Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 13 Okt 2020 20:53 WIB

TRAVEL NEWS

Apa Itu Lintang Kemukus? Berikut Jawabannya Antara Mitos dan Fakta

Rosmha Widiyani
detikTravel
lintang kemukus
Foto: Tangkapan layar/Apa Itu Lintang Kemukus? Berikut Jawabannya Antara Mitos dan Fakta
Jakarta -

Fenomena lintang kemukus masih jadi pembicaraan hingga muncul dalam Google Trend Visualize dilihat detikcom pada Selasa (13/10/2020). Pertanyaan seputar kejadian astronomi ini bikin penasaran, misal apa itu lintang kemukus dan benarkah mitos yang mengikuti fenomena ini?

Dikutip dari situs Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN), peneliti Emanuel Sungging Mumpuni dari Pusat Sains Antariksa (Pussainsa) sempat menjelaskan apa itu lintang kemukus. Fenomena ini sempat ramai di Facebook serta Twitter dan diklaim muncul di Tuban dan Bojonegoro, Jawa Timur.

"Itu fireball atau meteor agak besar kebetulan dalam beberapa hari ini musim hujan meteor. Bisa jadi. Tidak berbahaya, normal terjadi," kata Emanuel.

Peneliti LAPAN Rhorom Priyatikanto juga membicarakan apa itu lintang kemukus, yang dikatakan sebagai misinformasi. Cahaya tersebut merupakan pantulan dari cahaya Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), bukan fenomena atmosfer atau antariksa.

"Misinformasi, gambar telah dipotong dan terdapat cahaya terang PLTU pada yang asli. Saya lebih yakin untuk mengatakan, jejak merah adalah hasil glare atau sorotan cahaya dari PLTU," kata Rhorom.

Jejak merah di langit tidak jelas menggambarkan lintang kemukus yang bisa disebabkan meteor atau komet. Menurut Rhorom, cahaya terang dari PLTU masuk langsung ke lensa kamera dan melalui pantulan internal. Cahaya pantulan internal inilah yang dikira berasal dari langit, meski sebetulnya tidak seperti itu.

Selain sebagai fenomena astronomi, fenomena apa itu lintang kemukus disebut dalam cerita masyarakat Jawa. Dikutip dari situs Planetarium Jakarta, mitos lintang kemukus ada dalam manuskrip Babad Tanah Jawi versi Serat Babad Segaluh dumugi Mataram (Babad Galuh-Mataram).

Sementara dalam tulisan berjudul Komet: Sang Pengelana dari Tepian Tata Surya tersebut, kisah lintang kemukus dalam manuskrip isinya sama dengan Serat Babad Tanah Jawi pada naskah Radyapustaka Nomor 128 bab Teluh Condong-campur. Kisah tersebut menceritakan, keris Kyai Condong-campur kalah dan kembali ke tempatnya.

Setelah kejadian tersebut, Majapahit bebas dari wabah penyakit dan Prabu Brawijaya memerintahkan penghancuran keris. Ketika sudah dibakar hingga merah dan siap dihancurkan, keris tersebut tiba-tiba terbang bersama teluh braja (senjata). Melesatnya keris inilah yang disebut lintang kemukus atau bintang berasap.

Lenyapnya keris Kyai Condong-campur diceritakan menjadi tanda runtuhnya Majapahit. Dalam sejarah Nusantara, Majapahit runtuh dikenal dengan kata sirna ilang kertaning bumi yang merujuk pada 1478 Masehi. Lantas benarkah ada lintang kemukus saat di langit saat Majapahit runtuh?.

Sejarah astronomi menjelaskan, saat itu ada tiga komet yang mungkin bisa terlihat hingga akhir kekuasaan Prabu Brawijaya V pada 1478. Ketiganya adalah komet 1471Y1 magnitudo semu minus 3 pada 1471, 1P/Halley pada 1456, dan 1468S1 pada 1468. Kandidat lain adalah C/1491 B1 yang terlihat pada 20 Februari 1491.



Simak Video "Mengamati Bintang di Rumah Teropong, Lembang"
[Gambas:Video 20detik]
(row/pal)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA