Expo, Surabaya. Dapat dijumpai karya seni dari para pelukis penyandang disabilitas.

Pasar Seni Lukis Indonesia (PSLI) 2018 dipenuhi stan-stan yang menjual beragam karya seni lukis, mulai dari yang berbahan batu akik hingga bulu unggas. Selain itu, dalam pameran ini pula Anda akan menemukan karya pelukis disabilitas. Dia adalah Sadikin Pard yang melukis dengan cara yang tidak biasa. Sadikin melukis menggunakan kaki dan mulut karena dirinya tuna daksa.

Walau demikian, Sadikin ternyata termasuk salah satu pelukis yang karyanya go international. Kemampuan Sadikin juga membuatnya menjadi satu dari sembilan orang Indonesia yang berhasil masuk dalam AMFPA. Sebuah asosiasi seniman lukis kaki dan mulut dunia yang bermarkas di Liechtenstein.


Sadikin termasuk pelukis dengan gaya realis. Namun sering kali dia mengubah gayanya menjadi impresionis. Lukisannya didominasi oleh penggunaan warna-warna cerah dan tegas. Paduan warna tersebut, selain menghasilkan objek yang yang dilukis, juga menjadi permainan warna kontras yang menarik.

"Tergantung mood saja. Saya dulu pelukis realis. Tapi juga bisa gaya impresionis. Sampai sekarang gaya melukis saya, yah impresionis," kata Sadikin dalam keterangan tertulis, Selasa (16/10/2018).

Sadikin pun mengatakan dia mulai melukis sejak duduk di bangku sekolah dasar. Waktu itu hanya sekadar hobi. Sadikin juga mengatakan bahwa dirinya sempat menjadi seorang pengusaha, namun mengalami kebangkrutan.

"Saya pernah jatuh bangun di dunia usaha. Tapi akhirnya Saya putuskan fokus ke dunia lukis. Tapi Saya tetap memanfaatkan kemampuan Saya di bidang marketing dalam memasarkan lukisan Saya," ungkapnya.


Sadikin adalah teladan bagi setiap orang. Hal ini membuktikan suatu kekurangan seharusnya tidak menjadi penghalang untuk mencapai kesuksesan. Lukisan Sadikin telah dipamerkan di berbagai negara di Eropa dan Amerika. Sadikin pun turut melanglang buana bersama lukisannya.

"Saya tidak penah meminta apa pun kepada siapa pun, termasuk agar orang lain menghargai saya. Saya selalu mengingatkan diri saya sendiri untuk tidak bertanya apa yang saya dapatkan, tapi apa yang sudah saya berikan. Dengan begitu, saya akan termotivasi untuk terus menghasilkan karya," tuturnya.

Selain Sadikin, ada pula pelukis yang menggunakan media batu akik, yaitu Kamiludin. Menurut Kamiludin, ide itu muncul karena ingin memanfaatkan bongkahan batu akik yang terbengkalai.

"Sebenarnya ini terobosan baru dalam dunia lukis. Saya memang sudah lama menjadi pelukis, namun perlu ada sesuatu berbeda yang bisa dijadikan bahan lukisan," ujar Kamiludin.

Pria yang tinggal di kawasan Candi Sidoarjo ini mengaku tak butuh waktu lama untuk memanfaatkan batu akik ini menjadi bahan lukisannya. Dia tetap memakai konsep pemandangan pada lukisan gaya barunya ini.

Saat melukis, Kamiludin menggunakan sekitar 10-15 jenis batu dalam satu lukisan. Di antaranya batu pirus, pancawarna, batu ati ayam, dan giok. Batu-batu yang dipakai itu biasanya masih dalam bentuk bongkahan atau potongan-potongan.

"Saya harus bisa memilah jenis batu apa yang cocok untuk membentuk gunung, bangunan, dan pepohonan," terangnya.

Jika dalam bentuk bongkahan, dia bisa memotong memakai gerinda menjadi potongan kecil dan ditempel di kanvas dengan lem G.

"Tapi bisa juga potongan batu itu dibuat serbuk, baru kemudian ditempel di kanvas. Biasanya ini untuk bagian laut atau langit," katanya.

Di sudut lain, ada pula yang memamerkan lukisan dengan bahan bulu unggas. Pelukisnya adalah Susmiadi. Dia memakai tiga jenis bulu unggas yakni ayam, bebek, dan merpati.

"Dari bulu-bulu itu saya berimajinasi membuat lukisan. Kali ini yang dijual lukisan hewan semisal macan, cheetah, kuda, dan ayam. Pernah juga saya melukis potrait Bung Karno ukuran 3×1 meter memakai bulu," ujar Susmiadi.

Susmiadi mengaku mendapatkan bulu-bulu itu dari pedagang di pasar. Mulai pedagang ayam, bebek, hingga merpati.

"Stok bulu saya beli dari penjual di pasar. Bulu tak mesti sehat sehabis dicabut. Dapat satu minggu sesudah dicabut, tetapi yang penting tak basah," ungkapnya.

Untuk diketahui, Pasar Seni Lukis Indonesia 2018 yang dibuka sampai 21 Oktober 2018 ini juga mendapat apresiasi dari Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Jawa Timur (Jatim) La Nyalla Mahmud Mattalitti.

La Nyalla pun mengucapkan terima kasih kepada penyelenggara PSLI. Menurutnya, dengan komitmen dan kontribusinya membantu pelukis membuka pasar baik dari dalam dan luar negeri.

"Selain untuk memperkuat kebudayaan kita, PSLI sanggup menarik mata dunia bahwa karya-karya seniman kita juga berkelas," kata La Nyalla.

Sementara itu, Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, 60 persen sektor pariwisata berasal dari budaya dan 30 persen dari alam.

"Tugasnya Kementerian Pariwisata adalah lebih mempublikasikan dan mempromosikan agar wisatawan datang ke Indonesia, khususnya ke pameran lukisan ini," ucap Arief.

Arief menambahkan, PSLI dapat pula menjadi ajang pariwisata. Menurutnya, pengunjung dapat melihat secara langsung lukisan yang indah.

"Semua wisatawan yang suka lukisan akan tertarik. Mereka tidak hanya bisa menikmati saja seperti pameran. Tapi juga bisa memilikinya, karena lukisan di PSLI dijual," pungkasnya.

(mul/rdy)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED