Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 07 Des 2019 23:35 WIB

TRAVEL NEWS

Dikira Sudah Meninggal, Pendaki Gunung Ini Hidup Lagi

Elmy Tasya Khairally
detikTravel
Pegunungan Pyrenees (iStock)
Pegunungan Pyrenees (iStock)
Barcelona -
Pendaki wanita asal Inggris mengalami hipotermia akut. Ajaibnya dia bangun kembali setelah jantungnya berhenti berdetak selama 6 jam!

Sebelum mendaki, sebaiknya traveler memeriksakan kesehatan terlebih dahulu. Jangan sampai terjadi hal-hal yang tak diinginkan selama pendakian.

Seperti yang dialami oleh pendaki wanita berumur 34 tahun ini. Jantungnya berhenti selama lebih dari 6 jam akibat hipotermia. Tapi ajaibnya, wanita ini bangun kembali.

Dirangkum oleh detikcom dari berbaagai sumber, Audrey Mash berangkat mendaki bersama suaminya, Rohan Schoeman. Mereka terjebak dalam badai salju selama perjalanan menuju pegunungan Pyrenees di Spanyol Utara.

Audrey Mash bersama suaminya, Rohan Schoeman (Audrey Schoeman/facebook)




Audrey menderita hipotermia parah dan detak jantungnya berhenti. Secara teknis dia sudah meninggal dunia.

Audrey ditemukan bersama suaminya oleh petugas kebakaran dalam keadaan dingin dan detak nadinya berhenti Namun ketika dibawa ke rumah sakit Vall d'Hebron Barcelona, wanita ini hidup kembali.

Setelah sadar, dia mengaku tidak mengingat apapun saat diselamatkan dari gunung Vall de Nuria yang dekat dengan perbatasan Prancis itu.

"Aku tidak ingat apapun tentang akhir pekan itu," kata Audrey.

Dokter yang merawat Audrey, Dr Eduard Argudo mengatakan Audrey telah mengalami hal yang luar biasa. Hipotermia ekstrem justru telah menyelamatkannya.

"Ini adalah kasus luar biasa pada skala global, hampir tidak ada kasus orang yang hidup kembali setelah jantung mereka berhenti berdetak begitu lama," ungkap Eduard.

Saat mendaki bersama suaminya, suhu tubuh Audrey mulai menurun. Schoeman mengaku istrinya mulai mengatakan hal-hal yang aneh kemudian hilang kesadaran ketika mereka mencoba merangkak turun ke tempat yang lebih aman. Setelah 1 jam, denyut nadi Audrey tidak ditemukan.

Petugas kebakaran akhirnya menemukan pasangan ini pada pukul 3.40 sore hari setelah Schoeman mengirim foto lokasi mereka. Suhu tubuh Audrey hanya mencapai 18 derajat Celcius ketika diterbangkan dari gunung, padahal suhu tubuh normal mencapai 37 derajat Celcius.

Ketika sampai di rumah sakit pukul 5.44 sore, jantungnya tidak berdetak, ginjal dan paru-parunya juga tidak berfungsi. Namun, dokternya percaya kalau Audrey masih bisa bangun kembali karena hipotermia ekstrem memperlambat proses suhu normal tubuh.



Dokter mencoba membangunkan Audrey dengan mesin khusus jantung dan paru-paru untuk menjaga oksigen masuk ke arteri sambil menghangatkan darahnya untuk menaikkan suhu tubuh Audrey hingga 30 derajat C.

Setelah itu, dokter juga mencoba memulihkan jantungnya lagi dengan defibrillator. Tetapi tidak berhasil.

Tapi, ketika pukul 21.46 malam, para medis mencoba memulihkannya lagi dan jantungnya mulai berdetak sendiri. Audrey kehilangan banyak darah pada malam itu karena jantungnya tidak berdetak dalam waktu yang lama.

Dia dibius selama 48 jam untuk pemindaian seluruh tubuh, tujuannya adalah untuk melihat apakah otaknya telah rusak karena masa henti jantung yang lama. Beruntungnya, setelah tiga hari Audrey bangun dan berbicara.

Untungnya Audrey tidak mengalami kerusakan otak meskipun jantungnya berhenti berdetak dalam waktu yang lama. Salah satu faktor yang menyebabkan dia pulih adalah penyakit hipotermianya itu sendiri.

"Hipotermia hampir menyebabkan kematian Audrey, namun pada saat yang sama, penyakit itu juga menyelamatkannya," kata sang dokter, Argudo.

Jika dia menderita serangan jantung dengan waktu lama seperti ini dengan suhu tubuh normal, kita dapat memastikan kematiannya sekarang. Tapi kami tahu, dengan hipotermia yang begitu parah, dia memiliki peluang untuk selamat," kata Argudo.


Simak Video "Rawan Hipotermia saat Banjir, Begini Cara Mencegahnya"
[Gambas:Video 20detik]
(elk/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA