Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 15 Nov 2020 22:42 WIB

TRAVEL NEWS

Tentang Sesajen di Bali yang Sering Dikaitkan Mitos Mistis

CNNIndonesia
detikTravel
Umat Hindu membawa sesajen saat persembahyangan Hari Raya Galungan di tengah situasi aktifitas Gunung Agung pada level siaga di Pura Besakih, Karangasem, Bali, Rabu (1/11). Sebagian warga Besakih masih berada di pengungsian bersama warga dari lima desa lainnya karena masuk kawasan rawan bencana di radius 7,5km namun kawasan Pura Besakih telah dinyatakan aman setelah status gunung tersebut diturunkan dari awas ke siaga. ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana/pras/17.
Arti sesajen untuk masyarakat Bali Foto: ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana
Denpasar -

Sejak keluar pintu Bandara Internasional Ngurah Rai di Bali, turis bisa melihat sesajen yang ditempatkan di sudut ruangan.

Hingga di depan minimarket, sesajen dengan warna dan wangi yang khas itu juga masih terlihat.

Banyak yang menyambungkan eksistensi sesajen dengan hal mistis, misalnya orang yang dengan sengaja menginjaknya atau melindasnya pasti mendapat celaka.

Namun di luar mitos mistisnya, sesajen ialah cara masyarakat Bali yang mayoritas memeluk agama Hindu untuk mengucap syukur pada penciptanya.

Mengutip CNNIndonesia.com Sesajen yang sering ditemui di depan rumah atau di tepi jalan jalan disebut canang sari. Ukurannya paling kecil di antara jenis sesajen lainnya yang dibuat pemeluk Hindu di Bali.

Menempatkan canang sari setiap pagi bermakna ucapan terima kasih mereka kepada Sang Hyang Widhi Wasa. Persembahan ini juga berarti berserah diri atas materi dan waktu kepada Yang Maha Kuasa.

Mengutip Kintamani.id, canang sari terdiri dari daun janur untuk wadah segi empat sebagai simbol kekuatan Ardha Candra atau bulan, dan porosan (isian) berupa pinang, sirih, daun janur, serta kapur sebagai simbol Tridharma Hindu Bali, yakni Dewa Brahma, Dewa Wisnu, serta Dewa Siwa.

Kemudian sesajen canang sari juga diisi dengan irisan tebu, pisang, dan kue-kue khas Bali.

Umat Hindu membawa sesajen untuk persembahyangan saat Hari Raya Galungan di Padmasana posko pengungsian GOR Swecapura, Klungkung, Bali, Rabu (1/11). Sejumlah pengungsi beragama Hindu memilih merayakan Hari Raya Galungan yang merupakan hari kemenangan kebenaran (Dharma) atas kejahatan (Adharma) di posko pengungsian karena tempat tinggalnya masuk kawasan rawan bencana Gunung Agung yang saat ini berstatus Siaga. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/pras/17Umat Hindu membawa sesajen untuk persembahyangan saat Hari Raya Galungan di Padmasana posko pengungsian GOR Swecapura, Klungkung, Bali, Rabu (1/11). Foto: ANTARA FOTO/Fikri Yusuf

Lalu ada sampaian urasari yang berbentuk bulat untuk tempat meletakkan bunga.

Bunga yang menjadi bahan canang sari harus segar dan harum, sebagai simbol ketulusan dan kesucian. Tak ketinggalan bunga yang dibentuk rampai, sebagai simbol kebijaksanaan.

Pemeluk agama Hindu membuat dan menempatkan canang sari setiap hari. Kalau ditempatkan di pinggir jalan, berarti yang meletakkan berharap orang-orang yang melintas diberikan keselamatan dalam hidupnya.

Banyak mitos yang beredar soal menginjak sesajen di Bali bakal mendatangkan celaka. Yang pasti dan perlu diingat, sesajen di Bali merupakan bentuk doa umat Hindu kepada Tuhannya, sehingga kita jangan sampai dengan sengaja merusaknya



Simak Video "72 Pelaku Narkoba di Bali Dibekuk, 4 di Antaranya WNA"
[Gambas:Video 20detik]
(ddn/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA