Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 02 Agu 2019 20:22 WIB

TRAVEL NEWS

Menpar Cerita Strategi Go Digital Wisata RI Sempat Ditentang

Akfa Nasrulhak
detikTravel
Foto: Kemenpar
Foto: Kemenpar
Jakarta - Menteri Pariwisata Arief Yahya membeberkan beberapa langkahnya dalam mengemban amanah di bidang pariwisata sejak dilantik pada Oktober 2014 lalu. Ia menyebut langkah-langkah tersebut konsisten dijalankan di berbagai level hingga saat ini.

"Dulu saya ditentang habis, bahkan industri yang bergerak di sektor pariwisata pun mencibir soal implementasi digital itu," ujar Arief, dalam keterangan tertulis, Jumat (2/8/2019).

Namun, Arief berkeyakinan bahwa hanya 2 cara untuk membuat lompatan besar di pariwisata. Pertama, deregulasi, dan menurutnya hal itu sudah terbukti dengan VISA free, pencabutan Cabotage untuk cruise atau kapal pesiar, dan CAIT untuk yachts atau perahu pesiar.

"Australia naik 20% begitu ada kebijakan VISA free. Kapal pesiar dan perahu pesir juga naik berlipat-lipat ketika aturan atau regulasinya diperbaiki, dipermudah, dipercepat," ungkap menteri asli Banyuwangi ini.


Kedua, lanjut Arief, gunakan teknologi, dalam hal ini digital. Tanpa go digital, Arief tidak bisa membayangkan harus menggunakan strategi apa lagi? Target double, dari 9,3 juta dalam waktu 5 tahun itu tidak mudah.

"Maka sejak 2015, semua lini dikontrol dan dikendalikan dengan teknologi digital. Dan hasilnya, kita bisa melakukan banyak lompatan," ungkapnya.

Namun, Arief menyadari tidak mudah melakukan transformasi dari konvensional ke digital. Maka ia pun membantu para pelaku industri pariwisata untuk go digital. Salah satunya, dengan membuat digital market place, seperti ITX-Indonesia Tourism eXchange yang mempertemukan buyers dengan sellers dalam satu platform. Ketika akhirnya PHRI dan ASITA membuat platform digital pun, Arief yang meluncurkan.

Di Kemenpar, Arief juga menggunakan dashboard M-17, untuk memonitor hasil digital campaign dari kedatangan wisman per pintu, per originasi. Melihat customer (originasi utama), melihat minat wisatawan, sentiment terhadap destinasi di Indonesia. Melihat posisi Indonesia dibandingkan dengan competitor ASEAN, baik di jumlah wisman, sentiment customers, per negara per kota yang dibenchmark. Juga pemanfaatkan social listening tools, untuk menangkap sentiment ke berbagai destinasi di Indonesia dan luar negeri.

"Saya selalu sampaikan, di setiap Rapim, dilanjutkan di war room, sambil membaca data," ungkap Arief Yahya.

Lulusan ITB Bandung, Surrey University UK, dan Doktor Unpad Bandung itu memang 30 tahun lebih hidupnya di teknologi dan digital. Dasboard itu penting untuk mengetahui posisi Indonesia, lalu pergerakan negara-negara di regional ASEAN, serta negara-negara originasi.

"Ingat kata-kata Sun Tzu, jenderal perang, filsuf, ahli strategi militer yang menulis The Art of War. Kenali dirimu, kenali musuhmu, kenali medan pertempuranmu, maka kau akan memenangkan peperangan," kutip Arief.

Dalam bahasa manajemen, Arief mengubah kalimat tersebut menjadi kenali produkmu, kenali customer-mu, kenali persaingan bisnismu, maku kamu akan menjadi pemenang.

"Di era tourism 4.0, dengan artificial intelegence, internet of think, big data analytics, robotic, augmented reality, cloud computing, dan lainnya, akan memberikan informasi yang detail tentang siapa customers kita," ungkapnya.

Menurut Arief, teknologi ini juga sudah memberi tahu, bagaimana untuk merebut hati customers, setelah mengetahui detail data mereka. Strategi promosinya bisa lebih efektif, sesuai target, bahkan kebiasaan customer itu secara statistic bisa ditebak. Maka konten yang disiapkan pun, tidak akan jauh dari selera mereka.

Koneksi dengan industri kelas dunia yang berbasis digital juga dilakukan, termasuk dengan Online Travel Agent (OTA) besar. Seperti Expedia, Booking.Com, Ctrip dan lainnya. Juga dengan searching engine terbesar dunia, Google dan Baidu untuk pasar China.

"Paid media kita semakin efektif dan bukan hanya di branding Wonderful Indonesia, tetapi sudah sampai di advertising dan selling," ungkap Arief.

Public Relations juga dilakukan dengan berbagai media digital. Termasuk di media sosial, dengan berbagai games, menggunakan Endorser.

"Endorser itu ada dua, celebrities dan community. Dua-duanya kita kerahkan untuk mempromosikan Pesona Indonesia," paparnya.

Bahkan, lanjut Arief, saat ini searching engine saja tidak cukup. Ada teknologi terbaru yang dinamakan Competing Destination Model (CDM). Teknologi intelegence mereka sudah bisa mengkompilasi customers dengan tingkat presisi yang tinggi. Misalnya, calon wisman dari originasi dari Tiongkok.

Menurut Arief, mesin ini sudah bisa mendeteksi, berapa banyak orang yang sudah booking dan payment ke destinasi Indonesia. Selain itu juga mendeteksi berapa banyak yang baru searching dan menempatkan destinasi Indonesia masuk sebagai alternaif dari banyak daftar pilihannya.

Juga berapa banyak yang sama sekali tidak menempatkan nama Indonesia sebagai salah satu pilihan travelingnya. Teknologi ini bisa mengubah keinginan customer, dari yang semula hanya menjadikan Indonesia sebagai alternatif, menjadi tujuan utama. Dari yang semula tidak masuk daftar, menjadi tujuan utama.

"Inilah perkembangan terbaru dalam teknologi digital marketing, dan kita sudah sampai ke sana," ungkap Arief.


Dalam bahasa yang sederhana, lanjut Arief, CDM adalah teknik programmatic campaigne untuk menarik calon wisatawan yang mencari jenis destinasi atau atraksi tertentu. Misalnya, diving, di manapun di dunia, secara otomatis sistem CDM kita menawarkan destinasi sejenis (diving) yang ada di Indonesia hingga ke level handphone atau laptop calon wisman.

"Campaigne dilakukan berulang-ulang, sampai calon wisman itu tertarik dan akhirnya memilih destinasi (diving) ke Indonesia," ucap Arief.

Selama hampir 5 tahun ini, Arief mencatat semua strategi yang sudah dilakukan dan dibacakan di setiap Rapim. Namanya CEO Message dan itu bisa di searching, banyak website yang meng-upload CEO message-nya, termasuk di www.kemenpar.go.id.

Menurut Arief, ke depan go digital itu sebuah keniscayaan, cepat atau lambat akan terjadi.

"Kita boleh tidak percaya, secara statistik memang ada 30% yang tidak percaya dengan digital. Tetapi berangsur-ansur akan hilang, dan menjadi orang lama yang hidup di era baru. Orang konvensional yang hidup di era digital, betapa susahnya itu. Yang terbaik adalah kita menjemput masa dan berdamai dengan teknologi digital," tuturnya.

Simak Video "Ubud Akan Jadi Percontohan Destinasi Kuliner Kelas Dunia "
[Gambas:Video 20detik]
(ega/ega)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA