Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 04 Mar 2020 15:04 WIB

TRAVEL NEWS

Curhat Agen Travel: Sudah Jatuh Tertimpa Tangga, Ancaman PHK

Infografis Turis Wisman Januari 2020 menurut data Badan Pusat Statistik.
Ilustrasi turis Foto: Fuad Hasim
Jakarta -

Perusahaan agen travel ikut terhantam imbas virus Corona, perusahaan melemah karena makin sedikit orang yang mau berwisata. Ujungnya, karyawan agen travel pun terancam PHK karena melemahnya perusahaan.

Sekjen Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Pauline Suharno mengatakan beberapa agen travel sudah mempertimbangkan adanya pemutusan hubungan kerja alias PHK karyawannya apabila kondisi tidak membaik dalam waktu dekat.

"PHK sedang dipertimbangkan jika kondisi tidak membaik dalam waktu dekat. Prediksinya akan memburuk, apalagi sudah mau mulai Ramadan, which is musim sepi," kata Pauline kepada detikcom, Rabu (4/3/2020).

Meski belum ada yang melakukan PHK, menurut Pauline perusahaan agen travel sudah mulai memberikan beberapa karyawan cuti tanpa tanggungan alias unpaid leave imbas sepinya orang mau berpergian. Perusahaan juga sudah membatasi penambahan karyawan.

"Yang sudah dilakukan beberapa travel agent itu kasih unpaid leave. Terus tidak ada lagi pengangkatan karyawan yang masih kontrak, lalu tidak ada recruitment (karyawan) baru," sebut Pauline.

Waktu kerjanya pun sudah mulai dikurangi, yang biasanya hari Sabtu masih harus masuk beberapa agen travel sudah meliburkan karyawannya.

"Terus Sabtu kantor diliburkan. Udah nggak ada shift tambahan juga sekarang," kata Pauline.

Sudah Jatuh Tertimpa Tangga, 80% Paket Wisata Batal!

Kondisi ini semakin parah setelah virus Corona menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. "Ibaratnya sudah jatuh tertimpa tangga. Tadinya kami masih mengharapkan menjual destinasi-destinasi lain di luar China, tapi ternyata semakin hari semakin meluas ke mana-mana," ungkap Pauline.

Pauline menyebut hal itu membuat rugi agen travel karena hingga kini minat orang berpergian semakin turun. Akibatnya penurunan penjualan paket wisata pun ikut merosot.

"Ini membuat usaha travel jadi merugi akibat menurunnya minat orang bepergian baik untuk business trip, leisure, ziarah. Penurunan penjualan yang sudah 60%, diperkirakan bisa lebih besar lagi. Angka pembatalan penumpang sudah naik 80% dan akan terus bertambah," kata Pauline.

Beberapa paket yang berhasil dijual pun banyak yang dibatalkan. "Angka pembatalan penumpang sudah naik 80% dan akan terus bertambah," jelas Pauline.

Belum lagi menurut Pauline, beberapa larangan berpergian pun sudah diberlakukan. Belum lagi kewajiban karantina yang harus dilalui masyarakat sepulang dari luar negeri membuat orang semakin tidak ingin berpergian.

"Belum lagi peraturan perusahaan atau sekolah yang melarang staf atau muridnya masuk kerja maupun sekolah setelah pulang bepergian. Harus home quarantine 14 hari setelah tiba di Indonesia," sebut Pauline.

Insentif Pemerintah Kurang Tepat

Sejauh ini upaya insentif yang diberikan pemerintah seperti memberikan diskon tiket justru kurang tepat. Insentif hanya diberikan pada aspek pemasaran saja. Dengan semakin luasnya wabah virus corona masyarakat akan tetap khawatir dan mengurungkan keinginannya untuk berpergian. Apalagi virus ini sudah sampai menjangkit warga negara Indonesia di sekitar Jakarta.

"Insentif pemerintah itu untuk marketing, sedangkan sekarang ini harga seberapa murah pun belum bisa membangkitkan minat orang untuk bepergian. Apalagi dengan adanya wabah CoVid19 di Jakarta semakin membuat khawatir," kata Pauline.

Menurut Pauline, pengusaha pariwisata apalagi agen travel lebih membutuhkan keringanan beban operasional.

Menurutnya, di beberapa negara seperti Singapura, Malaysia, dan Hong Kong justru memberikan keringanan operasional perusahaan. Mulai dari pemotongan pajak penghasilan dan properti, penurunan bunga kredit bank khusus untuk industri pariwisata, penurunan tarif dasar listrik, bantuan tunai, kemudahan pinjaman modal untuk UMKM, hingga potongan biaya sewa kantor.

"Belum terlihat rencana pemerintah untuk meringankan beban pengusaha travel. Di mana negara-negara lain sudah melakukan hal tersebut," kata Pauline.

Pauline menyebut saat ini perusahaan agen travel sudah kewalahan menanggung beban operasional di tengah sepinya masyarakat yang mau berpergian.

"Sementara anggota kami masih harus dibebani biaya operasional seperti sewa kantor, bunga bank, gaji karyawan, pajak, listrik, telepon, dan sebagainya," ungkap Pauline.



Simak Video "Jepang Minta Penyelidikan Tambahan soal Asal Virus Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(ddn/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA