Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 07 Feb 2021 18:54 WIB

TRAVEL NEWS

Imbas Pandemi, 60 Hotel di Bali Bakal Dijual

Tim detikcom
detikTravel
Hotel-hotel Bali bertabur promo di akhir tahun. Salah satunya adalah Fashion Hotel Legian. Nah lho, penasaran?
Ilustrasi hotel di Bali (Muhammad Ridho/detikTravel)
Denpasar -

Sebanyak 60 hotel di Bali dikabarkan sedang ditawarkan untuk dijual. Imbas dari COVID-19.

Hotel tersebut tersebar di seluruh kabupaten/kota di Bali dan paling banyak berada di Kabupaten Badung. Situasi ini sebagai dampak matinya pariwisata Bali di tengah pandemi COVID-19.

"Nah ini kenapa dijual, tentu karena pandemi ini sudah berlangsung hampir setahun. Kedua mereka tidak kuat untuk membiayai operasional karena tingkat huniannya hanya single digit," kata Wakil Ketua Bidang Budaya, Lingkungan dan Humas Badan Pengurus Daerah (BPD) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya saat dihubungi detikTravel, Minggu (7/1/2021).

Menurutnya, sejak sebelum pandemi sudah ada kurang lebih 20an hotel yang ditawarkan untuk dijual. Jumlah ini kemudian bertambah banyak di masa pandemi menjadi sekitar 60an hotel. Sebab, tingkat hunian hotel di Bali hanya berkisar di angka 5 persen.

"Punya kamar 100 isi 5 kamar, punya kamar 200 isi 7 kamar. Kan tidak akan bisa survive karena biaya operasional hotel itu pasti akan minus, tidak bisa menutupi. Karena biaya listrik, gaji pegawai, maintenance itu sangat berat," kata Rai Suryawijaya.

Menurutnya, meskipun pemilik hotel mengambil kebijakan untuk menutup usahanya, biaya operasional tetap berjalan. Berbagai biaya operasional tersebut seperti kolam renang, kebun, pembersihan kamar, termasuk biaya security untuk mengawasi properti hotel.

"Itu persoalan kita. Wajar saja ditawarkan (untuk dijual). Karena kita tidak tahu sampai kapan (pandemi COVID-19) ini akan berakhir" jelasnya.

Kondisi ini diperberat karena hotel mempunyai kewajiban yang harus dibayar di bank. Walaupun kewajiban ini diberikan relaksasi penundaan pembayaran pokok, namun pembayaran bunga tetap berjalan seperti biasa.

"Sekarang kan pengusaha kekuatannya hanya tiga bulan persediaannya. Siapapun tidak menyangka (pandemi) ini akan terjadi sangat lama," kata pria yang juga menjabat sebagai Ketua BPC PHRI Kabupaten Badung itu.

Selama tiga bulan pertama pandemi COVID-19 di Bali, yakni April hingga Juni 2020, pengusaha masih bisa mengatasi turunnya kunjungan wisatawan. Namun sejak Juli 2020, pengusaha pariwisata di Bali sudah mulai 'angkat tangan'. Situasi ini mencoba diatasi oleh para pengusaha dengan mengambil tabungannya sendiri untuk membiayai operasional hotel. Kekuatan ini juga dimiliki oleh pengusaha di Bali rata-rata selama tiga bulan sampai September 2020.

Saat September 2020, para pengusaha hotel di Bali bisa sedikit bernafas lega dengan adanya dana hibah kepariwisataan. Namun hibah ini juga hanya bisa membantu operasional kurang lebih selama dua bulan, yakni hingga Oktober 2020.

"Nah sekarang kita menutupi yang lain bagaimana. Situasi yang sangat sulit ini (penjualan) hotel itu sangat wajar. Orang maunya amankan bisnis," terangnya.

Di sisi lain, pembukaan pariwisata Bali untuk wisatawan domestik belum mampu mendongkrak okupansi hotel. Sebab kedatangan wisatawan domestik ke Pulau Dewata hanya berada di antara 2.800 sampai 3.000 orang per hari. Sedangkan persediaan kamar hotel di Bali hingga saat ini sudah berada di 46 ribu kamar.

"Jadi hanya beberapa hotel saja dibuka masih single digit (okupansinya). Apalagi (dibuka) semua hotel," jelas pria yang juga sebagai Tim Ahli Gubernur Bali itu.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Putu Astawa mengatakan, pihaknya belum mempunyai data pasti mengenai jumlah hotel yang dikabarkan bakal dijual.

"Kita belum ada data yang rinci soal hotel-hotel yang dijual," kata melalui keterangan tertulisnya, Minggu (7/2/2021).

Menurutnya, soal hotel dijual sudah terjadi dari sebelum pandemi COVID-19 karena ada banyak yang dibangun dengan dana pinjaman. Apabila income tidak bisa membayar bunga dan pokok dari pinjaman, tentu salah satu solusi adalah menjual properti tersebut jika tidak ada solusi lainnya.

"Bagi hotel-hotel yang dibangun dari uang dingin tentu aman-aman saja dan itu juga jumlahnya banyak sekali, plus hotel BUMN tentu masih aman," kata Astawa.

Penjualan hotel biasanya dilakukan sesama antar-pengusaha, tidak dijual terbuka ke umum. Para pemilik biasanya menjual hotel tersebut dengan dilego lantaran kebutuhan pembayaran utang atau untuk menutupi pengeluaran di tengah kondisi sulit seperti saat ini. Khususnya di Bali.



Simak Video "Diduga Stres, WNA Asal Denmark Mengamuk di Bali"
[Gambas:Video 20detik]
(rdy/rdy)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA