Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 17 Jun 2019 14:20 WIB

TRAVEL NEWS

Fenomena Embun Es Pengaruhi Tingkat Kunjungan Dieng

Uje Hartono
detikTravel
Wisatwan melihat embun es Dieng (Uje Hartono/detikcom)
Wisatwan melihat embun es Dieng (Uje Hartono/detikcom)
Banjarnegara - Dieng bukan cuma candi. Tapi juga ada embun es yang tingkatkan kunjungan ke Dieng.

Fenomena munculnya embun es di dataran tinggi Dieng rupanya memicu penasaran wisatawan. Salah satunya bisa dilihat dari meningkatnya angka kunjungan ke obyek wisata di dataran tinggi Dieng.

Kepala UPT Pengelolaan Obyek Wisata Banjarnegara Aryadi Darwanto mengatakan, pada libur Lebaran tahun ini tercatat 127 ribu wisatawan berlibur di Dieng. Padahal, tahun 2018 lalu hanya 94 ribu.

"Salah satunya karena banyak wisatawan yang penasaran dengan embun es. Banyak yang bertanya pada kami, kapan waktu kemunculan embun es," kata dia, kepada detikcom, Senin (17/6/2019).

Embun es di Dieng pada tahun 2018 (Uje Hartono/detikcom)Embun es di Dieng pada tahun 2018 (Uje Hartono/detikcom) Foto: undefined

Selain itu menanyakan langsung, banyak wisatawan yang bertanya waktu munculnya embun es terlebih dahulu sebelum berlibur ke Dieng. Biasanya, wisatawan bertanya melalui media sosial.



"Banyak yang tanya lewat DM instagram dan media sosial lainnya. Rata-rata wisatawan dari luar kota seperti dari Jakarta," tuturnya.

Untuk mengetahui kemunculan embun es, Aryadi menjelaskan bisa dilihat gejalanya satu hari sebelumnya. Yakni, langit cerah hingga malam hari serta suhu udara sudah mulai turun malam harinya.

"Kalau sudah seperti itu, bisa dipastikan akan muncul salju. Tetapi, kalau wisatawan dari luar kota memang susah apalagi yang membutuhkan waktu perjalanan lama," ujarnya.

Ia menyarankan, bagi wisatawan yang ingin melihat fenomena embun es, untuk memilih waktu berlibur pada Bulan Agustus. Pasalnya, berkaca pada pengalaman sebelumnya, selama bulan Agustus hampir terus muncul embun es.

"Tahun lalu, 2 minggu berturut-turut, kemudian ada 3 hari tidak muncul. Setelah itu muncul lagi seminggu berturut-turut. Karena biasanya puncak musim kemarau terjadi di Bulan Agustus," jelas Aryadi. (bnl/bnl)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED