Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 11 Nov 2020 16:45 WIB

TRAVEL NEWS

Mengintip Arsitektur Lawas Dago Lewat Pameran Foto

Siti Fatimah
detikTravel
Pameran foto Bandung zaman dulu.
Pameran arsitektur Dago zaman dulu di Bandung (Siti Fatimah/detikTravel)
Bandung -

Wilayah Dago di Kota Bandung terkenal akan kawasan heritage dengan bangunan khas Belanda serta pemilik asli pribumi. Bangunannya yang bagus dan menarik memiliki daya tarik tersendiri bagi siapapun yang kelihatnya.

Namun, dengan semakin banyaknya perubahan yang terjadi di sekitar Kota Bandung, tak jarang gedung Heritage ini lepas dari perhatian publik. Bahkan beberapa di antaranya meratakan bangunan yang sebenarnya memiliki sejarah sejak zaman Belanda.

Di Herbal House, Dago, Kota Bandung saat ini tengah digelar pameran foto bangunan 'baheula' (dulu) yang melibatkan orang-orang pribumi sebagai pemilik sekaligus yang pernah tinggal di dalamnya. Pajangan foto khas zaman dulu terpajang di sebuah ruangan berukuran 2x3 meter.

Pameran foto Bandung zaman dulu.Pameran foto ini berlangsung di Bandung Tea House (Siti Fatimah/detikTravel)

Heni Smith selaku CEO The Lodge Group sekaligus Pelaksana Pameran Dago Baheula mengatakan, pameran ini pada dasarnya menceritakan arsitektur bangunan dago dan kehidupan sosial masyarakat pribumi saat zaman Belanda.

"Tidak hanya gedungnya saja tetapi juga kehidupannya. Bagaimana mereka hidup di jaman dulu, bagaimana mereka bersosial," kata Heni saat ditemui detikcom, Rabu (11/11/2020).

Terlebih, dia mengatakan, bangunan herbal house yang saat ini menjadi lokasi pameran juga termasuk bangunan lama sejak 1930. "Berarti sudah sekitar 90 tahun dan saya sangat concern terhadap gedung-gedung zaman dahulu," ujarnya.

"Jadi saya berfikir ini menarik banget, dan orang-orang ternyata banyak yang ingin tahu kehidupan di gedung heritage itu seperti apa. Jadi dibikinlah pameran ini, selain untuk menunjukkan bahwa gedung tua itu indah juga ingin mendalami dan edukasi terhadap pemilik heritage, pemerintah dan anak muda penerus kita," imbuhnya.

Karena, menurutnya, di masa yang akan datang, tidak menutup kemungkinan anak-anak muda yang akan mewarisi gedung berasitektur khas Art Deco dan Jengki ini. "Banyak sebetulnya yang tidak tahu bahwa gedung itu heritage. Nah ini yang menjadikan kewajiban kita untuk mengedukasi dengan cara yang sederhana," kata Heni.

Heni menilai, bangunan heritage memiliki nilai yang sangat tinggi mengenai asal usul kehidupan seseorang. "Menurut saya itu penting bagi kita untuk mengetahui nenek moyang kita. Menjaga gedung ini sebagai bukti," ujarnya.

Sementara itu, Kontributor Foto Dina Danubrata putri dari Enoch Brata mengatakan, ada sekitar ratusan foto yang dipajang dalam pameran tersebut. Seluruhnya merupakan koleksi pribadi yang ia kumpulkan dari komunitas Tetangga Jadoel.

"Beberapa foto yang kita pilih justru yang masih eksis dan masih utuh berdiri hingga saat ini. Karena jujur saja tidak sedikit rumah yang dirombak habis atau direnovasi beberapa bagian gedung heritage," ungkapnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2
BERITA TERKAIT
BACA JUGA