Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 14 Jan 2021 12:17 WIB

TRAVEL NEWS

Mengenal Pemilik Sriwijaya Air, Dulu Bisnis Garmen Lalu Kelola Maskapai

Putu Intan
detikTravel
Dirut Sriwijaya Air, Chandra Lie saat berkunjung ke kantor detikcom, kamis (31/03/2016). Reno/detikcom.
CEO Sriwijaya Air, Chandra Lie (Foto: Reno Hastukrisnapati Widarto)
Jakarta -

Sriwijaya Air yang merupakan maskapai terbesar ketiga di Indonesia, dimiliki oleh pengusaha bernama Chandra Lie. Sebelum mengelola maskapai, ia ternyata adalah pengusaha garmen yang sukses.

Dikumpulkan detikcom dari berbagai sumber, Chandra Lie lahir di Pangkal Pinang pada 4 April 1965. Sejak kecil, Chandra dikenal sebagai sosok yang ulet dalam bekerja. Ia juga semangat menempuh pendidikan hingga hijrah ke Jakarta.

Sempat bercita-cita menjadi guru olahraga dan pengacara, Chandra justru akhirnya terjun ke bisnis garmen. Bisnis itu mulanya ia geluti dengan modal kecil yakni 7 mesin untuk memproduksi pakaian. Ia terus mengembangkan bisnisnya hingga memiliki 150 mesin.

Tak puas menekuni bisnis garmen, Chandra kemudian mulai merambah ke bisnis penerbangan. Awal mula keinginan itu muncul lantaran Chandra kerap mengalami kesulitan pulang kampung dari Jakarta ke Pangkal Pinang. Ia harus naik kapal selama 11 jam dan seringkali juga terhalang ombak besar.

Maka dari itu ia berpikir, ini akan lebih mudah bila terbang menggunakan pesawat. Ia pun akhirnya menyerahkan bisnis garmen itu kepada temannya dan mulai mengelola bisnis penerbangan.

Chandra Lie bersama dengan saudaranya yakni Hendry Lie, Johanes B, dan Andy Halim akhirnya mengajukan izin untuk membentuk maskapai pada tahun 2000. Saat itu, mengajukan izin berbisnis maskapai bukan sesuatu yang sulit.

Ini karena adanya deregulasi penerbangan yang memungkinkan siapapun mendirikan maskapai penerbangan dengan hanya dua atau satu unit pesawat. Hal tersebut diatur dalam UU Nomor 15 Tahun 1992 tentang Penerbangan, dan Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1995 tentang Angkutan Udara.

Tiga tahun berselang, tepatnya pada 10 November 2003, mereka akhirnya diizinkan mengoperasikan maskapai yang diberi nama Sriwijaya Air.

Saat itu, Chandra Lie hanya memiliki satu unit pesawat Boeing 737-200. Pesawat itu melayani rute Jakarta-Pangkal Pinang dan Pangkal Pinang-Jakarta.

Sriwijaya Air terbilang berani bersaing dengan maskapai-maskapai pendahulunya seperti Garuda Indonesia dan Lion Air yang saat itu sudah lebih dulu dipercaya publik. Maskapai ini menjual tiket Jakarta-Pangkal Pinang seharga Rp 175 ribu.

Perlahan tapi pasti, Sriwijaya Air pun menambah rute yakni Jakarta Palembang, Jakarta-Jambi, dan Jakarta-Pontianak. Sriwijaya Air kemudian menambah armada mereka yakni empat pesawat Boeing 737-200.

Bisnis milik Chandra Lie ini kian berkembang karena dianggap mampu mengisi kekurangan dari maskapai-maskapai saingannya. Misalnya mereka membuka rute-rute baru dan membuka jadwal terbang lebih pagi dari jadwal maskapai lainnya.

Bermula dari hanya 1 pesawat dan 1 rute perjalanan pulang-pergi, saat ini Sriwijaya Air memiliki 48 pesawat Boeing dan melayani 53 rute penerbangan. Selain itu, Chandra Lie juga membuka anak perusahaan baru bernama NAM Air yang melayani penerbangan feeder.

Pada November 2018, Sriwijaya Air dan NAM Air mulai masuk dalam manajemen Garuda Indonesia Group melalui anak perusahaan PT Citilink Indonesia. Namun kerja sama ini tak bertahan lama. Mulai akhir Oktober 2019, kedua grup maskapai itu sudah memilih jalannya masing-masing.



Simak Video "Tim DVI Polri Sudah Terima 714 Sampel DNA Korban Sriwijaya Air"
[Gambas:Video 20detik]
(pin/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA