Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 17 Feb 2021 20:54 WIB

TRAVEL NEWS

Menko PMK: Bhante Sri Pannavaro Mahathera Sebut Borobudur Bukan Pusat Ibadah Umat Buddha

Eko Susanto
detikTravel
Kunjungan Menko PMK ke Candi Borobudur hari Rabu (17/2/2021)
Kunjungan Menko PMK Muhadjir Effendy ke Borobudur (Eko Susanto/detikTravel)
Magelang -

Dalam kunjungan ke Bukit Dagi Borobudur, Menteri Koordinator PMK Muhadjir Effendy mengatakan kalau Candi Borobudur bukanlah pusat ibadah umat Buddha dunia.

Pusat ibadah umat Buddha sebagai dalam kitab suci disebutkan ada empat dan bukan termasuk Borobudur.

"Bukan pusat (ibadah) karena tadi sudah mendengarkan penjelasan dari Bhante Sri Pannavaro Mahathera bahwa yang resmi menjadi pusat peribadatan ada empat dan bukan termasuk Borobudur. Tetapi memang ada event-event besar yang nanti kita harapkan itu diberi keleluasaan yang lebih luas untuk umat Buddha terutama dari luar negeri untuk bisa menjalani upacara-upacara ritual yang selama ini sudah berlangsung di Borobudur," kata Muhadjir kepada wartawan di Bukit Dagi Borobudur, Rabu (17/2/2021).

Terkait dengan event-event besar dan upacara-upacara ritual, katanya, pemerintah pasti mendukung karena ini bagian dari keanekaragaman. Baik itu, keanekaragaman keyakinan dan agama Buddha termasuk agama resmi yang diakui di Indonesia. Untuk itu, pemerintah memberikan keleluasaan agar umat Buddha melaksanakan ibadahnya.

"Pemerintah jelas pasti mendukung karena ini adalah bagian dari keanekaragaman. Keanekaragaman keyakinan, apalagi Agama Buddha juga termasuk agama resmi diakui di Indonesia. Karena itu memberikan kelonggaran dan keleluasaan agar umat Buddha bisa melaksanakan ibadah dengan lebih baik, pasti kita dukung," ujarnya.

Kunjungan Menko PMK ke Candi Borobudur hari Rabu (17/2/2021)Menko PMK bertemu dengan Bhante Sri Pannavaro Mahathera (kiri) (Eko Susanto/detikTravel)

Menko PMK sebelum meninjau Bukit Dagi Borobudur, melakukan pertemuan dengan Bhante Sri Pannavaro Mahathera, Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid, Dirjen Bimas Buddha, Direktur PT TWC Edy Setijono dan lainnya. Untuk itu, kedatangan untuk mendapatkan masukan mengenai posisi Borobudur dalam konteks umat Buddha internasional.

"Saya ingin mendapatkan kepastian beliau (Bhante) sebetulnya posisi Borobudur ini dalam konteks umat Buddha internasional seperti apa. Tadi beliau sudah menjelaskan memang bukan tempat suci yang tertulis di dalam kitab. Tapi bahwa Borobudur ini adalah salah satu tempat yang sangat dihormati oleh umat Buddha secara dunia itu, iya," tutur Muhadjir.

Sekalipun demikian, kata dia, nantinya upacara-upacara keagamaan Buddha akan ditingkatkan. Selain itu, memberikan peluang seluruh umat Buddha dunia hadir di Borobudur.

"Tentu saja nanti ada upacara-upacara keagamaan agama Buddha yang akan kita tingkatkan. Kita laksanakan dengan cara yang lebih baik, dengan memberikan peluang untuk hadir seluruh umat dunia di Borobudur ini," katanya.

Sementara itu, Bhante Sri Pannavaro Mahathera mengatakan, ada empat tempat suci yang disebut dalam kitab suci.

"Empat tempat suci yang disebut kitab suci itu Lumbini (Taman Lumbini) di Nepal, Bodh Gaya di India, tempat Buddha Gautama mencapai pencerahan, kalau Lumbini tempat Buddha Gautama dilahirkan. Sarnath, tempat Buddha Gautama memberikan khotbah pertama yang di sini diperingati sebagai Asadha dan tempat Buddha Gautama meninggal dunia, Kusinara. Empat itulah. Saya tidak menyamakan hanya untuk memudahkan, mengerti kalau umat Buddha mau ibadah umrah ya keempat tersebut," ujarnya.

Kunjungan Menko PMK ke Candi Borobudur hari Rabu (17/2/2021)Didiskusikan posisi Borobudur bagi umat Buddha (Eko Susanto/detikTravel)

Bhante Pannavaro menambahkan, Borobudur meski tidak ditulis dalam kitab suci merupakan tempat yang sangat dihormati, disucikan oleh umat Buddha karena unik tidak ada duanya di dunia.

"Borobudur meski tidak ditulis di dalam kitab suci adalah tempat yang sangat dihormati, disucikan oleh umat Buddha karena unik tidak ada duanya di dunia," tuturnya.

Pihaknya berharap, upacara keagamaan yang secara insidental dilaksanakan di Borobudur, waisak, asadha dan acara-acara lainnya. Kemudian agar umat Buddha di ASEAN bisa ikut melakukan ibadah di Candi Borobudur.

"Upacara keagamaan yang secara insidental dilaksanakan di Borobudur, waisak, asadha dan acara-acara lain bisa dibantu untuk umat masyarakat ASEAN bisa lebih mengerti sehingga mereka akan ikut melakukan ibadah disini dan juga selalu diberi kemudahan melakukan upacara ibadah itu oleh PT Taman Wisata maupun Balai Konservasi," tuturnya.

(rdy/rdy)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA