Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 27 Agu 2020 10:14 WIB

TRAVEL NEWS

Sejarah di Balik Pergantian Nama Masjid Agung Demak

Mochamad Saifudin
detikTravel
Masjid Agung Demak
Foto: Masjid Agung Demak (Wikha Setiawan/detikcom)

FOKUS BERITA

Muslim Traveler
Demak -

Masjid Agung Demak sempat mengalami berbagai pergantian nama. Masjid yang didirikan sejak abad 14 tersebut sempat berganti nama sesuai kebijakan pemerintah.

Pengurus Takmir Masjid Agung Demak, Wagiyo mengatakan, sebelum Masjid Agung Demak berdiri, Sultan Fatah mendirikan lebih dahulu pondok pesantren Glagah Wangi.

"Demi mengenalkan akidah yang sebenarnya, bagi masyarakat Glagah Wangi atau Demak Bintoro. Dulu karena pahamnya masih hindu, budhha, animisme, kapitayan, bahkan kepercayaan. Sehingga, beliau (Raden Fatah) mendirikan pesantren dengan kekuatan lafadz laa ilaaha illallah muhammadurrasulullah dan ternyata pesantren tersebut bisa berdiri dan bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar," jelas Wagiyo kepada detikTravel di area Masjid Agung Demak beberapa waktu lalu.

"Pendirian pondok pesantren tersebut, juga atas dasar perintah guru besarnya, Sunan Ampel. Beliau (Sunan Ampel) sempat tertegun dan berpikir, sopo seng arep ngaji (siapa yang mau belajar agama Islam) karena masyarakatnya saja masih awam dengan ajaran agama Islam. Namun beliau (Raden Fatah) tetap berpegang teguh pada lafadz laa ilaaha illallah muhammadurrasulullah, sehingga pondok pesantren tersebut dapat berdiri dan ternyata Allah berkehendak lain. Ternyata banyak masyarakat yang ingin masuk Islam dan belajar ajaran agama Islam. Dengan keberhasilan itulah, membuat berkumpulnya para wali untuk membangun atau mendirikan Masjid Agung Demak yang kita kenal sekarang," sambung Wagiyo, yang sudah menjadi pengurus takmir masjid Agung Demak sekitar 20 tahun tersebut.

Ia menjelaskan, setelah masjid dibangun Walisongo, namanya Masjid Pondok Pesantren Glagah Wangi pada tahun 1466 Masehi.

Perjalanannya, lanjutnya, sampai Raden Fatah menjadi Adipati Notoprojo 1475 Masehi. Dua tahun kemudian 1477 Masehi, masjid tidak bisa menampung orang yang akan melaksanakan salat berjamaah. Sehingga Walisongo berkumpul kembali musyawarah dengan Raden Fatah untuk memugar masjid.

"(Masjid Agung Demak) sempat dipugar pada 1477 Masehi, namanya berubah, setelah diresmikan menjadi Masjid Kadipaten Glagah Wangi," terangnya.


Lalu, Wagiyo meneruskan, pada 1478 Masehi, Walisongo menobatkan Raden Fatah menjadi seorang sultan atau raja islam pertama, di pulau Jawa. Yakni, dengan gelar pertamanya, Raden Sultan Abdul Fatah Al Akbar Sayyidin Panotogomo, lalu gelar keduanya Syeikh Alam Akbar Awal, dan gelar ketiganya Pangeran Suryo Alam.

"Satu tahun kemudian, banyak orang yang masuk Islam sehingga masjid ini tidak mampu untuk menampung. Sehingga Walisongo musyawarah lagi dengan Sultan Fatah, kemudian masjid dipugar diperluas, ditinggikan, dan diperindah. Sehingga 1479 Masehi, Masjid diperbaiki dan namanya juga berubah, menjadi Masjid Kasultanan Demak Bintoro," tutur Wagiyo yang juga purnawirawan TNI tersebut.

"Kemudian sesuai Undang Undang No 5 tahun 1992, dilaksanakan PP No 10 tahun 1993, masjid masjid di kodya dan kabupaten/ kota berubah menjadi masjid jami' atau masjid agung. Sehingga Masjid Agung Demak sampai sekarang yang kita kenal," imbuhnya.



Simak Video "Museum Fatahillah Jakarta, Cerita Sejarah Batavia Tempo Dulu"
[Gambas:Video 20detik]
(wsw/ddn)

FOKUS BERITA

Muslim Traveler
BERITA TERKAIT
BACA JUGA