Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 18 Mei 2020 19:19 WIB

TRAVEL NEWS

Beli Alat Kesehatan Saat Karantina, Pilot Kargo Dipenjara

Elmy Tasya Khairally
detikTravel
Ilustrasi pilot
Foto: Ilustrasi pilot (Thinkstock)
Singapura -

Sejumlah negara menerapkan aturan karantina dengan sangat ketat. Bagi yang melanggar bisa kena denda hingga penjara, termasuk pilot kargo ini saat tinggal di Singapura.

Dilansir ABC News, seorang pilot kargo Amerika Serikat bernama Brian Dugan Yeargan. Dia pilot FedEX.

Yeargan, pria 44 tahun yang berasal dari Alaska, meninggalkan kamar hotelnya selama tiga jam untuk membeli masker dan termometer, menurut pengacara, Ronnie Tan. Apes, karena kelayapan saat harus karantina, dia ditangkap oleh kepolisian setempat. Yeargan pun menjadi orang asing pertama yang ditangkap karena kasus virus Corona di Singapura.

Lelaki berusia 44 tahun itu kemudian dijatuhi hukuman penjara selama satu bulan.

Singapura memang menyiapkan sanksi bagi pelanggar aturan karantina. Singapura juga tak main-main dengan aturan mewajibkan warga memakai masker dan menjaga jarak sosial. Pelanggar karantina bisa dijatuhi hukuman penjara selama enam bulan dan denda hingga 10.000 dolar Singapura.

Singapura memiliki 26.000 kasus dan masuk daftar negara dengan kasus tinggi virus Corona. Lebih dari 90% dari warga yang terinfeksi adalah pekerja asing yang bertempat tinggal di asrama yang padat.

Pengacara Yeargan, Tan, bilang, setelah tiba dari Sydney, Yeargan dan dua co-pilot menginap di hotel bandara untuk karantina selama 14 hari. Kebijakan ini harus dilakukan karena pernyataan dalam deklarasi kesehatan bahwa mereka telah mengunjungi China, Hong Kong, Makau, Jepang dan Amerika Serikat dalam periode dua minggu sebelum sampai di Singapura.

Dua hari setelah berada di hotel, pejabat kesehatan yang memeriksa tidak menemukan Yeargan di dalam kamar. Dalam pengakuan di pengadilan, Yeargan mengatakan dia pergi ke pusat kota untuk membeli termometer dan beberapa kotak masker untuk persiapan terbang keesokan harinya.

Yeargan juga membutuhkan alat-alat kesehatan itu untuk persediaan di rumah karena istrinya sakit. Menurut pernyataan, istri Yeargan mengalami kesulitan bernapas, namun telah dites pada Maret lalu dan hasilnya negatif Corona.

Yeargan mengakui tak bisa menganggap sepele kondisi kesehatan keluarganya. Empat tahun lalu Yeargan kehilangan putrinya alam insiden tragis, sehingga membuatnya takut akan kehilangan istrinya.

Yeargan mengatakan bahwa kedua pilotnya telah terbang sesuai jadwal, tapi dia tetap ditahan di kamarnya. Selain ditahan, Yeargan juga harus melakukan bantuan kemanusiaan ke negara-negara yang terkena COVID-19 untuk Angkatan Udara AS karena pelanggaran yang dilakukan di Singapura. Pengadilan mengatakan bahwa Yeargan seharusnya meminta seseorang untuk membeli barang-barang yang dia butuhkan.

"Dalam pidatonya, Yeargan mengatakan bahwa dia menyesal, dia membuat keputusan yang buruk dan bahwa dia seharusnya tidak keluar," kata Tan.

Pengacara mengatakan bahwa Yeargan merasa lega karena jaksa penuntut menuntut hukuman hingga delapan minggu. Dia akan mengajukan remisi untuk perilaku baik yang dapat membebaskan Yeargan dalam waktu tiga minggu.



Simak Video "Pemerintah Enggan Buka Riwayat Plesiran Pasien Positif Corona, Ini Alasannya"
[Gambas:Video 20detik]
(elk/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA