Aktivitas perburuan di resor tersebut sempat jadi sorotan aktivis satwa yang menilai adanya bentuk penyiksaan terhadap satwa. Video aktivitas perburuan itu pun viral di media sosial, dengan aktivis menyebut aktivitas di resor tersebut sebagai "Liburan Dari Neraka".
Pengelola CHR pun bereaksi atas video yang diunggah pemilik akun Instagram @animalstoriesindonesia, yang dibagikan ulang dari @flight_protectingbirds itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mereka pun menyebut, berburu sebenarnya hanya salah satu fasilitas saja karena sebenarnya core business dari CHR adalah wisata perkebunan atau Agro Tourism.
"Kalau dibilang nyiksa (hewan) kita berburu bukan untuk menyiksa binatang. Jadi bukan nembak lalu kita diemin kita tinggal tapi konsep kita berburu untuk dimakan. Jadi di Cikidang orang berburu lalu bisa dimasak di restoran kita," kata Bobby Handoko Owner CHR melalui sambungan telepon dengan detikcom beberapa waktu lalu.
Bobby menjelaskan resort telah dibuka sejak tahun 2005, ide itu muncul pada tahun 90 an setelah diberi akses wisata berburu oleh pemerintah daerah di Jambi untuk mengelola kawasan hutan di wilayah tersebut.
"Konsepnya saat itu tidak seperti yang di Cikidang ada hotel dan segala macam, kalau di sana hanya di hutan lalu kita kelola. Itu tujuannya untuk mengatur perburuan disana kita manage, kan sebenarnya aktivitas perburuan sudah biasa di Sumatera, Kalimantan. Kita diminta memanage disana untuk membatasi ilegal logging, pemotongan kayu secara ilegal. Maksudnya ketika ada banyak manusia di sana berburu, ilegal loging akan berkurang," jelasnya.
CHR sendiri terinspirasi dari aktivitas di Jambi tersebut, berkonsep 'one stop adventure' karena menurut mereka banyak orang Indonesia yang hoby berburu.
"Pengalaman ketika kecil, saya sering ikut berburu dengan Budi Handoko ayah saya. Konsepnya supaya pemburu-pemburu ini bisa menyalurkan hoby dengan membawa serta keluarganya. Karena perburuan di hutan mereka itu (pemburu) susah, pakai tenda, mandi di kali itu yang saya alami ketika kecil makanya kita buka lokasi ini dengan konsep One Stop Adventure," jelasnya.
Bobby juga menjabarkan aktivitas perburuan seperti yang diterapkan di CHR sudah lebih dulu ada di Afrika, New Zealand, Australia dan Amerika. Regulasinya juga diatur oleh pemerintah agar perburuan liar dikurangi, hewan-hewan liar yang dilindungi terjaga habitatnya.
"Ditempat kita ada kelinci, bebek, ayam, kambing, babi hutan. Orang datang nembak. Sama seperti mancing, dapat ikan lalu dimakan. Debagai informasi dan edukasi juga karena selama ini kurang di munculkan. Regulasinya, hewannya apa saja, siapa saja komunitasnya. Karena misalnya di Darwin, pemburu dari seluruh dunia datang untuk hanya untuk nembak banteng dan kerbau," paparnya.
"Kalau disuruh tutup dasar hukumnya apa karena kami tidak melanggar hukum? Kami juga membayar pajak, berburu ini ada pajaknya. Jadi kalau orang nembak liar pemerintah setempat enggak dapat hasil apa-apa," tambahnya.
Bobby juga menjelaskan, CHR adalah peran penting. Semenjak lokasi tersebut dibuka telah menyumbang keran wisatawan untuk masuk dan berwisata ke kawasan tersebut.
"Dan yang paling penting kalau dulu wisata berburu tidak dibuka, mungkin perkembangan daerah Cikidang tidak akan seramai sekarang sampai mau dijadikan Kawasan Ekonomi Kreatif segala," tandasnya.
(wsw/wsw)












































Komentar Terbanyak
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun
Tangis Istri Pelatih Valencia Pecah, Suasana Doa Bersama Jadi Penuh Haru
Sebelum Bikin Patung Macan Putih Gemoy, Seniman di Kediri Sempat Mimpi Aneh