Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 22 Nov 2018 12:10 WIB

TRAVEL NEWS

Menilik Tradisi Menyambut Maulid Nabi di Cirebon

Sudirman Wamad
detikTravel
Tradisi Panjang Jimat di Cirebon (Sudirman Wamad/detikTravel)
Tradisi Panjang Jimat di Cirebon (Sudirman Wamad/detikTravel)
Cirebon - Keraton Kanoman Cirebon telah menggelar ritual Panjang Jimat. Tradisi ini dilakukan untuk memperingati Maulid Nabi.

Masyarakat dari berbagai daerah memadati Keraton Kasepuhan Cirebon, Jawa Barat demi melihat prosesi Panjang Jimat. Prosesi sakral yang digelar untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, setiap 12 Rabiul Awal.

Hujan deras sempat mengguyur Keraton Kasepuhan Cirebon sebelum proses Panjang Jimat berlangsung. Namun, kondisi tersebut tak menyurutkan niat masyarakat untuk melihat prosesi tahunan itu. Hujan pun reda saat prosesi Panjang Jimat hendak dimulai.

Pusaka milik Sunan Gunung Jati, yakni tujuh piring yang digunakan untuk menjamu Wali Songo ketika bermusyawarah dikeluarkan dari keraton menuju Langgar Agung. Puluhan abdi dalam lainnya membawa keluar membawa nasi jimat, tombak, lilin, dan lainnya mengiringi keluarnya tujuh piring pusaka.

Tradisi Panjang Jimat (Sudirman Wamad/detikTravel)Tradisi Panjang Jimat (Sudirman Wamad/detikTravel)

Lantunan salawat mengiringi prosesi Panjang Jimat. Nasi jimat disajikan dalam tujuh piring yang berusia ratusan tahun. Kemudian, dilanjut dengan pembacaan kita barzanji setelah iring-iringan abdi dalam dan benda pusaka itu sampai di Langgar Agung Keraton Kasepuhan.

"Sebenarnya ada sembilan piring, tapi yang dikeluarkan tujuh piring. Karena tahun ini bukan tahun Dal," kata Sultan Kasepuhan Pangeran Raja Adipati (PRA) Arief Natadingrat kepada awak media, Rabu (21/11/2018).

Arief mengatakan pembagian nasi jimat akan dilakukan setelah pembacaan barzanji selesai, sekitar pukul 24.00 WIB. Lebih lanjut, dikatakan Arief, pembacaan barzanji saat prosesi panjang jimat memiliki keterkaitan dengan syiar Islam yang dilakukan Sunan Gunung Jati.

"Banyak cara yang dilakukan Sunan Gunung Jati dalam menyebarkan Islam, salah satunya dengan prosesi Panjang Jimat. Mengajak masyarakat mengucapkan dua kalimat syahadat dan mendengarkan barzanji," katanya.

Lampion menghiasi kala tradisi berlangsung (Sudirman Wamad/detikTravel)Lampion menghiasi kala tradisi berlangsung (Sudirman Wamad/detikTravel)
Arief mengatakan sejatinya panjang jimat memiliki makna mengajak masyarakat untuk mencintai dan meneladani Nabi Muhammad SAW.

"Ini mengingatkan kepada semuanya, pemangku kebijakan, masyarakat, dan lainnya untuk meneladani akhlak Rasul. Minimalnya menjaga lisan, berbicara yang santun," ucap Arief.

Terlebih lagi, lanjut Arief, dewasa ini ramai penyebaran berita bohong atau hoaks dan ujaran kebencian. Arief mengajak agar masyarakat tak terprovokasi menyebarkan ujaran kebencian.

"Jangan seenaknya saja berbicara itu. Bicara yang santun, saling menghargai agar Indonesia damai dan tetap bersatu," ucap Arief. (krn/krn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA