Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 16 Jun 2020 07:17 WIB

TRAVEL NEWS

Berkelakuan Buruk, Satu Keluarga Ditendang dari Taman Karavan

Wahyu Setyo Widodo
detikTravel
Overlooking at Whangaparaoa Peninsula, Auckland region, New Zealand.
Foto: Ilustrasi taman karavan (Getty Images/iStockphoto/nazar_ab)
Tokoroa -

Gara-gara berkelakuan yang buruk, satu keluarga ditendang keluar dari taman liburan karavan di Selandia Baru. Mereka meneror warga hingga merusak properti.

Kelakuan satu keluarga turis di Selandia Baru ini jangan ditiru. Ulah ibu dan anak tersebut saat menginap di taman liburan karavan di sana, sudah tidak bisa ditoleransi lagi.

Keluarga turis itu kompak mengganggu warga dan juga pengunjung lain yang menyewa lahan karavan di sana. Ibu dan anak itu meneror warga, merusak properti, melempar batu, sampai mengeluarkan ancaman verbal terkait wabah virus Corona.

Dikumpulkan detikTravel dari beberapa sumber, Selasa (16/6/2020), traveler bermasalah itu diketahui atas nama Nakita Kaya Rangi dan juga anak-anaknya. Mereka menghabiskan waktu beberapa minggu menginap di Glenview Holiday Park di kota Tokoroa, Selandia Baru.

Nakita dan anak-anaknya diketahui suka meneror warga dengan cara melihat dan mengawasi mereka saat menggunakan toilet. Pasangan Nakita juga tak kalah parahnya. Dia sampai harus berurusan dengan kepolisian setempat gara-gara menyerang salah seorang warga saat dia sedang tertidur pulas.

"Nakita sudah beberapa kali diperingatkan karena melanggar aturan, termasuk mengonsumsi alkohol dan ngebut di camping ground. Tapi setelah apa yang dilakukan pasangannya, dia jadi sangat mengancam. Itu bukanlah situasi yang baik," ungkap Lyn Mann, manajer yang mengelola taman karavan tersebut.


Mann menyebut Nakita juga menyebabkan kerusakan parah di kabin dimana dia tinggal. Dia meninggalkan makanan membusuk di oven, sampai meninggalkan bekas noda parah di karpet dan grafiti di furnitur. Padahal kabin tersebut baru saja direnovasi sebelum Nakita dan keluarganya pindah ke sana.

Meski mengusir orang di masa pandemi Corona termasuk pilihan yang sulit, tapi Mann tidak punya pilihan lain. JIka dibiarkan tinggal lebih lama, keluarga Nakita ditakutkan akan makin berulah dan malah membahayakan warga lainnya.

Setelah keluarga Nakita pergi, 80% warga dan traveler yang tinggal di taman karavan tersebut merasa jauh lebih aman.

"Atmosfer di taman sekarang berubah. Ada banyak orang baik di sini dan kondisi jadi makin baik. Saya mengatakan ke semua orang, bahwa kami memiliki aturan di sini. Jika mereka tidak suka, mereka boleh pergi," kata Mann.



Simak Video "Kabinet PM Selandia Baru: Ada Gay dan Wanita Bertato di Dagu "
[Gambas:Video 20detik]
(wsw/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA