Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 04 Jan 2020 22:40 WIB

TRAVEL NEWS

Kebakaran Hutan lalu Kebanjiran, Ular pun Ikut Jadi Korban

Syanti Mustika
detikTravel
Ular piton ditemukan di tengah banjir di Kota Bekasi (Foto: Dok. Istimewa)
Jakarta - Ular lagi-lagi jadi pembicaraan. Dulu hewan melata berdarah dingin ini sempat viral setelah ikut menjadi korban kebakaran hutan. Kini ular juga menjadi korban kebanjiran.

Masih ingat September 2019? Saat itu viral gambar ular raksasa yang menjadi korban kebakaran hutan di Kalimantan. Tidak hanya itu, ular-ular lain juga ditemukan hangus terbakar. Hal ini memancing para pecinta reptil, salah satunya Panji Petualang, berkomentar tentang ular dan bencana kebakaran hutan.

"Miris ya, sedih karena hutan sangat kita butuhkan untuk banyak hal seperti udara, fungsinya sangat vital bagi manusia. Mirisnya adalah faktor penyebab kebakaran adalah pembukaan lahan dengan cara bakar. Intinya tak akan mudah memulihkan fungsi hutan," ungkapnya saat dihubungi detikcom pada September 2019 lalu.

Ular yang terpanggang di kebakaran hutanUlar yang terpanggang di kebakaran hutan Kalimantan (Facebook/Johan Michael Median Pasha)

Berkaitan dengan hal itu, ia berharap agar kepedulian terhadap lingkungan menjadi lebih besar di masa depan. Dia juga mengungkapkan bahwa ular sangat berperan penting dalam pengendalian hama yang mengganggu manusia.

"Ular piton atau ular besar sangat berperan penting dalam mengendalikan hewan hama seperti babi dan kera. Bayangkan saja, babi sekali melahirkan bisa mengeluarkan 11 ekor anak. Nah itulah peran ular memakan babi yang sangat mudah sekali berkembangbiak," ungkap Panji.


Panji juga mengatakan bahwa ular besar seperti sanca kembang yang berukuran 8 meter bisa memakan sampai tiga ekor babi dalam seminggu. Sedangkan untuk hewan-hewan lain yang berukuran kecil, ular ini bisa menelan puluhan.

"Dalam seminggu, ular sanca yang berukuran 8 meter saja mampu makan 3 ekor babi dalam seminggu. Sedangkan hewan kecil seperti kera dan burung itu bisa puluhan. Jika ular tidak ada, maka populasi hewan seperti babi, kera, rusa dan kijang akan membludak," jelasnya.

Ular yang berenang digenangan banjirUlar yang berenang digenangan banjir Foto: 20detik


Di awal tahun 2020, banjir melanda sejumlah wilayah di Jabodetabek. Tidak hanya sampah saja yang dibawa arus. Peralatan rumah tangga, juga mobil, turut hanyut. Di antara itu semua, kehadiran sejumlah ular juga mencuri perhatian -- apalagi sebelumnya juga ada penampakan ular di sejumlah wilayah Indonesia.

Warga yang terkena banjir mendapati ada ular berenang di genangan air. Puluhan ular pun juga dievakuasi tim penyelamat di sela-sela genangan banjir. Dan juga telah ada kasus warga yang digigit ular saat banjir. Kehadiran ular saat banjir ini sejatinya punya kaitan. Dapat dikatakan bahwa ular, seperti halnya manusia, juga menjadi korban dari derasnya banjir.

Dari rilis yang dikirim oleh Yayasan Sioux Ular Indonesia, Jumat (3/1/2020), ular disebut sebagai hewan berdarah dingin yang butuh suhu panas dari Matahari untuk menstabilkan tubuhnya. Jadi secara alamiah, ular akan keluar dari persembunyiannya untuk berjemur dan mencari hawa panas.

Maka ketika hujan terus mengguyur dan genangan air tidak tersalurkan dengan selayaknya pada satu wilayah, atau dengan kata lain hadir "banjir", ular mau tidak mau harus merayap keluar dari sarang untuk mencari kehangatan karena suhu tubuhnya menurun.

Ular akan mengikuti arus hingga mendapatkan tempat sembunyi baru dan atau terdampar. Di saat ada sinar Matahari, ular akan bergerak mencari sumber itu untuk menaikkan suhu tubuhnya. Di sini kita perlu hati-hati bertemu ular yang sedang berjemur. Adapun jam ular berjemur adalah pukul 08.00 WIB-14.00 WIB.

Ular piton di banjir BekasiUlar piton di banjir Bekasi (Foto: Dok. Istimewa)


Perlu traveler pahami, meski ular sangat pandai berenang dan memanjat, tapi ular tidak bisa bertahan apabila tersapu hujan deras, aliran saluran drainase yang meluap, selokan got, dan sungai dengan aliran deras. Cara mereka menyelamatkan diri adalah dengan menyandarkan diri pada batang pohon ranting atau benda lain yang hanyut.

Selain itu, untuk bertahan ular juga akan mencari sumber panas untuk menghangatkan tubuhnya. Ular juga bisa stres karena dia kedinginan setelah hanyut dan butuh panas untuk meningkat suhu tubuhnya. Ular pun serba salah saat bertahan hidup saat banjir. Dia bisa mati kedinginan bila tidak muncul ke permukaan dan mendapatkan pertolongan. Di sisi lain, kehadirannya juga bisa mendatangkan ancaman buat diri sendiri, karena manusia toh umumnya takut melihat ular.

Jadi, banjir tak hanya merugikan manusia. Hewan pun demikian, termasuk ular. Ia bisa hanyut terbawa arus dari sungai atau kebun kosong dan tetiba sampai di pemukiman warga, yang bisa pula menjadi akhir dari riwayatnya. Setelah ikut jadi korban kebakaran hutan, kini ular juga turut jadi korban kebanjiran.
















Simak Video "Anies Hentikan Program Toa untuk Peringatan Dini Banjir!"
[Gambas:Video 20detik]
(sym/krs)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA