Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 12 Okt 2020 10:02 WIB

TRAVEL NEWS

Maskapai Butuh Bantuan, Tiap Menit Rp 4 Miliar Hangus

Airplanes side by side in airport
Pesawat harus parkir di bandara saat pandemi Foto: Getty Images/iStockphoto/gerenme
Jenewa -

Larangan terbang membuat maskapai di seluruh dunia menderita. Rata-rata mereka harus membakar uang USD 300.000 tiap menit atau sekitar Rp 4,4 miliar tiap menitnya karena tingginya biaya operasi.

International Air Transport Association (IATA) memperingatkan selama paruh kedua tahun 2020 maskapai harus kehilangan USD 13 miliar per bulan atau USD 300 ribu per menitnya, meski beberapa maskapai sudah mulai beroperasi kembali. Itu berarti selama paruh kedua tahun 2020, maskapai kehilangan USD 77 miliar.

Pemulihan yang berlangsung lambat di industri penerbangan diprediksi akan terus membawa dampak sampai tahun 2021, dengan perkiraan USD 5-6 miliar yang hangus per bulannya.

IATA pun meminta bantuan pemerintah untuk mendukung industri penerbangan dengan beberapa inisiatif termasuk bantuan dana yang tidak menambah lebih banyak ke maskapai. Sejauh ini, pemerintah di seluruh dunia sudah memberikan bantuan sebesar USD 160 miliar dalam bentuk bantuan pajak, subsidi upah dan pajak bahan bakar.

"Kami berterima kasih dengan dukungan yang ditujukan untuk mendukung industri transportasi dan membantu ekonomi dan menjaga pekerjaan di sektor transportasi dan wisata. Tapi krisis semakin dalam dan lebih lama dari yang bisa kita bayangkan. Semua bantuan sudah mulai menipis, hari ini kami mesti membunyikan alarm lagi. Jika program bantuan ini tidak diganti atau diperpanjang, akan memberikan dampak yang mengerikan buat industri yang sudah tertatih-tatih," ujar CEO IATA Alexandre de Juniac.

Biasanya, maskapai mendapatkan penghasilan di musim panas seiring meningkatnya jumlah perjalanan, yang bisa menjadi modal untuk bulan-bulan berikutnya yang relatif sepi.

"Sayangnya pada musim semi dan panas ini tidak memberikan bantalan yang cukup, pada kenyataannya, maskapai membakar uang selama periode tersebut. Dan tanpa kejelasan dari pemerintah untuk membuka perbatasan tanpa karantina yang selama ini sudah mematikan perjalanan, kami tidak dapat mengandalkan musim liburan akhir tahun untuk menyediakan pendapatan ekstra untuk membantu kami sampai musim semi," ujar de Juniac.

IATA memperkirakan bahwa meskipun maskapai memotong biaya lebih dari 50% selama kuartal kedua, industri ini mengalami rugi $ 51 miliar dalam bentuk tunai karena pendapatan turun hampir 80% dibandingkan periode tahun lalu. Pengurasan uang terus berlanjut selama bulan-bulan musim panas, dengan maskapai penerbangan diperkirakan akan mengeluarkan uang tunai tambahan USD 77 miliar selama paruh kedua tahun ini dan USD 60-70 miliar lebih lanjut pada tahun 2021. Neraca maskapai diyakini tidak akan positif setidaknya sampai tahun 2022

Maskapai telah melakukan beberapa langkah untuk memangkas biaya. Ini termasuk memarkir ribuan pesawat, mengurangi rute perjalanan dan biaya dan serta mengurangi ratusan ribu karyawan yang berpengalaman dan berdedikasi.



Simak Video "Maskapai Thailand Nokscoot Hentikan Operasional"
[Gambas:Video 20detik]
(ddn/pin)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA