Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 20 Apr 2020 19:40 WIB

TRAVEL NEWS

Inikah Akhir Cerita dari Kursi Tengah Pesawat?

Wahyu Setyo Widodo
detikTravel
Kursi pesawat berwarma biru
Foto: Ilustrasi kursi pesawat (iStock)
Jakarta -

Makin banyak maskapai di dunia yang melarang penggunaan kursi tengah pesawat untuk physical distancing. Inikah akhir cerita dari kursi tengah pesawat?

Physical distancing menjadi salah satu cara untuk menekan laju penyebaran virus Corona. Termasuk, di pesawat.

Salah satu caranya dengan menjaga jarak penumpang satu dengan yang lainnya. Kursi tengah pesawat pun dikorbankan dengan mengosongkannya.

Maskapai asal Inggris, EasyJet, salah satu yang mengambil langkah itu. Maskapai ini mengatakan pengosongan kursi tengah sifatnya sementara dan akan jadi bagian dari paket strategi untuk melindungi traveler.



"Berdasarkan diskusi kami dengan EASA (Badan Keamanan Penerbangan Uni Eropa), kemungkinan ada cara baru untuk beroperasi. Cara itu termasuk membiarkan kursi tengah kosong untuk menciptakan lebih banyak ruang bagi penumpang," kata juru bicara EasyJet seperti dikutip dari CNN Travel, Senin (20/4/2020).

Sementara itu, maskapai-maskapai di Negeri Paman Sam seperti Delta, Alaska, dan Spirit Airlines sudah meniadakan kursi tengah pesawat untuk dipesan traveler, yang tersedia hanya tinggal kursi jendela dan kursi bagian lorong saja.

Sementara itu, maskapai lain seperti American Airlines sudah memblok 50 persen dari kursi bagian tengah di pesawatnya, sambil terus memonitor perilaku penumpang yang naik penerbangan mereka.

"Tim kami juga akan memonitor secara ketat penerapan social distancing di antara para penumpang," kata American Airlines.

Penggunaan kursi tengah pesawat memang jadi sorotan di tengah masa pandemi Corona seperti sekarang. Banyak yang tidak setuju. Tapi di sisi lain, pihak maskapai bisa kehilangan banyak pemasukan apabila kursi tengah dihilangkan.

"Tidak dipenuhinya kursi pesawat akan sangat berpengaruh pada keuangan maskapai. Maskapai tidak bisa mendapat untung apabila mereka terbang dengan okupansi di bawah 80%," jelas Alexandre de Juniac, CEO IATA (International Air Transport Association).



Simak Video "Keren! Ada Bus Physical Distancing ala Jawa Tengah"
[Gambas:Video 20detik]
(wsw/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA