Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 28 Feb 2021 20:20 WIB

TRAVEL NEWS

Good Bye Turis Tajir! Indonesia Belum Siap Untuk Tren Wisata Yacht

Bonauli
detikTravel
Volkswagen Yacht listrik solar panel
Ilustrasi kapal yacht (MotorTrend)
Jakarta -

Wisata yacht digadang-gadang akan jadi tren setelah pandemi. Apa sih wisata yacht itu?

Yacht adalah kapal layar mewah yang yang digunakan untuk menikmati keindahan laut. Biasanya, orang yang punya yacht akan berlayar ke banyak pantai hanya untuk menikmati perbedaan laut tiap daerah.

Wisata ini hanya digemari oleh kalangan tertentu saja. Hanya yang suka kesunyian, laut dan tajir saja yang bisa menikmatinya. Iya, tajir masuk dalam hitungan.

Karena yacht adalah kapal milik perseorangan. Untuk memilikinya, sang empunya harus sanggup membayar pajak sampai melakukan perawatan kapal. Yang pasti tidaklah murah.

Tren wisata yacht kini mulai terlihat. Menjadi negara kepualaun yang indah, Indonesia sudah lama mengidam-idamkan kedatangan para yachter.

Dilansir dari CNBC, Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kementerian Koordinasi Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) Septian Hario Seto mengatakan, terdapat tren pariwisata dengan menggunakan yacht. Peluang ini menarik untuk didorong khususnya dari wisatawan asing.

"Ada tren kecenderungan yang kita lihat. Misalnya keluarga yang keliling Bali dengan yacht sudah ada yang standby di dermaga. Ini ada peluang pasar yang cukup menarik meskipun tidak sebesar pasar yang normal namun ini menarik," kata Seto, dalam keterangan resmi.

Namun ternyata, Indonesia dinilai tak 'ramah' untuk yachter. Ada beberapa tantangan dalam pengembangan pariwisata yacht saat ini.

Mulai dari ekosistem yang belum saling terkait dan mendukung seperti sumber daya manusia dan infrastruktur. Belum lagi regulasi perizinan satu pintu melalui platform digital seperti perizinan terkait visa, tenaga kerja asing, karantina, bea cukai dan SOP pemeriksaan.

Asisten Deputi Investasi Bidang Jasa Farah Heliantina menjelaskan untuk menarik investasi di sektor pariwisata melalui kedatangan yacht di Indonesia, perlu juga relaksasi dan insentif yang diberikan kepada pelaku usaha. Seperti insentif perpajakan serta kemudahan fasilitas di kepabeanan, keimigrasian, karantina dan kepelabuhan.

"Marine tourism seharusnya menjadi unggulan dari Indonesia. Untuk itu, kita perlu mengubah mindset atau model bisnis dari tradisional menjadi model new normal yang memperhatikan Covid -19," jelas Farah.

Menurut ketua Umum Kadin Bidang Pariwisata Kosmian Pudjiadi mengatakan ada tiga masalah kepemilikan yacht di Indonesia. Pertama adalah persoalan pajak mewah, kedua perizinan kepemilikan kapal pribadi, ketiga adalah kepastian hukum untuk membuat dermaga.

"Kapal yacht Indonesia juga nggak ada yang mau pakai bendera Indonesia pasti pakai bendera negara lain karena PPnBM dan izin nya susah. Bayarnya setengah mati," jelas Kosmian.

Ia mengatakan banyak kapal yacht tidak mengambil rute berlayar di Indonesia karena banyaknya pungli dimintakan kepada pemilik kapal. Padahal, ini bisa merusak sistem dan merugikan Indonesia.

Saat ini salah satu proyek strategis untuk Pelabuhan wisata termasuk dermaga untuk yacht ada adalah Bali Maritime Tourism Hub (BMTH) di Pelabuhan Benoa. Proyek ini ditargetkan selesai pada akhir 2023 mendatang

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahudin Uno mengatakan BMTH diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan nusantara sebanyak 427.723 orang dan wisatawan mancanegara sebanyak 133.777 orang pada 2023.



Simak Video "Indahnya Pantai Tanjung Benoa Bali"
[Gambas:Video 20detik]
(bnl/bnl)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA