Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 17 Mei 2020 10:15 WIB

TRAVEL NEWS

Kemungkinan, Travel Fair Akan Ada Lagi Tahun 2021

Johanes Randy Prakoso
detikTravel
mega travel fair gancit
Ilustrasi travel fair (Bona/detikcom)
Jakarta -

Pandemi corona turut berdampak pada industri MICE dan travel fair. Melihat kondisi, travel fair disebut akan hadir lagi tahun depan.

Perlahan, industri pariwisata mulai berdenyut kembali dengan protokol baru. Hanya bagi pelaku industri MICE (Meeting, Incentive, Convention dan Exhibition), mungkin perlu waktu yang lebih lama. Mengingat soal keramaian yang identik dengan kedua hal tersebut.

Bahasan itu pun turut didiskusikan dalam sesi webinar oleh International Tourism Forum (ITF) bersama World Travel & Tourism Council (WTTC), Jumat (15/5/2020). Diskusi itu pun turut menghadirkan Gloria Guevara selaku President & CEO World Travel & Tourism Council dan Budi Tirtawisata selaku CEO Panorama Group.

Sebagai salah satu pemain besar travel fair dan MICE di Indonesia, Budi sadar betul akibat dari pandemi COVID-19 pada lini usahanya yang banyak berbentuk offline. Dalam semangat PSBB, acara yang mengundang kerumunan memang tak dapat diadakan.

Sesi webinar oleh International Tourism Forum (ITF) bersama World Travel & Tourism Council (WTTC), Kamis (15/5/2020)Sesi webinar oleh International Tourism Forum (ITF) bersama World Travel & Tourism Council (WTTC), Kamis (15/5/2020) (Randy/detikcom)

Berkaca dari hal tersebut, Budi mengatakan bahwa acara dengan skala besar sekelas travel fair akan diprediksi bangkit kembali tahun mendatang. Namun, itu pun perlu memantau kondisi di lapangan.

"Kemungkinan besar baru akan ada lagi tahun 2021. Pameran pertama konsepnya akan B to B (Buyer ke buyer). Pameran di tahun 2019 sangat sedikit yang dibatalkan, mayoritas diundur," ujar Budi.

Budi pun paham betul, bagaimana dunia pariwisata akan bergerak usai pandemi ini. Protokol baru atau The New Normal perlu diikuti.

"Kami kira protokol yang baik akan membantu kebangkitan pameran, tapi itu perlu waktu. Pastinya akan ada pameran secara domestik dulu, kawasan, baru internasional," pungkas Budi.

Lebih lanjut, usaha seperti MICE atau pameran travel memang sulit untuk digantikan secara virtual seperti tren yang tengah naik daun kini. Kontribusi secara ekonomi juga tak akan signifikan.

"Meeting virtual bisa bekerja saat ada pembatasan, tapi tetap tak bisa jadi pengganti MICE. Kontribusi pada sektor ekonomi akan lebih kecil ketimbang pertemuan secara langsung. Tidak ada akomodasi, suvenir dan lainnya," tutup Budi.



Simak Video "Wisma Atlet Ikut Bikin Kasus Corona di Jakarta Jadi Tinggi"
[Gambas:Video 20detik]
(rdy/rdy)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA