Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 12 Okt 2020 09:02 WIB

TRAVEL NEWS

Koper dengan Kecerdasan Buatan, Solusi Pemandu Buat Tunanetra?

Koper AI
Koper AI (Foto: CNN)
Tokyo -

Para ahli tengah menyiapkan koper AI (artificial intelligence) atau kecerdasan buatan yang canggih. Alat ini diharap dapat mempermudah tunanetra melakukan perjalanan seorang diri, menyusuri bandara misalnya.

Tantangan itu yang coba diselesaikan oleh Chieko Asakawa, seorang ilmuwan komputer dan peneliti IBM. Diberitakan CNN, Senin (12/10/2020) Chieko membagi waktunya antara AS dan Jepang, melakukan perjalanan setiap bulan.

Jika bepergian tanpa pendamping, dia harus dikawal oleh staf bandara untuk menyusuri kedua ujungnya. Kadang pendampingnya harus menunggu hingga ia terbang.

Mencari alternatif yang lebih baik membuat Asakawa menemukan koper berteknologi tinggi yang membantunya sampai ke tujuannya dengan aman dan efisien.

Dikemas dengan kamera dan sensor, teknologi yang sama banyak ditemukan di mobil otonom. Koper ini menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk memetakan lingkungan di sekitarnya, menghitung jarak antara pengguna dan objek baik yang diam maupun yang bergerak.

Aplikasi ponsel digunakan untuk memprogram tujuan ke dalam koper. Lalu mereka dapat merencanakan rute dan mengarahkan pengguna melalui getaran di pegangannya.

Koper tersebut juga dilengkapi teknologi pengenalan wajah, yang dapat memberi tahu pengguna jika ada teman di dekatnya. Lainnya, juga dapat menandai toko dan tempat menarik lainnya di sekitar dan mengarahkan pengguna ke sana jika diminta.

Konsep tersebut telah dikembangkan sejak 2017 dalam kolaborasi antara IBM, perusahaan Jepang lainnya, dan Universitas Carnegie Mellon di Pennsylvania, di mana Chieko adalah profesor layanan terkemuka IBM di Robotics Institute.

Chieko mengatakan ada harapan untuk mengkomersialkan koper tersebut dan skema percontohan direncanakan untuk mengujinya di bandara, pusat perbelanjaan dan ruang publik lainnya. Meskipun versi saat ini terlalu penuh dengan teknologi dan tak bisa menampung pakaian, itu bisa berubah di masa depan, katanya.

Chieko adalah seorang atlet lari yang memendam impian berlaga di Olimpiade. Tapi kecelakaan renang pada usia 11 menyebabkan dia secara bertahap kehilangan penglihatannya sampai, pada usia 14, dia menjadi buta total.

Sebagai orang dewasa, dia telah mengabdikan hidupnya untuk mengembangkan teknologi aksesibilitas. Di antara kreasinya adalah "aDesigner", simulator disabilitas bagi para desainer untuk membuat situs web mereka lebih ramah pengguna, dan "IBM Home Page Reader," browser suara pertama yang memungkinkan akses internet untuk tunanetra.

Chieko telah memenangkan penghargaan industri dan pemerintah. Ia mendapat penghargaan di US National Inventors Hall of Fame. Kegelisahan inilah yang menciptakan koper AI.

"Saya tidak pernah santai saat bepergian sendirian. Saya selalu berpikir tentang teknologi apa yang akan membantu saya bepergian dengan lebih mudah, lebih cepat, dan lebih nyaman," kata Chieko.

Dia mengatakan bahwa koper ini juga memiliki aplikasi lain dan dapat digunakan untuk membantu orang-orang tunanetra menavigasi kota. Sementara itu, teknologi pengenalan objeknya dapat digunakan untuk mengidentifikasi warna, berguna saat berbelanja pakaian.

"Orang tunanetra biasanya menggunakan tongkat putih atau anjing penuntun. Tapi dengan menggunakan alat bantu gerak ini, kita harus selalu memperhatikan dunia sekitar kita," kata Chieko.

Dengan AI yang memberikan penglihatan spasial, seorang tunanetra bisa melakukan hal-hal lain, yakni menerima telepon, mendengarkan burung, hingga melamun. Ruang publik bisa menjadi tempat untuk dinikmati, bukan sekedar dinavigasi.

"Ini akan membuka banyak pintu bagi para tunanetra, karena kami bisa pergi ke mana saja sendirian," kata Chieko.

Teknologi ini secara alami akan berkembang, prediksi dia. Karena, komponen koper pintar menjadi lebih kecil, lebih ringan, dan lebih bertenaga.

(msl/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA