Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 07 Okt 2020 19:40 WIB

TRAVEL NEWS

Angka Kelahiran Rendah, Singapura Bayar Warganya untuk Punya Anak

Putu Intan
detikTravel
Merlion di Singapura
Singapura. Foto: (Lita Leana/d'Traveler)
Singapura -

Singapura akan menawarkan untuk membayar warganya yang akan menjadi calon orang tua pada masa pandemi COVID-19. Tujuannya, mengatasi angka kelahiran yang rendah.

Dilansir dari CNN, Rabu (7/10/2020) Wakil Perdana Menteri Singapura mengatakan insentif itu diberikan untuk membantu meyakinkan orang-orang menghadapi tekanan keuangan dan khawatir akan pekerjaan mereka.

"Kami telah menerima masukan bahwa COVID-19 menyebabkan beberapa calon orang tua menunda rencana menjadi orang tua,"nkata anggota parlemen Heng Swee Keat pada Senin lalu.

"Ini sangat bisa dimaklumi, apalagi mereka menghadapi ketidakpastian pendapatan," ia menambahkan.

Heng juga menjelaskan pembayaran itu akan membantu biaya mengurus anak yang dibutuhkan orang tua. Namun belum diketahui besaran nominal yang akan didapatkan warga Singapura.

Sebagaimana diketahui, kendati Singapura sukses mengatasi Corona, negara itu tak dapat menghindari resesi yang dalam. PDB kemungkinan menyusut 12,6 persen pada kuartal II dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya. Ekonom menyebut ini merupakan penurunan paling tajam dalam catatan sejarah Singapura.

Di samping tekanan ekonomi, Singapura juga memiliki masalah kependudukan. Negara ini memiliki tingkat kelahiran terendah di dunia.

Pemerintah telah berkali-kali memperbaiki kondisi itu sejak 1980-an dengan kampanye publik yang mendorong persalinan dan memberikan insentif keuangan serta pajak yang dapat menghentikan kemerosotan angka kelahiran.

Tingkat kelahiran di sana hanya 1,14, artinya seorang perempuan rata-rata hanya melahirkan seorang anak. Posisi Singapura ini sejajar dengan Hong Kong namun lebih baik daripada Korea Selatan dan Puerto Rico.

Supaya Singapura tak kekurangan warga negara, perempuan di sana harus memiliki rata-rata 2,1 bayi. Akan tetapi itu bukan hal mudah, mengingat di negara maju terjadi penurunan proporsi pasangan dan berkurangnya peran gender tradisional yang menyebabkan tingkat kesuburan turun secara global.

"Seperti banyak negara maju, tantangan utama populasi Singapura adalah kesuburan yang rendah dan populasi yang menua," tulis pemerintah dalam laporan 2011.

"Tujuan kami adalah untuk mencapai populasi berkelanjutan yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan kohesi sosial, sehingga Singapura tetap bersemangat dan layak huni,"ujar pemerintah.



Simak Video "Travel Bubble antara Singapura dan Australia Terancam Batal!"
[Gambas:Video 20detik]
(pin/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA