Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 09 Des 2020 09:07 WIB

TRAVEL NEWS

Tracing Your Roots, Telusuri Jejak Leluhur Keluarga Indo-Belanda di Indonesia

Hari Suroto
detikTravel
Rumah panggung danau sentani
Foto: Rumah panggung di Danau Sentani bercat bendera Belanda(Hari Suroto/Istimewa)
Jakarta -

Di tengah terpuruknya industri wisata Indonesia akibat COVID-19, ada harapan baru untuk memulihkannya. Salah satunya, melalui wisata minat khusus tracing your roots.

Saat ini, di Belanda, Suriname, dan Kaledonia Baru sedang tren dengan gerakan tracing your roots. Yakni, bernostalgia mencari jejak leluhur dan sejarah keluarga Indo-Belanda di Indonesia.

Gerakan tracing your roots ini dilakukan oleh generasi milenial keturunan Indo-Belanda atau keturunan diaspora Indonesia. Keturunan diaspora Jawa banyak dijumpai di Suriname dan Kaledonia Baru, Pasifik Selatan.

Untuk di Belanda, mereka adalah generasi ketiga, yang orang tua atau kakeknya direpatriasi ke Belanda setelah Indonesia merdeka atau generasi kedua yang orang tuanya bermigrasi ke Belanda setelah peralihan kekuasaan Belanda ke Indonesia di Papua tahun 1963.

Para generasi milenial itu berbekal arsip, catatan keluarga, dan cerita yang diwariskan turun temurun untuk datang ke Indonesia. Mereka menelusuri jejak asal usul leluhur mereka, berkunjung ke keluarga, berkunjung ke situs-situs candi dan situs-situs bangunan indis, melihat tradisi batik, wayang, dan merasakan kuliner Indische rijsttafel.

Mereka bangga leluhur memiliki berasal dari daerah tropis Indonesia yang indah. Situs-situs bangunan indis ini merupakan hasil perpaduan arsitektur Indonesia dan Eropa, dapat dilihat pada kota-kota tua di Indonesia.

Mereka juga ingin merasakan kuliner Indische rijsttafel seperti dalam lagu yang dilantunkan oleh Wieteke van Dort berjudul Geef Mij Maar Nasi Goreng atau Beri Saja Aku Nasi Goreng.

Kuliner Indische rijsttafel terdiri atas nasi goreng, lontong, ketan, sate, kerupuk, kue lapis, onde-onde, sambel goreng, wedang sekoteng, tahu petis, klappertart dan sebagainya.

Untuk keturunan Maluku-Belanda, mereka datang ke Ambon pada bulan Agustus setiap tahunnya. Selain mengunjungi keluarga, mereka juga senang menikmati kuliner khas Maluku dan Papua yaitu papeda dan ikan kuah kuning.

Setelah berkunjung di Maluku, sebagian mereka datang ke Papua terutama ke daerah yang orang tua atau kakeknya dulu pernah bertugas antara lain di Merauke, Jayapura, Wamena, Fakfak, kemudian berlanjut ke Sorong dan berakhir di Raja Ampat.

So, pemerintah dan pemangku kepentingan bisa menjadikan tracing your roots sebagai salah satu peluang pengembangan wisata.

---

Artikel ini dibuat oleh Hari Suroto dari Balai Arkeologi Papua dan diubah seperlunya oleh redaksi.



Simak Video "Belanda Lockdown hingga 9 Februari 2021"
[Gambas:Video 20detik]
(elk/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA