Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 21 Mar 2021 14:35 WIB

TRAVEL NEWS

Asal-usul Sapi dan Pisang Kota Bitung Erat dengan Filipina

Hari Suroto
detikTravel
Restoran Pasar Tua, Bitung Sulawesi Utara kuliner berbagai menu Ikan khas Bitung. File/detikFoto.
Restoran Pasar Tua, Bitung Sulawesi Utara (Foto: Hasan Alhabshy/detikcom)
Jakarta -

Kota Bitung bersama Manado dan Likupang menjadi destinasi wisata super prioritas di Sulawesi Utara. Kota Bitung secara geografis terletak di daratan sebelah timur laut Minahasa.

Selama ini Kota Bitung dikenal sebagai kota tuna. Di kota ini banyak dijumpai kapal penangkap ikan tuna dan menjadi pusat industri perikanan tuna di Indonesia timur.

Patung ikan tuna di pusat kota menjadi ikon Kota Bitung. Selain potensi perikanannya, Bitung juga memiliki perairan dengan pesona bawah lautnya yang luar biasa di Selat Lembeh.

Sehingga setiap tahunnya di Kota Bitung diselenggarakan Festival Pesona Selat Lembah.

Penduduk Kota Bitung sebagian besar berasal dari Suku Sangir di Nusa Utara. Nusa Utara ini meliputi Kepulauan Sangihe, Talaud, Siau, Tagulandang dan Biaro.

Sejak 1993, Kota Bitung merupakan kota kembar (sister city) dengan Kota Davao, Provinsi Davao del Sur, Filipina. Sebagai penanda kota kembar, patung Sam Ratulangi dibangun di Davao, sedangkan di Bitung didirikan patung pahlawan nasional Filipina Jose Rizal.

Sebagai pusat industri tuna dan tentu saja dengan adanya status kota kembar dengan Davao, Kota Bitung dibanjiri orang-orang dari Pulau Mindanao, Filipina.

Namun secara historis dan kultural, sebelum adanya kota kembar ini, penduduk Nusa Utara sudah memiliki hubungan dengan Filipina bagian selatan, hal ini karena lokasinya yang berdekatan. Terutama dengan penduduk Davao, General Santos, Sarangani, Cotabato dan Pulau Balud.

Sehingga terjadi migrasi penduduk Nusa Utara ke Filipina dan begitu juga sebaliknya. Suku Sangir yang bermigrasi ke Filipina Selatan, ada yang menikah dengan penduduk setempat.

Maka keturunanya sering disebut dengan istilah Sapi yang berarti Sangir Filipina, jika itu sang ayah Sangir dan sang ibu Filipina.

Begitu sebaliknya, disebut Pisang jika sang ayah Filipina sedangkan sang ibu Sangir.

Rupanya istilah Pisang dan Sapi ini juga dikenal di Kota Bitung. Mereka sebagian besar tinggal di Pantai Manembo-nembo, Kota Bitung.

---

Artikel ini dibuat oleh Hari Suroto dari Balai Arkeologi Papua dan diubah seperlunya oleh redaksi.



Simak Video "Melihat dari Udara Banjir di Exit Tol Bitung Tangerang"
[Gambas:Video 20detik]
(msl/msl)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA