Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 09 Mei 2019 05:00 WIB

TRAVEL NEWS

Australia: Negara Paling Aman, Turisnya Nakal-nakal (di Indonesia)

Shinta Angriyana
detikTravel
Ilustrasi Bendera Australia (pool)
Ilustrasi Bendera Australia (pool)
Jakarta - Negeri Kanguru dinilai dengan negara yang memiliki reputasi baik dengan kualitas hidup terjamin. Siapa sangka, perlakuan turisnya di luar negeri bikin geleng-geleng kepala.

Berdasarkan SafeAround, sebuah website yang memberikan informasi tentang keamanan traveling, Australia menduduki posisi ke-12 sebagai negara tingkat keamanan tertinggi. Itu berarti, turis maupun warga lokal dapat melakukan aktivitas dengan nyaman, minim gangguan dari pihak luar.

Begitu pun dengan kualitas hidup. Di tahun 2018 lalu, The Economist menobatkan dua kota besar di Australia, Melbourne dan Adelaide sebagai tempat paling layak huni di dunia. Secara posisi, Melbourne jadi juara di posisi pertama dan Adelaide di posisi ke-5.

Bahkan, tingkat kriminalitas di Australia bisa dibilang selalu rendah. The Legatum Institute, salah satu badan riset Inggris menyatakan bahwa Australia adalah negara ke-20 dengan tingkat keamanan negara yang tinggi dengan kriminalitas cenderung rendah.

Fasilitas publik, regulasi dan berbagai penunjang dirasa cukup untuk menjadikan Australia negara yang maju. Namun, acap kali negara yang maju tidak membuat mereka dapat bersikap dengan baik di negara lain--meski, tidak semua orang Australia.

Australia: Negara Paling Aman, Turisnya Nakal-nakal (di Indonesia)Sudut Kota Melbourne (Shinta/detikcom)


Melalui data yang dimiliki oleh Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) atau Kementerian Luar Negeri & Perdagangan Australia, 10 negara yang paling banyak dituju orang Australia saat ke luar negeri adalah:

1. Selandia Baru
2. Indonesia
3. Amerika Serikat
4. Inggris
5. Thailand
6. China
7. Jepang
8. Singapura
9. India
10. Fiji

Indonesia, Destinasi Favorit orang Australia

Indonesia pun menjadi posisi ke-2 yang paling banyak dikunjungi orang Australia. Mereka seringkali berkunjung ke Bali. Namun, nyatanya kunjungan turis yang bisa jadi dampak positif kedua belah pihak, malah menjadi ampas pahit bagi Tanah Air.

Tidak dipungkiri, Australia merupakan turis yang paling banyak ke Indonesia, tepatnya Bali.

"Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang Januari-November 2018 sebanyak 5.572142 orang. Menurut kebangsaan wisman yang tercatat paling banyak datang ke Bali pada Januari-November 2018 adalah wisman dengan kebangsaan Tiongkok (22,99 persen), Australia (19,16 persen), India (5,75 persen), Inggris (4,51 persen), Jepang (4,29 persen), AS (3,84 persen), Prancis (3,37 persen), Jerman (3,15 persen), Malaysia (3,06 persen), dan Korea Selatan (2,33 persen)," kata Kepala BPS Provinsi Bali Adi Nugraha dalam keterangan tertulisnya, Rabu (2/1/2019).

BACA JUGA: Turis China dan Australia Terbanyak Liburan ke Bali Sepanjang 2018

Tindakan Tak Senonoh

Nyatanya, kunjungan turis Australia tidak selamanya baik-baik saja. Sejumlah tindakan tidak senonoh dilakukan WN Australia saat ke Indonesia, khususnya Bali.

Beberapa waktu lalu, sejumlah turis Australia bertindak senonoh dengan pipis sembarangan dan bugil di jalanan. Videonya pun ramai beredar di media sosial.

Februari 2019 lalu, seorang turis Australia bernama Anne Hogg (28) ditangkap polisi karena mencuri anting emas di kawasan Seminyak, Bali. Peristiwa pencurian itu terjadi Minggu (3/2) pukul 13.30 WITa. Hogg mulanya berpura-pura melihat anting emas di rak pajangan. Tidak lama kemudian pergi langsung pergi dan ternyata ada sepasang anting yang hilang dari rak pajangan.

Di tahun yang sama, Seorang warga negara (WN) Australia Thorn Charlton Jhon (42) ditangkap polisi karena bikin ulah dan terus mengamuk. Jhon mengamuk dan menganiaya tamu hotel di kawasan Kuta, dan Bandara Ngurah Rai, Bali. Peristiwa terjadi pada hari Kamis (31/1) saat Jhon menginap di The Diana Suite. Sekitar pukul 03.30 WITA, pelaku tiba-tiba mengetuk pintu tetangga kamarnya bernama Gusrio Sinaga (20).

Diakui oleh WN Australia Sendiri

Tingkah laku buruk ini bahkan diakui oleh pihak Australia. Seorang pakar pariwisata Australia dari University of Sydney, Dr Deborah Edwards pernah berbincang kepada media The New Daily bahwa tindakan ini dipicu oleh kurangnya pemahaman tentang budaya dan ketidakmampuan untuk berperilaku terhormat di negara-negara asing.

"Orang-orang dari semua kelompok umur yang berbeda mengalami masalah, tetapi saya akan mengatakan bahwa kelompok usia yang lebih muda mengalami lebih banyak masalah. Secara umum, saya pikir orang Australia tampaknya mendapatkan reputasi yang lebih buruk di luar negeri karena perilakunya,' ujar Dr Deborah.

Pernyataan Deborah ternyata terbukti melalui data yang dimiliki oleh DFAT Australia. Tercatat, dalam data orang yang berumur 25-54 tahun sering bepergian. Dalam pembagian persentase: 25-34 tahun 17,4%, 35-44 taahun 16,9% dan 45-54 tahun 17,7%.

Bahkan, musisi Jerinx 'Superman Is Dead' yang juga aktif mengkritisi sejumlah kebijakan dan kehidupan sosial di Bali pun angkat bicara mengenai kasus turis yang bertindak seenaknya.

BACA JUGA: Disorot Jerinx 'SID', Pemkab Badung Akui Banyak Turis Nakal di Kuta

Ia sempat mengunggah fenomena turis nakal di Bali pada 18 Maret lalu. Menurutnya, turis-turis nakal (meski tidak spesifik ke WN Australia) memiliki ideologi 'White Supremacy'. Bukan sekadar bertindak senonoh, Jerinx juga menilai turis dengan ideologi ini membuka bisnis di Bali dengan teknik marketing yang rasis.

"Perlu diketahui juga, banyak dari turis white supremacist ini membuka bisnis di Bali dengan taktik marketing yg rasis. Contoh paling simpel: membuka puluhan studio tato dgn penanda/stiker bertuliskan OWNED BY AUSSIE, sementara seluruh staff nya lokal. Buat apa coba kalau bukan utk merendahkan studio tato milik lokal?," tulisnya dalam akun Instagram.

View this post on Instagram

Ayo tag @gubernur.bali @giri.prasta agar mereka jengah dan turun langsung ke lapangan! Fakta: Turis-turis bermental white supremacy macam ini membuat Kuta makin tahun makin sepi. Turis-turis berkualitas cenderung memilih menghindari Kuta akibat perilaku para white trash ini. Tahun 2013, bersama para ketua pemuda dari 11 banjar di Kuta, saya coba cari solusi atas isu ini; menemui beberapa pejabat hingga menemui Gubernur saat itu @mademangkupastika - yg ternyata hanya memanfaatkan kami/saya utk kepentingan kampanye nya; diundang ke Simakrama, dipaksa foto bareng, tanpa ijin foto tsb diexpose media seolah saya pro Mangku, tapi TAK SATU PUN permintaan kami sebagai warga Kuta dipenuhi. Jika @gubernur.bali @giri.prasta benar sayang Bali, ayo lekas susun sistem filterisasi turis yg masuk Bali. Mayoritas warga Bali pasti support 100% Perlu diketahui juga, banyak dari turis white supremacist ini membuka bisnis di Bali dengan taktik marketing yg rasis. Contoh paling simpel: membuka puluhan studio tato dgn penanda/stiker bertuliskan OWNED BY AUSSIE, sementara seluruh staff nya lokal. Buat apa coba kalau bukan utk merendahkan studio tato milik lokal? Saya sudah 3 tahun tidak bermain di bisnis tato, jadi contoh di atas tidak ada unsur kompetisinya. Murni karena saya sejak lama sudah MUAK dengan perilaku para PENJAJAH berkedok turis ini. Ini Bali. Ini tanah air kita, di sini kita bukan turis. Tapi lama-lama kok orang Bali seperti dipaksa merasa terasing di rumahnya sendiri. Repost @tele.bali Kebiasan buruk bule-bule di Bali yg merasa dirinya superior. Padahal biasanya model seperti ini di negara mereka, levelnya poor class. Sejak bebas visa, Bali makin dibanjiri turis2 reject dan berkelakuan norak Selamat pagi teletabis. Kalo liat turis kayak gini lagi jangan ditolerir ya. Ingetin dia kalo kelakuannya itu katrok. Bila perlu, setset butuhne. Paham sat?! #TeleBali #SatTLBL #tele.bali

A post shared by JRX (@jrxsid) on Mar 17, 2019 at 7:41pm PDT



White Supremacy & Larrikin

Secara bahasa, menurut Merriam Webster, White Supremacist adalah sebuah keyakinan bahwa ras kulit putih memiliki andil yang besar serta lebih superior dibandingkan ras lainnya. Dalam bahasa Indonesia, sering disebut sebagai supremasi kulit putih, sebuah ideologi yang membuat ras kulit putih berada di atas segalanya (ras lain).

Ilustrasi turis di Bali (Gede Suardana/detikcom)Ilustrasi turis di Bali (Gede Suardana/detikcom)


Nampaknya, White Supremacy sering digunakan dalam ideologi politik di Amerika Serikat. Australia pun punya sebutan tidak resmi atau slang mengenai tingkah laku nyeleneh warganya yakni 'Larrikin'.

Menurut Britannica, Larikin merupakan slang dari Australia yang asal-usulnya tidak diketahui. Istilah ini populer pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, untuk menandakan penjahat muda atau hooligan di subkultur dengan tingkat pendapatan rendak di perkotaan Australia. Selain itu, istilah Larrikin juga diberikan kepada remaja dan orang dewasa yang dipekerjakan secara sporadis dengan membentuk peseikatan atau geng dengan tidak kejahatan.

Dalam data yang dimiliki DFAT, ternyata aksi nyeleneh WN Australia paling banyak memiliki reputasi buruk di Thailand. DFAT pun merangkum 5 negara yang paling banyak membutuhkan asistensi kasus tertinggi, yakni:

1. Thailand
2. Amerika Serikat
3. Indonesia
4. Filipina
5. China

Tercatat, ada 967 kasus sampai tahun 2018 di Thailand. Sedangkan AS 750 kasus, Indonesia 610 kasus, Filipina 590 kasus dan China 391 kasus.

Berbagai kasus tersebut pun beragam. Dari data yang sama, tercatat 3.062 kasus keselamatan, 1.585 kasus masuk rumah sakit, 1.540 ditangkap polisi, 533 kasus pencurian, 386 kasus dipenjara, 269 kasus penganiayaan, 1.671 kasus kematian dan 280 kasus lain.

Akses dan Kemudahan WN Australia ke Luar Negeri

Sebenarnya, akses orang Australia ke luar negeri cukup mudah. Dari data Global Passport Index, paspor Australia merupakan yang ke-7 terkuat di dunia bersama Latvia, Estonia, Polandia, dan Slovakia. Australia memiliki akses ke 110 negara bebas visa, 52 negara akses Visa on Arrival dan 36 negara dengan visa.

Nyatanya, membuat Australia yang tertata rapi dengan kesejahteraan yang tinggi tidak melulu mendidik warganya untuk bersikap baik di luar negeri. Meskipun sebenarnya, perilaku di tanah Australia cenderung baik dan terkendali.

Namun, memang tidak semua kelakuan turis Australia bikin geleng-geleng kepala. Ada juga yang menghormati tujuan wisatanya, mengikuti tradisi lokal hingga melakukan kampanye positif.

BACA JUGA: Pengalaman Pertama Turis Australia Ikut Nyepi di Bali

Hal ini pun menjadi dilema. Di satu sisi, Australia merupakan salah satu pasar besar dunia pariwisata Indonesia, bahkan sejumlah negara lain. Namun tentunya, hal ini juga harus diiringi dengan perilaku yang baik untuk menciptakan ketrentaman dan kedamaian.

Australia: Negara Paling Aman, Turisnya Nakal-nakal (di Indonesia)
(sna/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA