Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 06 Jan 2020 08:30 WIB

TRAVEL NEWS

Ayah Ajak Putranya Keliling Mongolia agar Lepas dari Kecanduan Gadget

Putu Intan Raka Cinti
detikTravel
Ayah dan berkeliling Mongolia (Foto: Dok. Jamie Clarke/BBC)
Ayah dan berkeliling Mongolia (Foto: Dok. Jamie Clarke/BBC)
Jakarta - Kecanduan gadget ternyata bisa diatasi dengan traveling. Contoh, seperti yang dilakukan ayah ini pada putranya.

Seorang ayah dan anak laki-lakinya, baru-baru ini berkelana keliling Mongolia dengan tujuan yang unik. Sang ayah, Jamie Clarke ingin anaknya, Khobe untuk lepas dari kecanduan ponsel.

Clarke merupakan seorang pemain ski, pendaki gunung, dan penjelajah yang merasa telah kehilangan kedekatan dengan putranya. Pasalnya sang anak yang berusia 18 tahun itu sehari-hari lebih asyik bermain ponsel di rumah ketimbang menghabiskan waktu bersama keluarga.

Pria asal Calgary, Alberta ini menyalahkan dirinya atas hal tersebut. Clarke mengatakan kalau dulu ia juga gemar bermain game di ponsel Blackberry-nya bersama Khobe ketika putranya itu masih kecil. Mungkin itulah yang menyebabkan si anak jadi kecanduan ponsel.

"Jika ada kecanduan yang kita miliki saat ini sebagai individu dan sebagai keluarga, kita (orang tua) mengabadikannya," kata Clarke sebagaimana diwartakan BBC.

"Ponsel adalah barang yang keren tapi kami mulai merasa kalau ponsel itu mengontrol kami, bukan sebaliknya."

Tanda-tanda Khobe kecanduan main ponsel ini dirasakan Clarke ketika ia mengajak keluarganya merayakan ulang tahunnya yang ke-50 di sebuah penginapan ski selama seminggu. Di sana tidak ada wi-fi dan sinyal.

Ayah Ajak Putranya Keliling Mongolia agar Lepas dari Kecanduan GadgetFoto: Dok. Jamie Clarke/BBC

"Sebelumnya, saya tidak pernah merasakan seminggu tanpa ponsel," kata Khobe.

"Bagi saya itu sangat aneh," lanjutnya.

Khobe mengaku, saat itu dia marah dan ingin pergi. Ia juga sedih karena tanpa Snapchat atau Instagram, dia tidak tahu kabar teman-temannya.

Sejak saat itu, Clarke menyadari teknologi telah mempermainkan keluarganya dan ia ingin untuk memperbaiki keadaan itu.

Terlintas ide untuk membawa Khobe jalan-jalan ke Mongolia dengan naik motor. Ini merupakan keinginannya sejak lama dan kebetulan, putranya telah cukup usia untuk diajak berpetualang.

Ia kemudian mengajukan idenya itu pada Khobe namun ternyata tak semudah itu disetujui sang anak.

"Saya langsung menolaknya," kata Khobe.

"Tetapi hal itu berubah menjadi ide yang menyenangkan...rencana itu menjadi persiapan sehingga sangat menyenangkan untuk melakukannya."

Khobe akhirnya mendapatkan izin mengemudi motor dan ayah-anak ini berlatih untuk mempersiapkan perjalanan panjang mereka. Ayahnya lebih mudah berlatih karena ia sudah dua kali mendaki Everest. Lain dengan Khobe yang sama sekali tidak pernah mendaki gunung sehingga Khobe harus berlatih keras.

Mereka berdua akhirnya memulai petualangan itu pada 28 Juli 2019 lalu. Selama satu bulan mereka telah menempuh perjalanan sejauh 2.200 kilometer mengelilingi Mongolia menggunakan motor, kuda, dan unta.

Meskipun selama perjalanan itu banyak spot yang instagramable, keduanya sama sekali tak berniat untuk mempostingnya sampai mereka menyelesaikan perjalanan itu.

Selama melakukan perjalanan, Khobe mengatakan, jauh dari ponselnya adalah sebuah tantangan.

"Saya rasa, sepanjang waktu yang saya pikirkan adalah merindukan ponsel," katanya.

"Kamu akan merasa betapa segalanya membosankan. Ketika saya bosan, saya biasanya akan menonton Youtube atau Netflix. Sekarang apa yang akan saya lakukan, melihat bintang dan tidak melakukan apapun?"

Tetapi di balik kesulitan itu, Khobe mendapatkan sesuatu yang berharga. Ia bisa lebih mengenal ayahnya. Hal ini karena mereka menghabiskan waktu bersama di jalan, di tenda, atau ketika memasak yang semakin mempererat hubungan keduanya. Khobe pun menempukan sisi unik dari ayahnya.

Ayah Ajak Putranya Keliling Mongolia agar Lepas dari Kecanduan GadgetFoto: Dok. Jamie Clarke/BBC

"Saya terkejut ketika ayah sedang jauh dari lingkungan pekerjaan dan keluarga, ia bertingkah seperti anak seusia saya," ceritanya.

Sementara itu, Clarke justru takjub dengan betapa dewasanya Khobe ketika mereka tidak berada dalam hubungan ayah-anak pada umumnya.

"Perjalanan ini membantu saya melihat Khobe dengan cara yang baru. Saya dulu melihatnya sebagai anak kecil yang selalu meninggalkan jaketnya di meja, tidak membersihkan sisa makanannya," katanya.

"Lalu saya melihatnya menjadi pria muda, dan saya takjub dengan bagaimana ia bisa bertahan di bawah tekanan."

Setelah perjalanan ini, Clarke berencana untuk mencoba mengaplikasikan berbagai pelajaran berharga yang mereka dapatkan di kehidupan sehari-hari.

"Saya sadar, teknologi itu bernilai dan berguna, dan dia (Khobe) menyadari kalau itu menyita waktu. Dan mungkin kami berdua perlu mengingatkan diri kami sendiri siapa yang memegang kontrol, kami atau aplikasi ponsel," ujarnya.

Khobe juga menambahkan, ia ingin menjadikan teknologi sebagai sesuatu yang ingin dia lakukan, bukan yang harus ia lakukan.

"Ketika kamu ada di sebuah kelompok yang seharusnya melakukan interaksi sosial, tetapi semuanya sibuk dengan ponselnya, saat itulah saya mengubah kebisaan saya," terangnya.

"Karena tidak sopan saat tidak memberikan perhatian penuh pada orang lain," tutupnya.

Di sisi lain, Caroline Knorr, editor pengasuhan anak dari organisasi non-profit Common Sense Media mengatakan, jika ingin mempererat ikatan orang tua dan anak tidak hanya bisa dilakukan dengan keliling dunia seperti yang dilakukan Clarke dan Khobe.

Cara lain adalah dengan bermain bersama, pergi jalan-jalan, atau menonton film. Selain itu, penting bagi orang tua untuk menjadi model perilaku yang baik dalam bermain ponsel atau gadget agar anak-anak juga tidak menggunakannya secara negatif.

Knorr juga mengatakan penting bagi orang tua untuk tidak menjelekkan teknologi atau anaknya ketika mereka sedang menggunakannya.

"Perilaku itu (anak bermain gadget) merupakan bagian yang normal dari tahap perkembangan anak dimana anak mulai tertarik pada budaya populer ketimbang waktu bersama keluarga."

Namun Knorr tetap menghimbau para orang tua untuk mengawasi penggunaan aplikasi sosial media sang anak. Karena sosial media itu memang didesain agar penggunanya berlama-lama mengaksesnya dengan tujuan agar mereka mendapatkan uang dari pengiklan.
Halaman
1 Tampilkan Semua

(msl/msl)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA