Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 10 Agu 2020 16:05 WIB

TRAVEL NEWS

Ini Titik Rip Current di Perairan DIY, Biang Kecelakaan di Laut

Pradito Rida Pertana
detikTravel
Tim SAR gabungan melakukan operasi pencarian lima wisatawan yang terseret ombak di Pantai Goa Cemara, Bantul, Jumat (7/8/2020).
Foto: Foto: Dok. Basarnas Yogyakarta
Bantul -

Terseretnya tujuh wisatawan asal Sleman di Pantai Goa Cemara, Bantul hari Kamis (6/8/2020) diduga karena terbawa rip current atau arus air yang mengalir kuat ke arah laut. Dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) menyebut ada beberapa titik rip current di perairan DIY.

"Kalau secara statistik ada tidaknya rip current (di perairan DIY) belum ada. Tapi kemarin kita sudah memetakan ada di (pantai) Pulang Sawal, Drini, dan Baron juga ada," kata Dosen Program Studi Sarjana Terapan Sistem Informasi Geografis Departemen Teknologi Kebumian Sekolah Vokasi UGM, Hendy Fatchurohman, saat dihubungi detikcom, Senin (10/8/2020).

Itu merujuk pemetaan yang ia lakukan dengan menyebar cairan 'uranine', jenis dari 'flourescence dye' cairan berwarna/berpendar yang biasanya dipakai untuk pelacakan air dan untuk melacak jaringan goa beberapa waktu lalu di perairan Gunungkidul. Bahan utama cairan itu adalah garam sehingga aman untuk lingkungan.

"Kalau misal lokasi presisi harus ambil foto udara, nanti dilihat sekilas ada area atau pola yang tidak membentuk pecah gelombang, itu untuk rip current dengan sifat menetap," ujarnya.

Oleh karena itu, Hendy menilai rip current di pesisir DIY menjadi ancaman yang bahaya bagi wisatawan. Terlebih dari data Tim SAR menyebut jika kejadian laka laut paling banyak terjadi karena rip current. Dia menyebut ada 2 jenis rip current di perairan DIY.

"Nah, sepengetahuan saya ada 2 (jenis) rip current, yakni ada yang menetap dan berpindah. Kalau di pantai Gunungkidul kemarin karakternya banyak yang menetap, jadi tidak berpindah," katanya saat dihubungi detikcom, Senin (10/8/2020).

"Itu karena pantainya (di Gunungkidul) ada rataan terumbu karang, kelihatan kalau pas surut. Nah itu dia tidak bisa terbentuk rip current di situ, dia hanya bisa jadi pemecah gelombang, gelombang pecah di situ jadi fider. Fider itu gelombang yang nantinya bisa membentuk, jadi kaya umpannya sebelum terbentuk di rip current," imbuh Hendy.

Di Gunungkidul sendiri, rip current terbentuk di celah-celah antar terumbu karang, misalnya ada jalan kapal yang notabenenya memiliki dasaran pasir bukan karang. Nantinya di sisi kanan dan kiri celah memicu terbentuknya arus, arus itu biasanya menyusur pantai dan bernama longsor current.

"Jadi dia menyusur sejajar dengan pantai, nanti ketika sudah bertemu dasaran yang dia mempunyai sifat membentuk, misal arus nabrak atau tertarik nanti bisa langsung menarik ke arah laut," ujarnya.

"Yang jelas, dia (rip current) hanya celah sempit, ada pantai panjang 200-300 meter, biasanya ada rip current itu ya celah sempit 2-3 meter saja. Kemarin di-track pakai larutan itu bentuknya kaya kecil memanjang dan jelas," lanjut Hendy.

Meski menetap, dia menyebut rip current tidak sepanjang waktu bisa muncul. Mengingat perlu pemicu khusus untuk memunculkan rip current.

"Tapi itu tidak bisa terbentuk sepanjang waktu dan ada syaratnya. Misal di Gunungkidul kan menetap rip current-nya, tapi tidak bisa terjadi terus seharian, karena kan ada kondisi (air laut) kadang pasang dan surut membuat arus (rip current) tidak bisa terbentuk," ucapnya.

Selain itu, dia menyebut rip current paling banyak muncul saat siang hari. Tepatnya saat ombak mulai surut.

"Nah, justru saat pasang, tinggi itu rip cenderung tidak terbentuk. Itu (rip current) biasanya muncul saat menjelang surut, jadi pas pasang mulai turun tapi belum surut, ya sekitar jam 11-12 lah," katanya.

Sedangkan untuk tipe rip current berpindah-pindah, Hendy menyebut kebanyakan berada di pantai Kabupaten Bantul dan Kulon Progo. Di mana pantai di kedua Kabupaten itu memiliki karakteristik dasaran pasir pantai ketimbang terumbu karang.

"Pantai-pantai yang materialnya pasir seperti di Parangtritis, Parangkusumo, Pantai Baru dan Pantai Goa Cemara notabenenya pasirnya kan dinamis," katanya.

"Kenapa berpindah? Karena sebenarnya kan rip current itu agen pembawa sedimen, dia membawa sedimen pasir ke arah laut. Seperti di Parangtritis dan pantai daerah Kulon Progo itu karakternya (rip current) pindah-pindah sehingga tidak bisa diprediksi," Hendy menambahkan.

Kendati sulit mengetahui jenis rip current berpindah di pantai tersebut, Hendy menyebut masyarakat bisa mendeteksinya secara kasat mata. Deteksi itu dengan melihat pecahan ombak.

"Meski sulit diidentifikasi, tapi secara awam sebenarnya bisa dilihat kasat mata. Jadi daerah-daerah yang yang tidak ada pecah gelombangnya, kan ada gelombang datang dan nanti pecah jadi ombak terus jadi buih putih-putih.

"Nah, yang tidak ada buih putihnya itu biasanya yang ada rip current," ujar Hendy.



Simak Video "Dalam 20 Hari, Polisi Tangkap 10 Pelaku Curanmor di Solo"
[Gambas:Video 20detik]
(fem/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA