Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 08 Jul 2020 09:09 WIB

TRAVEL NEWS

Survei LIPI: Pengetahuan Warga tentang Satwa Liar dan COVID-19 Rendah

Femi Diah
detikTravel
Desmodus rotundus in a limestone cave. Kelawar penghisap darah hewan ternak di Amerika Tengah
Ilustrasi satwa liar dan keterkaitandengan virus Corona. (Getty Images/iStockphoto/Gabriel Mendes)
Jakarta -

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengumumkan hasil survei tentang persepsi masyarakat tentang kaitan COVID-19, zoonosis, dan satwa liar. Hasilnya, pengetahuan masyarakat tentang korelasi tiga hal itu masih rendah.

Survei dari LIPI itu dirilis Selasa (7/7/2020) melalui webinar "Sosialisasi Hasil Survei Persepsi Masyarakat terhadap COVID-19 dan Satwa Liar". Kepala Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, Herry Jogaswara, menyebut hasil survei itu menjadi arahan terhadap kebijakan-kebijakan oleh berbagai pemangku kepentingan di masa mendatang terkait dengan upaya pengendalian COVID-19.

Survei dilakukan secara online pada 27 Mei-8 Juni 2020 melalui teknik wawancara dan diskusi grup terfokus (FGD). Survei tersebut melibatkan 2.871 responden yang tersebar di seluruh wilayah di Indonesia, tetapi hanya 2.603 responden yang datanya valid dan dapat dianalisis.

Hasil survei itu menunjukkan hanya sedikit responden yang mempersepsikan kaitan satwa liar sebagai cara penularan virus Corona. Sebanyak 17 persen responden mempersepsikan COVID-19 sebagai penyakit menular dari satwa liar kepada manusia. Mayoritas berpendapat COVID-19 disebabkan oleh virus baru.


Adapun penularannya, sekitar 9 persen responden yang menganggap virus Corona menular lewat menyentuh dan mengonsumsi satwa liar, sedangkan mayoritas mempersepsikan virus Corona menular melalui droplet di udara dan benda-benda yang ditempelinya.

COVID-satwa liar 1Survei LIPI tentang keterkaitan COVID-19, satwa liar dan zoonosis. (Foto: LIPI)



Tentang cara perlindungan dari virus Corona, sebagian kecil responden mempersepsikan untuk menghindari konsumsi satwa liar. Mayoritas malah mempersepsikan dengan cara lain, tanpa menyebut detail, diikuti mencuci tangan, baik menggunakan sabun atau tidak, dan memakai masker.

Mereka yang mengonsumsi satwa liar dan bekerja dengan satwa liar dipersepsikan tertular tidak sebesar orang yang punya penyakit bawaan dan lanjut usia.

Survei keterkaitan satwa liar dan penularan COVID-19Survei keterkaitan satwa liar dan penularan COVID-19 Foto: LIPI


Terkait kebijakan pemerintah menghadapi COVID-19, sebanyak 43,3 persen responden menjawab pemda melakukan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan 42,1 persen menjawab pelarangan mudik. Cuma 7,9 persen responden yang menyatakan bahwa pemda melarang konsumsi satwa liar. Mayoritas responden dari Jabar dan Jateng.

Pada bagian survei kualitatif, LIPI mendapatkan bahwa bahkan kesepakatan tentang makna satwa liar belum banyak dipahami oleh masyarakat. Begitu pula apa itu zoonosis.

Minimnya persepsi responden terhadap keterkaitan satwa liar dan penularan virus Corona itu menjadi catatan tersendiri oleh LIPI. Sebab, peneliti bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI Taufik Nugraha mengatakan satwa liar merupakan inang alami dari virus Corona pemicu COVID-19. Bahkan, sejak tahun 1940 hingga 2000, 70 persen penyakit infeksi baru berasal dari satwa liar.

Taufik bilang satwa liar itu dulunya terisolasi, namun karena perubahan lingkungan menyebabkan mereka tak lagi terisolasi. Adapun faktor pendorong perubahan lingkungan itu antara lain urbanisasi, modernisasi, fragmentasi habitat, perambahan hutan, dan perubahan iklim.

Taufik juga menyebut pemanfaatan langsung, berupa perdagangan, konsumsi, hobi, dan ekshibisi, satwa liar juga bisa menyebabkan zoonosis. Makanya, dibutuhkan protokol kesehatan agar kegiatan itu tidak berbahaya.

Dari survei yang dibuat LIPI pemerintah telah mengatur perdagangan satwa liar, penelitian, pemeliharaan, perburuan, dan pertunjukan namun lebih banyak masyarakat yang mempersepsikan pemerintah tak memiliki aturan tentang konsumsi satwa liar.

Taufik menyebut ada aturan pemerintah tentang satwa liar yang tumpang tindih. Dia pun berharap diterapkan pendekatan one health. Yakni, metode yang menekankan pemahaman dan hubungan antara lingkungan, keanekaragaman hayati, masyarakat, dan penyakit manusia dengan menyatukan kesehatan publik, serta ilmu kedokteran hewan dan lingkungan.

zoonosis dan satwa liarKaitan zoonosis dan satwa liar oleh LIPI Foto: LIPI

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, pemerintah telah mengatur penyakit baru dalam Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2019 tentang Peningkatan Kemampuan Dalam Mencegah, Mendeteksi, dan Merespons Wabah Penyakit, Pandemi Global, dan Kedaruratan Nuklir, Biologi, dan Kimia.

Inpres tertanggal 17 Juni 2019 tersebut mengamanatkan sejumlah kementerian, lembaga, dan jajaran pemerintah daerah untuk melakukan upaya pencegahan, deteksi, dan respons terhadap kedaruratan kesehatan masyarakat. Juga disebut tentang pendekatan one health untuk meningkatkan implementasi rencana aksi.

Sementara itu, Indra Exploitasia, direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Kementerian Lingkungan Hidup dan kehutanan, berharap survei tersebut jangan sampai membuat masyarakat menganggap pemutusan rantai penularan virus Corona bisa dilakukan dengan pemusnahan satwa liar.

"Ini perlu disampaikan dengan hati-hati, jangan sampai justru keliru dimengerti oleh masyarakat," ujar Indra.



Simak Video "Update Positif Covid-19 RI Per 9 Agustus: 125.396 Positif, 80.952 Sembuh"
[Gambas:Video 20detik]
(fem/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA