Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 05 Des 2020 17:39 WIB

TRAVEL NEWS

Bilum, Tas Tradisional Papua Nugini yang Jadi Simbol Kekayaan

Hari Suroto
detikTravel
Seorang perempuan PNG menggendong anaknya yang berumur 6 bulan dengan bilum di Desa Kudk, Pulau Karkar, Provinsi Madang, Papua new Guinea. Bilum adalah tas tradisional PNG.
Foto: Getty Images/Joel Carillet
Jakarta -

Jika Papua memiliki noken, Papua Nugini memiliki tas tradisional yang disebut dengan bilum. Bilum dapat menjadi simbol kekayaan bagi pemakainya.

Bilum adalah tas rajutan tradisional yang dikenakan terutama oleh wanita di Papua Nugini. Bilum di Papua Nugini sekilas mirip noken di Papua tapi memiliki ciri khas dengan berbagai warna dan corak sesuai dengan asalnya.

Jadi bilum dari daerah dataran tinggi umumnya terbuat dari wol dan berwarna cerah, sedangkan bilum pesisir pantai terbuat dari bulu binatang atau tanaman merambat, dan warnanya yang menjemukan berasal dari pewarna nabati alami.

Tas-tas ini adalah sumber mata pencaharian penting bagi perempuan Papua Nugini. Bilum memberikan banyak kesempatan pertama mereka untuk memasuki ekonomi formal dan mendapatkan uang di daerah-daerah seperti dataran tinggi, di mana penduduk desa-desa terpencil memiliki sedikit peluang di luar pertanian dan berpenghasilan rendah.

Dengan demikian, perempuan diberdayakan sebagai pengusaha mikro, meningkatkan status mereka di komunitas pedesaan tempat mereka berada, dan meningkatkan kekuatan pengambilan keputusan di dalam keluarga mereka sendiri, karena mereka mampu menghasilkan uang dengan menjual bilum.

Bilum lebih dari sekedar tas bagi banyak wanita Papua Nugini. Bilum bisa menjadi hadiah dari orang yang dicintai, kenang-kenangan dari kampung halaman, simbol kekayaan atau posisi seseorang di masyarakat.

Wanita menempatkan tali bilum mereka di sekitar dahi mereka untuk memaksimalkan kekuatan mereka dan untuk keseimbangan yang lebih baik saat mengangkut beban yang berat.

Berkat kain alami yang tahan dan elastis, para ibu menggunakan bilum sebagai tempat tidur gantung untuk bayi yang digantung di pohon.

Generasi milenial Papua Nugini saat ini bahkan menggunakan bilum berukuran saku untuk membawa ponselnya.

Dalam merajut bilum, dibutuhkan lebih dari dua minggu kerja keras untuk menghasilkan satu tas. Desain motif bilum menceritakan peristiwa, cerita, atau asal muasal, semuanya berdasarkan pengalaman. Perajin bilum sangat bangga dengan motif yang dibuatnya.

Beberapa bilum memiliki pola geometris yang mengidentifikasi pemiliknya sebagai milik suku atau marga tertentu.

Tas dengan corak yang lebih kompleks dengan bangga dipajang di acara-acara publik seperti festival atau upacara pembayaran mas kawin di masyarakat di mana pakaian ini jauh melampaui penggunaan aksesori fesyen belaka.

Terkenal di dalam negeri, bilum kini semakin tersedia di pasar internasional karena turis membelinya sebagai oleh-oleh, dan perusahaan Prancis yang membuat tas dan sabuk pengaman dari plastik daur ulang telah mendaftarkan nama bilum sebagai merek dagang.

Selanjutnya: Bilum dipasarkan sampai Australia

Tas bilum juga dipasarkan di Australia dan Selandia Baru. Selain itu juga dipasarkan secara internasional melalui daring, dan melayani pengiriman ke seluruh dunia.

Dalam masyarakat modern, pria dan wanita biasanya membawa uang, riasan, kunci, dan barang pribadi lainnya di tas mereka. Di Papua Nugini, bilum bercerita tentang komunitas dan masyarakat melalui pola.

Mereka membawa bayi dan barang berharga lainnya dan memberikan kesempatan kepada banyak perempuan untuk memasuki perekonomian formal dan dengan demikian tas serbaguna ini telah menjadi simbol pemberdayaan ekonomi perempuan di Papua Nugini.

Pemerintah Papua Nugini sangat gencar membuat program unggulan berkaitan dengan tas bilum untuk mengentaskan kemiskinan. Pemerintah Papua Nugini membuat pelatihan pada para perajin bekerja sama dengan desainer fashion. Selain itu mereka juga gencar melakukan promosi hingga ke luar negeri.

Dengan menginternasionalisasikan bilum, maka akan membawa lebih banyak lagi peluang memperoleh pendapatan bagi para wanita Papua Nugini yang menjadikan mereka dan keluarga mereka yang bergantung pada penjualan bilum untuk keluar dari kemiskinan di daerah pedesaan terpencil negara itu.

Di Papua Nugini, bilum secara tradisional mengacu pada jenis tas yang merupakan simbol status sosial perempuan. Wanita yang sudah menikah mengenakan tali bilum di dahi mereka, membawa barang belanjaan dan anak-anak di tas bilum elastis mereka.

Tas bilum dibuat dengan tangan menggunakan teknik jaring tanpa simpul dan berbagai metode pengulangan. Secara tradisional dibuat dari bahan tanaman lokal, seperti alang-alang, serat dari kulit kayu, daun pandan, dan daun tikar.

Itu juga bilum dapat dibuat dengan menggunakan alternatif seperti wol atau kapas, membuka kemungkinan warna yang dapat dimasukkan ke dalam motif bilum.

Dalam beberapa tahun terakhir, para wanita Papua Nugini telah merevolusi cara berpikir orang tentang bilum.

Terjadi pergeseran dalam penggunaan teknik tradisional ketika Florence Jaukae Kamel, seorang seniman dan desainer Papua Nugini, berkreasi dan mulai berpikir untuk menggunakan bilum sebagai bahan kain untuk pakaian daripada sekedar tas.

Bilum sangat praktis, dapat berfungsi untuk membawa bahan makanan, mengganti kantong plastik dan juga mudah digulung atau dilipat.

Berbeda dengan Papua Nugini yang mampu mendatangkan keuntungan ekonomi, noken Papua yang telah diakui UNESCO belum meningkatkan kesejahteraan mama-mama Papua perajin noken.

Promosi noken sangat di dalam negeri dan luar negeri sangat kurang. Selain itu jarang dilakukan pelatihan mama-mama perajin noken.

Perajin bilum Papua Nugini didukung oleh desainer dan pemerintah Papua Nugini berani berimprovisasi dengan warna, motif dan model yang disesuaikan dengan fashion kekinian.

(pin/pin)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA