Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 27 Okt 2020 21:04 WIB

TRAVEL NEWS

Tim Arsitek Pulau Rinca: Pembangunan di Zona yang Sudah Ada

Johanes Randy Prakoso
detikTravel
Pembangunan Pulau Rinca
Ilustrasi pembangunan di Pulau Rinca (Florianus Nandi/Istimewa)
Labuan Bajo -

Pembangunan di Pulau Rinca yang adalah habitat komodo menuai pro kontra. Menurut tim arsitek yang mendesain, pembangunan ada di atas zona yang lebih dulu ada.

Jagat media sosial dan masyarakat setempat ramai memberitakan pembangunan di Pulau Rinca setelah foto komodo yang menghadang salah satu truk pembangun viral di dunia maya. Tak sedikit yang menyorot, kalau pembangunan di sana malah merusak habitat komodo yang semestinya dilindungi.

Pembangunan di Pulau Rinca pun kian diperburuk oleh narasi Jurassic Park yang banyak beredar dan berkembang di masyarakat. Menanggapi hal itu, Hafila Fania dari tim arsitek PT HAN AWAL yang diberi mandat mendesain oleh Kementerian PUPR bercerita pada detikTravel perihal miskonsepsi yang terjadi, Selasa (27/10/2020),

"Jadi sebenarnya kami pun juga membangun ini di zona yang sudah ada. Mungkin kalau orang yang sudah pernah ke Rinca, mereka tahu situasinya di situ. Sudah ada bangunan berserakan, sequence-nya tidak jelas dan pengembangannya sangat parsial dan buruk. Dan kami hanya menata itu jadi bangunan yang utuh, dari 13 bangunan jadi 1 bangunan," ujar Fania.

Oleh PT HAN AWAL, Hafila Fania diberi mandat membuat desain terkait pusat informasi dan fasilitasnya. Sedangkan bagian penataan dermaga, didesain oleh Reginald Agussalim.

Memakai dasar tersebut, Fania menyebut kalau sebelumnya Pulau Rinca memiliki bangunan existing di zona pemanfaatan yang belum tergarap maksimal. Pihaknya fokus membangun di atas bangunan yang telah ada sekaligus merapikannya demi kenyamanan wisatawan.

Desain Pulau Rinca.Desain Pulau Rinca (dok HAP/Instagram)

Namun, Fania sangat menyayangkan perihal narasi yang berkembang di masyarakat dan dunia maya soal desainnya yang disebut sebagai kandang Jurassic Park. Padahal, tidak demikian.

"Jadi kami sangat kecewa dengan beberapa orang yang sudah memelintir ini akan jadi film Jurassic Park dan sampai sejauh itu mereka membuat narasi kalau kami akan merusak habitat komodo. Justru kami itu tujuannya membuat komodo nyaman agar tidak bertabrakan dengan manusia, karena turis yang datang ke Pulau Rinca itu naik tiap tahunnya dan kami punya data itu semua," tambah Fania.

Fania dan tim arsitek disebut hanya mengerjakan proyek yang berdiri di atas sebagian kecil dari Pulau Rinca.

"Jadi kalau ada yang bilang bangunan saya seolah-olah mengepung Pulau Komodo, padahal bangunan saya hanya menggantikan bangunan yang sudah ada dan pemanfaatannya hanya sekitar 2-4 hektar dari 150 ribu hektar Pulau Komodo, bayangin hanya sekecil itu," pungkasnya.

Serupa dengan yang diucapkan oleh Fania, Dirjen Konservasi SDA dan Ekowisata, KLHK Wiratno dalam wawancara CNNIndonesia Senin kemarin (26/10), juga menekankan hal serupa.

"Tidak ada Jurassic Park, tidak ada istilah itu. Ini hanya perbaikan sarana dan prasarana yang mengadopsi dan melarang visitor berinteraksi langsung berfoto dengan komodo. Konsep Jurassic Park tidak pernah ada, saya tidak tahu datangnya di mana, jadi membangun, memperbaiki kualitas perbaikan di Loh Buaya, salah satu dari puluhan lembah yang dihuni oleh komodo," ujarnya.

Dia menambahkan, nantinya kawasan yang dibangun ini bukan kawasan yang eksklusif. Pulau Rinca sendiri memiliki luas 20.000 hektar, sementara luas Lembah Loh Buaya adalah 500 hektare atau 2,5 persen dari luas Pulau Rinca.

Estimasi populasi komodo di Pulau Rinca pada 2019 diperkirakan sebanyak 1.300 ekor, sementara populasi komodo di Lembah Loh Buaya sekitar 66 ekor.



Simak Video "Sensasi Mendaki Pulau Padar untuk Nikmati Indahnya Labuan Bajo"
[Gambas:Video 20detik]
(rdy/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA