Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 03 Jul 2020 11:14 WIB

TRAVEL NEWS

Negara Ini Tutup 23 Pantainya karena Sampah

Bonauli
detikTravel
ilustrasi pantai
Sampah plastik ganggu pantai-pantai di Tunisia. (thinkstock)
Tunis -

Sampah plastik sudah menjadi masalah umum di dunia. Karena banyak sampah, Tunisia resmi tutup 23 pantainya untuk umum.

Negara-negara di Afrika Utara nampaknya harus berusaha lebih keras untuk memerangi sampah. Saking banyaknya sampah, pantai mereka tercemar dan berbahaya untuk aktivitas wisata, seperti berenang.

Penutupan pantai-pantai cantik Tunisia pun bukan hal yang baru. Tiap tahun Tunisia memperpanjang daftar pantai yang ditutup untuk umum. Alasannya sangat sederhana, sampah.

Tahun 2018 Tunisia sudah menutup 18 pantai. Kemudian tahun 2019 naik menjadi 21 dan tahun ini menyentuh angka 23. Keputusan ini resmi dikeluarkan pada 16 Juni 2020 oleh Departemen Kesehatan dan Perlindungan Lingkungan dari Kementerian Kesehatan Tunisia.

Sejak tahun 1937 World Wide Fund for Nature (WWF) rutin melakukan analisis sampel air di Afrika Utara, khususnya Tunisia. Dari data ini terlihat bahwa laut Tunisia tercemar oleh limbah domestik, blooming algae berbau dan limbah plastik.


"Dalam 10 tahun, semua pantai di Tunisia akan tercemar plastik," ujar WWF.

Tunisia memiliki 537 pantai dan 23 di antaranya ditutup. Jangka waktu 10 tahun memberi gambaran bahwa penyebaran polusi di laut akan terjadi dengan sangat cepat.

Dokumen WWF menyatakan bahwa 20 persen sampah plastik yang diproduksi Tunisia dibuang ke laut. Sementara itu 80 persen pencemaran laut akan otomatis kembali ke darat. Kembalinya kemasan plastik ke darat jelas mempengaruhi keseimbangan alam dan merugikan kesehatan masyarakat.

Inilah mengapa Tunisia mengambil tindakan cepat untuk menutup pantai-pantainya yang tercemar dan memperbaikinya. Presiden Tunisia, Kais Saied, bahkan menandatangani dekrit pada Januari 2020 tentang pelarangan produksi, distribusi, impor dan kepemilikan kemasan plastik sekali pakai.

Keputusan tersebut akan dilaksanakan secara bertahap mulai 1 Maret 2020 untuk ruang komersial dan apotek. Sedangkan produsen dan pemasok dimulai pada 1 Januari 2021.

Setiap tahunnya warga Tunisia menggunakan sekitar satu miliar kantong plastik. Supermarket menyumbang 315 juta dari total tersebut.

Keputusan ini mirip-mirip dengan yang terjadi di DKI Jakarta sekarang ini. Peraturan Gubernur 142 tahun 2019 melarang pemakaian kemasan plastik sekali pakai untuk supermarket, pertokoan hingga pasar rakyat karena sampah plastik kian meningkat dari tahun ke tahun.



Simak Video "Perusahaan di India Bikin Alat Makan hingga Tas dari Daun Palem"
[Gambas:Video 20detik]
(fem/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA