Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 21 Mei 2019 19:57 WIB

TRAVEL NEWS

Keluh Kesah Bupati Belitung Soal Tiket Pesawat yang Masih Mahal

Mustiana Lestari
detikTravel
Foto: Suparno
Foto: Suparno
Jakarta - Bupati Belitung Sahani Saleh tiket pesawat yang masih mahal. Hal ini menyebabkkan pula frekuensi penerbangan berkurang. "Penerbangan ke Belitung turun drastis, dulu 13 flights landing setiap hari, kini tinggal 9 flights. Alasannya: tidak ada penumpang? Mengapa sepi penumpang karena tarif tiket pesawat mahal sekali, sudah diturunkan Tariff Batas Atas (TBA) pun jatuhnya masih mahal," keluh Sahani Saleh dalam keterangan tertulis, Selasa (21/5/2019).

Sahani bercerita bahwa hampir setiap hari dirinya menerima keluhan dari para pelaku usaha dan industri pariwisata. Baik yang bergerak di bidang atraksi, akses maupun amenitas.

"Semua ikut lesu. hotel, restoran, paket wisata, transportasi lokal, pedagang souvenir, penjual oleh-oleh, pengrajin, nelayan, pasar tradisional, semua terdampak. Sedih saya," aku Bupati Negeri Laskar Pelangi itu.


Sahani menjelaskan dulu, sebelum industri pariwisata berkembang, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Belitung hanya Rp 70 M setahun. Sekarang sudah Rp 310 M setahun.

"Masyarakat happy, pertambangan yang merusak alam berhenti. Warna mulai senang berbisnis di service dan pariwisata. Sekarang mereka giliran bertanya kepada saya, mengapa tiket pesawat tidak turun-turun? Kalau dulu bisa murah, terjangkau, mengapa sekarang mahal?" kata Suhani menirukan mereka.

"Saya sudah komunikasi dengan Chandra Lie, pemilik Sriwijaya Air dan NAM Air. Tetapi, sekarang pemegang sahamnya sudah dikuasai Garuda Indonesia, karena itu dia juga tidak punya daya. Saya akan tanyakan ke Kemenhub juga, nasib pariwisata di luar pulau Jawa yang tidak bisa jalan darat langsung akan semakin sulit," ungkap Suhani.


Keluhan Bupati Belitung Suhani ini hanyalah satu dari banyak destinasi wisata pulau-pulau yang harus dijangkau dengan pesawat. Bali, Lombok, Sumbawa, Labuan Bajo, Wakatobi, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi, Kalimantan, semua hampir pasti terkena imbas tarif mahal tiket itu.

"Saya juga sudah sampaikan ke Pak Menpar Arief Yahya, beliau berpesan agar tetap optimis," kata Suhani.

Dia mengaku heran, kenaikan harga tiket pesawat kok tidak bisa turun dan bahkan seolah tidak mau turun. Dia pun bingung alasan di tahun-tahun sebelumnya harganya bisa normal dan terjangkau. Dia menilai pemerintah tidak kompak karena satu pihak ingin menghidupkan industri pariwisata dengan tiket terjangkau. Di pihak lain, ingin industri airlines mendapat laba besar dengan menaikkan revenue dari ticketing.

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mengonfirmasi bahwa jumlah penumpang angkutan udara pada Maret 2019 merosot tajam dibandingkan periode yang sama tahun lalu, 2018. Dari data yang dirilis, jumlah penumpang penerbangan domestik Maret 2019 hanya sebesar 6,03 juta. Bandingkan dengan tahun 2018 lalu, yang sudah tembus 7,73 juta, atau turun 21,94 persen.

Secara kumulatif, pertumbuhan jumlah penumpang pesawat domestik merosot 17,66 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi 18,32 juta. Hal itu disampaikan Kepala BPS Suhariyanto di beberapa media, bahwa penurunan jumlah penumpang tersebut dipicu oleh kenaikan harga tiket pesawat yang terjadi dalam sejak Januari 2019.

Sektor Pariwisata tentu paling 'tertekan' oleh tiket mahal itu. Tingkat hunian kamar hotel berbintang pada Maret 2019 hanya sebesar 52,89 persen atau turun 4,21 poin dibandingkan Maret 2018, yang mencapai 57,1 persen.

Menpar Arief Yahya juga ikut bersimpati dengan kegigihan Bupati Belitung Suhani mencari cara agar harga tiket bisa normal, seperti dulu lagi.

Menurut Staf Khusus Menpar Bidang Infrastruktur dan Aksesibilitas Judi Rifajantoro menjelaskan bahwa Kemenhub hanya bisa mengatur sampai pada Tarif Batas Atas (TBA) dan Tarif Batas Bawah (TBB).

Perusahaan maskapailah yang akhirnya membuat berbagai variasi harga, berdasarkan season, waktu, dan demand. Tujuannya untuk menghindari persaingan usaha yang tidak sehat, saling banting harga di level harga rendah. Juga untuk mengindari harga yang terlalu tinggi, ketika peak season.

Dia pun menjelaskan harga yang dirasakan oleh masyarakat selama ini, sebelum kenaikan akhir tahun 2019 yang lalu adalah harga di antara TBA dan TBB yaitu kisaran 45% sampai 65% (average 50%) dari Tarif Batas Atas. Itu sudah berjalan sekian lama dan menjadi harga psikologis buat masyarakat.

Misalnya, dari kota A ke kota B selama ini dibanderol dengan harga Rp 1 juta. Inilah yang disebut sebagai harga normal, harga psikologis. Meskipun sebenarnya, harga itu hanya 50% dari Tarif Batas Atas (TBA)-nya. Kalau peak season, harga bisa naik hingga Rp 2 juta, atau menjadi 100% dari harga normal. Sedang di saat low season harganya turun lagi menjadi Rp 1 juta. Ini mekanisme pasar biasa, harga menyesuaikan demand and supply.

kemudian yang terjadi, sejak awal Januari 2019, ketika sudah melewati peak season Liburan Natal 2018 dan Tahun Baru 2019, tiket pesawat masih mahal. Tiket tidak turun, padahal sudah bukan peak season, situasi sudah normal. Harga masih tidak normal, harga masih menyentuh angka psikologis. Harga masih di Tarif Batas Atas maksimal. Inilah yang diprotes oleh masyarakat, karena jatuhnya mahal sekali.

Dia mengatakan perusahaan maskapai tidak menabrak peraturan Menteri Perhubungan karena masih dalam range TBA dan TBB. Namun jika dilihat dari sudut pandang harga psikologis harga yang tidak turun setelah peak season sudah pasti membuat gejolak di masyarakat.

Kemenhub sudah menurunkan TBA, antara 12-16%, atau average 15%. Maskapai menghitung dari harga yang sudah tinggi, harga TBA yang sudah menjadi 200% dari harga normal yang dipersepsikan masyarakat*, maka harga masih dirasakan mahal.

"Kalau Full Service Carrier 100%, maka Medium Service Carrier 90%, dan Low Cost Carrier 85%. Itu berarti, semua mengikuti aturan menurunkan batas atasnya. Maka, maskapai masing-masing kelompok layanan akan menurunkan tarif rata-rata 15% dari TBA maksimumnya masing-masing. Sehingga masyarakat penumpang akan merasakan penurunan yang kurang lebih sama, yaitu 15%," jelas Judi Rifajantoro. (mul/mpr)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED