Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 17 Agu 2020 06:13 WIB

TRAVEL NEWS

Agustinus Cinta Indonesia Lewat Traveling: dari Jauh ke Perbatasan

Femi Diah
detikTravel
The flag of Papua New Guinea pinned on the map. Horizontal orientation. Macro photography.
Garis lurus Papua dan Papua Nugini. (Getty Images/iStockphoto/MarkRubens)
Jakarta -

Agustinus Wibowo terus melanjutkan perjalanannya. Setelah menjelajahi negara yang jauh, kini dia menyusuri garis batas Indonesia, untuk apa?

Bermula dari kegelisahan mencari Tanah Air, Agus, sapaan karib Agustinus Wibowo, yang seorang keturunan Tionghoa-Indonesia menuju China. Dia sekolah dan bekerja di Beijing.

Berjumpa teman-teman sekampus yang biasa backpacker, Agustinus menuju Pakistan, keluar masuk Afganistan, Tibet, dan pecahan Uni Soviet. Perjalanan itu dirangkumnya dalam buku Titik Nol, Garis Batas, dan Selimut Debu.

Apakah itu menjawab pencariannya akan Tanah Air. Ya. Pria 39 tahun asal Lumajang, Jawa Tengah itu juga mendapatkan bonus setelah melihat Indonesia dari jauh. Dia menilai Tanah Air yang dicarinya itu memiliki nilai yang tak main-main; keberagaman.

Apalagi, keberagaman itu tak membuat Indonesia terpecah belah. Indonesia bukannya tidak pernah berada dalam situasi genting. Belum lama dari reformasi itu, Timor Timur lepas dari Indonesia. Provinsi ke-27 tak lagi berbendera Merah Putih pada 19 Oktober 1999.

Kemudian di awal tahun 2000-an, muncul perang saudara di sejumlah daerah. Di antaranya terjadi di Ambon dan Maluku Tengah pada 1999, juga konflik Sampit dan Madura pada 2001.

Tapi, faktanya tetap berdiri kukuh hingga Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75 hari ini.

"Padahal, media-media asing memprediksi Indonesia ini akan menjadi Uni Soviet berikutnya atau Yugoslavia, negara yang terpecah-pecah setelah reformasi 1998 itu," Agus dalam IGLive dengan detikTravel, Sabtu (15/8/2020).

"Kalau ingat tahun awal 2000-an, kita kan perang saudara dimana-mana, konflik dimana-mana, kerusuhan dimana-mana, orang beda etnik saling bunuh, beda agama saling bunuh, itu sudah "wah ini prediksinya hampir kenyataan ya, negara kita pecah nih ya". Timor Timur sudah merdeka, itu udah warning banget," kata Agustinus Wibowo.

"Ajaibnya, negara ini masih berdiri sampai sekarang. Ini yang membuat saya bertanya-tanya. Ini mungkin banyak orang yang sudah menganggap hal ini biasa jadi sudah tidak bertanya-tanya lagi. Tapi, karena saya tinggal di luar, saya merasa ini sesuatu yang sangat luar biasa," ujar dia.

[Gambas:Instagram]



Agus pun mencari tahu sebenarnya apa perekat keberagaman Indonesia itu. Dia pun menuju perbatasan Indonesia, menuju Aceh, Papua, dan Papua Nugini.

"Indonesia sampai sekarang masih berdiri ini luar biasa sekali dengan keberagamannya ya, dengan 740 bahasa itu dia masih bisa berdiri sampai sekarang. Itu membuat saya bertanya-tanya "apa sih yang merekatkan kita? Lem Indonesia itu apa? Dan untuk memahami Indonesia kita enggak cukup hanya memandangi dari sudut pandang besar, enggak cukup hanya dari Jawa. Kita harus keluar dari perbatasan Indonesia, melihat dari luar masuk ke perbatasan Indonesia," dia menambahkan.

Agus mencontohkan kasus berapa WNI yang menyadari bahwa garis batas Indonesia di ujung timur berupa garis lurus, tidak mengikuti bentang alam. Apakah traveler tahu alasannya?

"Berapa banyak orang Indonesia yang tahu jawabannya? Ya, saya ke situ, saya tinggal di situ, saya menyusuri sungai, melewati hutan-hutan, saya ingin tau apa sih perbatasan Indonesia sesungguhnya itu dan cara itu menjadi bagian bagaimana saya memahami apa itu Indonesia, dan kenapa Indonesia itu ada," kata Agustinus Wibowo.

"Dan ini adalah satu projek besar yang saya lakukan, bukan cuman Papua Nugini, saya pergi ke Aceh, saya pergi ke Toraja, termasuk juga ke Belanda ke Suriname. Ini adalah cara saya dalam memahami Indonesia dan juga nantinya setelah projek ini rampung akan saya bagikan untuk pembaca sekalian dalam bentuk buku," dia menambahkan.



Simak Video "InstaTalk! Agustinus Wibowo: Cinta Indonesia dari Traveling"
[Gambas:Video 20detik]
(fem/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA