Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 21 Okt 2019 15:45 WIB

TRAVEL NEWS

Sejarah! Penerbangan Nonstop Nyaris 20 Jam Rampung Dilakukan

Putu Intan Raka Cinti
detikTravel
Foto: Dok. Qantas
Foto: Dok. Qantas
Jakarta - Maskapai Qantas mencatatkan sejarah setelah uji coba penerbangan nonstop nyaris 20 jam dengan rute New York-Sidney rampung dilakukan.

Menurut AP, Boeing 787 Dreamliner mendarat di Sydney pada hari Minggu (20/10/2019) pagi setelah mengudara nonstop selama 19 jam dan 16 menit -- durasi terlama di dunia.

"Ini adalah salah satu penerbangan pertama bersejarah dalam dunia aviasi. Saya berharap, penerbangan ini dapat menjadi 'cuplikan' dari layanan reguler di masa mendatang yang dapat mempercepat perjalanan setiap orang dari satu sisi dunia ke sisi yang lain," kata Qantas Group CEO Alan Joyce saat mendarat di Sidney, sebagaimana rilis pers yang diterima detikcom.

Sejarah! Penerbangan Nonstop Nyaris 20 Jam Rampung DilakukanFoto: Dok. Qantas

Dengan hasil itu, Qantas sekaligus merampungkan penerbangan komersial nonstop pertama dari New York ke Sydney, yang dilakukan untuk menganalisis efek dari penerbangan jangka sangat panjang terhadap efek lelah dan jetlag penumpang.

"Penerbangan berjalan sangat lancar. Seiring berlalunya malam, angin sakal sempat menguat dan melambatkan perjalanan. Namun, ini sudah menjadi bagian dari skenario yang kami antisipasi. Kendati lamanya jangka waktu kami mengudara, kami tetap mampu mengoptimalkan jalur perjalanan untuk beradaptasi dengan cara yang terbaik terhadap segala kondisi," ucap Kapten Qantas Sean Golding, yang memimpin jajaran empat pilot yang mengoperasikan penerbangan tersebut.

Penerbangan yang disertai eksperimen ini membawa 49 penumpang dan awak kabin. Beberapa aspek yang dinilai antara lain pemantauan gelombang otak, kadar melatonin dan kewaspadaan pilot, serta kelas-kelas olahraga bagi para penumpang.

Sejarah! Penerbangan Nonstop Nyaris 20 Jam Rampung DilakukanFoto: Dok. Qantas

Data dari eksperimen ini akan digunakan untuk menentukan rotasi kerja awak kabin dan meningkatkan pelayanan pelanggan pada penerbangan jarak jauh.

Selain itu dalam perjalanan ini juga dilakukan penyesuaian pada penerangan kabin dan penyajian makanan. Joyce menjelaskan, penerbangan ini diawali dengan makan siang dan membiarkan lampu tetap menyala 6 jam pertama untuk menyesuaikan waktu di tempat tujuan. Hal ini dilakukan sesuai arahan pakar dan peneliti medis yang bermitra dengan Qantas untuk mengurangi jetlag.

Uji coba penerbangan ini telah terbukti lebih cepat dari penerbangan biasa. Joyce mengatakan bila pada penerbangan reguler rute New York-Sidney dengan sekali transit, pesawat baru lepas landas 3 jam sebelum penerbangan langsung ini dilakukan. Akan tetapi, penerbangan langsung justru datang lebih awal daripada penerbangan reguler yang telah lebih dulu berangkat itu.




"Ini berarti kita menghemat waktu secara signifikan dengan tidak melakukan transit," kata Joyce.

Usai keberhasilan uji coba ini, dua penerbangan uji coba lainnya telah dijadwalkan yakni penerbangan London-Sidney di bulan November dan satu lagi penerbangan New York- Sydney di bulan Desember. Rangkaian proyek uji coba ini disebut sebagai Project Sunrise. Sementara itu, keputusan terkait Project Sunrise diharapkan dapat dicapai pada akhir tahun depan.




Simak Video "Kabut Asap Sebabkan Penerbangan ke Natuna Terganggu"
[Gambas:Video 20detik]
(krs/sym)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA