Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 17 Agu 2020 10:15 WIB

TRAVEL NEWS

Di Beijing Agustinus 'Melihat' Indahnya Gunung Semeru dan Langit Biru

Femi Diah
detikTravel
Mendaki Gunung Semeru
Gunung Semeru (Ludfi Budiman/d'Traveler)
Jakarta -

Agustinus Wibowo menilai perjalanan ke negara-negara lain bukanlah sekadar bepergian jauh dari rumah. Justru dari perjalanan itu dia bisa mensyukuri statusnya sebagai WNI, bahkan langit biru Lumajang yang dulu dianggapnya lumrah ternyata amat spesial.

Agus, sapaan karib Agustinus Wibowo, tinggal sembilan tahun di Beijing. Dia kuliah sejak tahun 2000 kemudian bekerja di Negeri Panda itu.

Di awal-awal tiba di Beijing, Agus baru menyadari bahwa dia kehilangan udara segar, langit biru, dan keelokan Gunung Semeru yang merupakan hal lumrah di kampung halamannya, di Lumajang, Jawa Timur. Rupanya, hal-hal biasa itu menjadi amat spesial setelah dia jauh.

"Sebenarnya mulai kangen Indonesia itu saat pertama kali saya meninggalkan Indonesia ya, waktu saya sekolah di Beijing tahun 2000. Itu pertama kali saya merasa ada yang spesial dengan Indonesia," kata Agus dalam IGLive dengan detikTravel, Sabtu (16/8/2020).

"Saya baru menyadari hal-hal yang biasa di Indonesia itu ternyata luar biasa setelah berada di Beijing. Misalnya, langit biru. Saya tinggal di Lumajang, di Lumajang langit biru sekali, di kejauhan kita bisa melihat Gunung Semeru. Itu biasa saja setiap hari ada," ujar Agus.

"Setelah saya tinggal di Beijing langit biru itu anugrah yang luar biasa, karena di Beijing itu setiap hari langitnya kelabu. Dengan Gurun Gobi, gurun pasir, setiap ada badai gurun pasir kota penuh pasir," pria yang genap berusia 39 tahun pada 8 Agustus itu menjelaskan.

Bahkan, senyum tetangga menjadi spesial di mata Agus setelah di berada di Beijing. Juga, pepohonan hijau yang ada di mana-mana.

Saat berada di negara lain itu pula Agus bisa lebih objektif melihat Indonesia. Dia bisa melihat lebih jelas berbagai masalah yang terjadi di Indonesia tanpa terbawa emosi.

"Hijaunya pepohonan, senyumnya orang-orang. Orang Indonesia kan suka senyum dan saat masuk Beijing mukanya serius semua," kata Agustinus Wibowo.

"Nah, itu hal yang kita anggap biasa itu ketika kita keluar negeri itu baru terasa. Itu spesial lo, itu istimewa lo, dan di situ baru saya bisa merasakan sisi lain ke-Indonesiaan dan mensyukuri ke-Indonesiaan saya yang kurang saya pedulikan."

Agustinus WibowoAgustinus Wibowo Foto: dok. pribadi

"Justru saya lebih sensitif ke-Indonesiaan saya saat saya di luar negeri, itu yang pertama. Yang kedua, saat kita di luar negeri ada lagi kecenderungan kita bisa melihat Indonesia secara lebih objektif, karena sering menonton gosip... kita tidak lagi bisa memilah mana yang penting dan tidak penting. Ketika di luar negeri, informasi itu sudah tersaring gitu, yang sampai itu biasanya isu-isu besar. Kita bisa melihat Indonesia dari luar kotak, out of the box, contohnya yang rasial Indonesia kan sering sekali ini perang-perang antar etnik di sini dan di sana, banyak kerusuhan dan sebagainya."

"Kalo di luar negeri kita bisa menganalisis, oh etnik saya di serang, agama saya di serang ya kan tapi di luar negeri saya lebih bisa menimbang oh apa latar belakang masalahnya. Kita perlu belajar nasionalisme dari dalam dan dari luar, dua duanya sama penting, dari dalam kita bisa tetap memiliki emosi, empati tanah air kita tetapi dari luar kita bisa melihatnya dari sudut pandang yang lebih objektif, supaya kita bisa memahami negara kita lebih utuh," penulis buku perjalanan Titik Nol, Selimut Debu, dan Garis Batas itu menambahkan.

Makanya, dia menyarankan traveler Indonesia untuk tidak hanya berkeliling Indonesia namun juga memutuskan untuk melancong ke negara lain.

"Traveling itu penting ya kalau kita ingin memahami bangsa kita bukan berarti kita cinta Indonesia lalu kita enggak perlu ke luar negeri, kita travelingnya di Indonesia aja. Bukan, kalau kita enggak pernah keluar justru kita menjadi katak dalam tempurung," ujar Agustinus Wibowo.

"Dan, kalau kita jadi katak dalam tempurung kita enggak akan pernah paham apa sih konflik-konflik kita, kenapa sih kita jadi kaya gini, kita enggak akan pernah paham, justru kita keluar supaya kita enggak jadi katak dalam tempurung dan supaya kita bisa melihat Negara kita bangsa kita dari sudut pandang yang baru dan itu justru akan lebih meningkatkan kecintaan kita bagi bangsa dan negara," dia menambahkan.

(fem/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA