Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 12 Mar 2020 15:47 WIB

TRAVEL NEWS

Sejarah Glenmore, Jejak Eropa yang Tersembunyi di Banyuwangi

Erwin Dariyanto
detikTravel
Stasiun Kereta Api Glenmore, di Banyuwangi yang dibangun sejak awal abad 20
Stasiun Glenmore di Banyuwangi, Jawa Timur. Dibangun awal abad 20 (Foto: Istimewa)
Banyuwangi -

Sejak kecil, Arif Firmansyah terpaksa harus memendam rasa penasaran akan nama Kecamatan Glenmore, tempat dia dilahirkan dan menempuh pendidikan hingga selesai Sekolah Dasar. Nama yang aneh. Maklum nama salah satu kecamatan di Banyuwangi, Jawa Timur itu beda jauh dengan daerah di sekitarnya. Seperti: Sugihwaras, Krikilan, Margomulya atau pun Bumiharjo.

Semua nama daerah di Banyuwangi umumnya mengandung unsur bahasa Jawa. Sementara Glenmore, tak ada dalam kamus bahasa Jawa, bahasa Indonesia, bahasa Belanda juga Bahasa Inggris.

Tak hanya Arif, semua rekan sejawatnya satu kampung dan juga banyak orang dari daerah lain heran bahwa di Banyuwangi ada kecamatan dengan nama Glenmore. Bahkan ketika Arif, lulusan Universitas Muhammadiyah Jember tahun 1999 ini menuliskan tempat lahir di Kecamatan Glenmore ada yang menyangka itu adalah daerah di luar negeri.

Bertahun-tahun Arif dan rekan sejawat serta warga di Glenmore memendam rasa penasaran akan nama daerah mereka. Hingga akhirnya tahun 2015 lalu, Arif yang mantan wartawan di sejumlah media ini bersama seorang rekannya M Iqbal Fardian bertekad mengungkap misteri nama Glenmore di Banyuwangi.

Tekad keduanya kian besar ketika sejumlah turis asing yang pernah melintas di Bumi Blambangan kaget saat mendengar ada nama Glenmore di Banyuwangi. Salah satunya adalah Elisabeth yang pernah melihat papan nama Kecamatan Glenmore saat dalam perjalanan Banyuwangi - Jember. Perempuan yang biasa dipanggil Lizzy itu heran, lantaran nama kecamatan itu sama dengan nama daerah tempatnya tinggal yakni di Scotia, Kanada.

Data-data pun dikumpulkan dari penelusuran di internet hingga mencari ke perpustakaan di Leiden, Belanda dan Tropenmuseum di Amsterdam. Data-data yang ditemukan kemudian dilengkapi dengan wawancara saksi hidup sebagai pendukung.

Hasilnya, pada akhir 2019 lalu terbitlah buku berjudul, 'Glenmore: Sepetak Eropa di Tanah Jawa'. Buku setebal 116 halaman ini begitu kaya informasi mutakhir dan menarik. Data risetnya begitu kuat, ditampilkan dengan gaya tulisan bertutur sehingga memikat dan tidak membosankan.

Dari penelusuran Arif dan Iqbal, di dunia ini ada 15 tempat menggunakan nama Glenmore. Di Amerika Serikat ada 9 tempat menggunakan nama Glenmore yang tersebar di negara bagian Wisconsin, West Virginia, Virginia, Ohio, New York, Maryland, Louisiana, Kentucky dan Georgia.

Di Irlandia ada di 4 tempat, yakni: Roscommon Town, Kilkenny Town, Kildare Town dan Clare Town. Satu di Inggris yaitu di Council Area Skotlandia. Ada juga di Australia tepatnya di area suburban Sydney. Di Indonesia, hanya ada satu yakni di Kabupaten Banyuwangi , Jawa Timur.

"Dan semua daerah yang namanya Glenmore itu punya kesamaan, kontur daerahnya berbukit-bukit," saat berbincang dengan detikcom beberapa waktu lalu.

Dalam bukunya, Arif dan Iqbal tak langsung tak menjelaskan asal muasal nama Glenmore. Keduanya memulai dengan memaparkan sejarah sejumlah daerah di Banyuwangi pada abad ke-7 yang dulunya merupakan daerah Kerajaan Blambangan. Pada bagian berikutnya, dipaparkan sejarah dari era Blambangan hingga masa Kolonial Belanda.

Di masa Kolonial Belanda inilah sejarah Glenmore dimulai. Semua bermula pada tahun 1906 saat pemerintah Belanda mengeluarkan kebijakan mengundang sejumlah investor Eropa untuk membuka perkebunan di wilayah Banyuwangi. Pengusaha Eropa pun datang ke Banyuwangi. Salah satunya adalah Ros Taylor dari Skotlandia.

Sejarah Glenmore, Jejak Eropa yang Tersembunyi di BanyuwangiPara pekerja perkebunan milik Ros Taylor di Glenmore pada awal abad 20 (Foto: Istimewa)

Dia membeli lahan di sebelah selatan lereng Gung Raung seluas 163.800 hektare dari pemerintah Belanda. Pada 2 Februari 1910, Ros Taylor memulai kegiatan usaha perkebunannya. Untuk menunjang kegiatan bisnisnya dia juga membangun, Glenmore Estate.

Pemerintah kolonial Belanda kemudian membangun infrastruktur di Glenmore. Seperti stasiun kereta api, kantor pos, rumah sakit juga hotel. "Semua bangunan itu masih ada sampai sekarang," kata Arif.

Sejarah Glenmore, Jejak Eropa yang Tersembunyi di BanyuwangiPembangunan jembatan kereta api di Kali Takir, Glenmore, Banyuwangi, Jawa Timur pada awal abad 20 (Foto: Istimewa)

Kemajuan di Glenmore mengundang banyak orang-orang berbondong-bondong mendatanginya. Tak hanya dari Jawa Timur, tetapi juga dari Solo, Magelang, dan Yogyakarta. Di daerah inilah pada masa itu bertemu bangsawan Mangkunegaran dengan Konglomerat Eropa. Tercatat di Glenmore pernah tinggal, cucu Sentot Prawirodirjo si Panglima Perang Pangeran Diponegoro yang membuat kisah dalam buku ini kian menarik.

Dari Glenmore di Banyuwangi pada awal abad ke-20, Belanda berhasil mengantongi bergulden-gulden hasil perkebunan. Hingga saat ini jejak-jejak perkebunan peninggalan Belanda itu masih bisa dinikmati. Glenmore di Banyuwangi, menjadi tempat wisata sejarah yang menarik.

Sejarah Glenmore, Jejak Eropa yang Tersembunyi di Banyuwangi Buku Glenmore: Sepetak Eropa di Tanah Jawa (Foto: Erwindar/detikcom)


Simak Video "Sebentar Lagi, Blak-blakan Bupati Banyuwangi"
[Gambas:Video 20detik]
(nwy/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA