Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 01 Jul 2019 16:40 WIB

TRAVEL NEWS

Pelaku Wisata Banyuwangi Tanggapi Tudingan Arabisasi Pantai Santen

Nurcholis Maarif
detikTravel
Foto: Putri Akmal/detikcom
Banyuwangi - Pelaku wisata dan penggagas Taman Gandrung Terakota Banyuwangi Sigit Pramono, ikut menanggapi isu tudingan arabisasi Pulau Santen yang menjadi bagian gagasan halal tourism yang dicetuskan Pemkab Banyuwangi.

"Saya tidak bisa memahami apa yang menjadi niat dan tujuan orang yang menyebut telah terjadi arabisasi pariwisata di Banyuwangi," ujar Sigit dalam keterangannya, Senin (1/7/2019).

Menurutnya, penuding ini memang sangat keterlaluan padahal sudah begitu banyak hal yang dilakukan Menteri Pariwisata Arief Yahya dan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang menjadi contoh daerah sukses dengan sektor pariwisatanya.

"Saya benar-benar kecewa dengan statement arabisasi itu. Maksudnya apa? Padahal selama ini kebudayaan dan kesenian tradisional Banyuwangi selalu diangkat ke tempat yang sangat terhormat. Dari 99 event yang diprakarsai Pemkab Banyuwangi, sebagian besar adalah kegiatan seni budaya tradisional Banyuwangi," jelasnya.


Sigit menambahkan sejauh ini Menpar Arief Yahya selalu aktif dalam pengembangan pariwisata Banyuwangi. Arief selalu menyempatkan hadir dalam kegiatan yang berkaitan dengan pariwisata di Banyuwangi seperti Festival Gandrung Sewu, Banyuwangi Ethno Carnival, dan lain-lain. Akhir tahun lalu, Arief juga meresmikan Taman Gandrung Terakota, yaitu sebuah situs rawat ruwat seni dan budaya Banyuwangi.

"Kalau soal wisata halal, menurut saya itu sebuah strategi pemasaran. Sebagai upaya untuk menjangkau segmen khusus yang memang membutuhkan layanan dan produk khusus. Kalau ada yang menyoal tentang pantai syariah Pulau Santen, itu karena memang ada permintaan. Dan semestinya tidak perlu dipersoalkan karena pantai lainnya untuk masyarakat umum masih jauh lebih banyak," tandasnya.

Selain Sigit, sebelumnya Sekretaris Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Banyuwangi I Komang Sudira menyatakan penyebaran tudingan itu adalah bentuk kezaliman untuk masyarakat Banyuwangi. Tidak ada umat Hindu di Banyuwangi yang berpikiran seperti itu.

Menurutnya, umat Hindu Banyuwangi hidup penuh toleransi dengan umat agama lain. Tidak ada intimidasi, tidak dikekang, dan bahkan jajaran Pemkab Banyuwangi sering mendatangi undangan di acara-acara umat Hindu.


"Saya yakin tudingan itu dibangun untuk kepentingan pribadi. Sebab umat Hindu Banyuwangi tidak seperti itu. Tindakannya sama saja menzalimi masyarakat Banyuwangi," ucapnya.

Komang menambahkan pihak yang menulis dengan tudingan arabisasi tidak memahami Banyuwangi. Sebab daerah ini justru merayakan perbedaan dengan berbagai atraksi seni budaya khas kearifan lokal. Selain itu, Banyuwangi juga dihuni oleh berbagai suku. Mulai dari suku Osing, Bugis, Jawa, Madura, hingga Tionghoa.

"Kami merayakan setiap kegiatan seni budaya dengan semarak. Termasuk pada festival yang digagas untuk masyarakat Tionghoa. Semua kami rayakan tanpa memandang agama. Inilah cara masyarakat Banyuwangi untuk guyub. Jadi jangan berpikir untuk memecah belah dengan opini pribadi," pungkasnya.

Simak Video "Ubud Akan Jadi Percontohan Destinasi Kuliner Kelas Dunia "
[Gambas:Video 20detik]
(idr/idr)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA