Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 27 Sep 2020 22:01 WIB

TRAVEL NEWS

Hafu, Orang Jepang yang Merasa Asing di Negerinya Sendiri

Ahmad Masaul Khoiri
detikTravel
Hafu, warga blasteran Jepang
Hafu, warga berdarah campuran atau blasteran Jepang (Foto: CNN)
Tokyo -

Ternyata, ada fakta yang mengungkap bahwa sebagian orang Jepang masih merasa asing di negerinya sendiri. Sebenarnya siapa mereka?

Diberitakan CNN, mereka memiliki sebutan hafu. Hafu, kata dalam Bahasa Jepang yang berarti setengah dalam Bahasa Indonesia.

Sebutan ini mengacu pada orang-orang yang secara etnis berdarah setengah Jepang. Namun kini, kata tersebut lebih sering digunakan untuk orang multietnis pada umumnya di Jepang.

Anna, bukan nama yang sebenarnya, salah satu hafu, memiliki ibu dari Jepang dan ayah berkulit putih Amerika. Ia menghabiskan masa kecilnya di Jepang, sebelum pindah ke AS saat remaja.

Jepang adalah negara homogen berdasar angka resmi, menurut sensus yang dilakukan pada 2018 dengan 98 persen orang yang tinggal di sana sebagai pribumi. Oleh karena itu, orang dengan rupa berbeda akan lebih menarik perhatian.

Dalam beberapa kasus, itu bukanlah hal yang buruk meski hanya ada sedikit ejekan rasis. Namun, orang-orang yang mengatakan dia adalah Jepang malah membuatnya merasa berbeda.

Banyak artis dan bintang olahraga berdarah campuran yang sangat populer di Jepang. Mereka antara lain model, Rina Fukushi, dan atlet tenis, Naomi Osaka, yang lebih menonjol di ranah publik di Jepang juga global.

Hafu, warga blasteran JepangHafu, warga blasteran Jepang Foto: CNN

Sejarah hafu

Identitas ras campuran memiliki sejarah yang kompleks di Jepang. Antara tahun 1639-1853, Jepang menutup perbatasannya dari pengaruh asing dengan pengecualian pedagang China dan Belanda yang datang ke kota pelabuhan Yokohama dan Nagasaki.

Di pusat kota itu, istilah merendahkan seperti ainoko atau hibrida digunakan untuk menggambarkan anak-anak yang lahir dari orang tua Jepang dan orang asing, menurut Hyoue Okamura, seorang sarjana independen yang berbasis di Jepang.

Ketika perbatasan dibuka dan berlangsung modernisasi selama era Meiji (1868-1912), Jepang mulai menumbuhkan merek nasionalnya sendiri, mempromosikan homogenitas dan keunggulan rasial negara itu atas negara-negara Asia lainnya.

Dengan konsep supremasi Jepang muncul istilah baru untuk menggambarkan orang-orang dari ras campuran.

Pada tahun 1930-an, ada istilah konketsuji atau anak berdarah campuran yang menggambarkan anak-anak warga negara Jepang yang menikah dengan penduduk China, Taiwan, dan Korea yang dijajah Jepang. Anak-anak tersebut menghadapi diskriminasi karena pemerintah menganggap orang-orang dari koloni Jepang lebih rendah daripada orang Jepang.

Menyusul kekalahan Jepang dalam PD II dan selama pendudukan Amerika (1945-1952), istilah konketsuji diterapkan pada anak-anak personel militer Amerika dan wanita Jepang, dan dianggap sebagai istilah yang merendahkan. Politisi mengaitkan anak-anak itu dengan kekalahan Jepang dan menggambarkan mereka sebagai masalah bagi masyarakat.

Hafu, warga blasteran JepangHafu, warga blasteran Jepang (Foto: CNN)

Dunia berubah

Ketika Jepang menyerap pengaruh Barat bertahun-tahun pasca-Perang Dunia II, persepsi masyarakat pun berubah. Bahasa-bahasa orang Eropa dipandang cantik dan eksotis dan ketertarikan Jepang terhadap bintang film Barat tumbuh.

Ingin mengambil peluang, perusahaan manajemen Jepang mulai mempromosikan aktor, penari, dan penyanyi lokal yang berdarah campuran. Pada saat itu, istilah konketsuji yang merendahkan telah digantikan oleh hafu.

Pada tahun 1973, penggunaannya diresmikan dalam kamus edisi 1973 yang disebut Kōjirin atau "Hutan Kata-Kata yang Luas" Kanazawa Shōzaburō, di mana kata itu terdaftar sebagai sinonim dari konketsuji.

Namun, hafu tidak memiliki konotasi negatif yang sama dengan konketsuji. Kata itu bahkan digunakan sebagai nilai jual untuk mempromosikan girlband Golden Hafu.

Industri tata rias dan fesyen mengikuti tren ini, menggunakan istilah hafu-gao atau setengah wajah untuk mewakili rupa setengah orang asing. Penampilan itu menggambarkan orang Jepang dengan kaki yang lebih panjang dan wajah yang lebih jelas, termasuk mata yang lebih besar dan hidung yang lebih tinggi, memberi kesan bahwa mereka bukan orang Jepang.

Alih-alih menyatukan, kata hafu menciptakan mentalitas kita dan mereka. Orang berdarah campuran yang terlihat asing diperlakukan sebagai orang asing, meski mereka adalah warga negara Jepang.

(msl/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA