Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 27 Apr 2021 20:29 WIB

TRAVEL NEWS

Mengkaji Penyebab Paus dan Orca Terdampar di Indonesia Butuh Waktu Panjang

Syanti Mustika
detikTravel
Sejumlah tim gabungan memeriksa bangkai ikan paus yang terdampar di pantai Bungko, Kapetakan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Selasa (13/4/2021). Bangkai ikan paus yang diduga jenis Paus Sperma (Physeter macrocephalus) sepanjang 15 meter itu ditemukan terdampar oleh nelayan dalam kondisi mati pada Minggu (11/4) lalu. ANTARA FOTO/Dedhez Anggara/foc.
Foto: ANTARA FOTO/Dedhez Anggara
Jakarta -

Beberapa kali kita mendengar hewan-hewan laut seperti paus atau orca terdampar di perairan Indonesia. Kata peneliti butuh waktu untuk bisa mengkaji penyebab hewan terdampar ini.

Perairan Indonesia sering 'disinggahi' oleh hewan-hewan laut berukuran besar. Tak seekor dua ekor saja, mereka bisa terdampar dalam bentuk kelompok juga.

Yang terbaru ada 49 ekor paus terdampar di pantai Desa Patereman, Modung, Bangkalan pada Jumat (19/2) lalu. Kata peneliti ada beberapa penyebabnya, pertama karena adanya fenomena alam ekstrem seperti badai La Nina dan El Nino yang diduga turut mengubah sistem sonar paus.

Sedangkan yang kedua, ada dugaan paus terdampar dan mati karena dipengaruhi tingkah laku, umur dan penyakit. Untuk faktor ini, peneliti mengaku masih meneliti dan mengkaji lebih lanjut.

Adapun penyebab yang ketiga, karena masalah pencemaran dari daratan seperti plastik. Sampah itu diduga turut membuat puluhan paus itu stres hingga akhirnya bermigrasi dan mencari daerah yang tenang dan aman sehingga terdampar di Bangkalan.

Tentu menjadi pertanyaan bagi orang awam, kenapa tidak ada alasan pasti kenapa bisa megafauna ini terdampar?

Dalam diskusi bersama pakar yang diadakan oleh Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, KKP via zoom pada Sabtu (24/4/2021) terjawab sedikit demi sedikit tentang fenomena megafauna laut ini.

"Kok bisa orca terdampar di laut Jawa? kok bisa paus bisa di laut Indonesia yang dangkal? Untuk bisa menemukan jalur atau siklus tahunan, ketika mamalia laut bergerak atau kita nyatakan itu imigrasi kita harus melihat lingkupnya secara over season. Harus melihat tahunannya karena biasanya migrasi mereka global. Dan itu akan memakan waktu lebih setahun untuk memonitor pergerakan mereka," ujar Sekar Mira, Peneliti Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

"Karena banyak sekali mamalia laut, semakin besar ukuran mereka, semakin besar potensi migrasi. Saat ini juara migrasi adalah grey whales. Bisa saja dia makannya di Meksiko, kawinnya di lokasi lain," tambah Mira.

Mira mengatakan, untuk bisa menentukan kenapa hiu bisa terdampar atau mati saat terdampar perlu dilihat dari dua sisi. Yaitu kondisi dan penyebab kematian.

"Bicara tentang penyebab hewan terdampar ada dua hal yang perlu diperhatikan. Yaitu condition of death dan cause of death. Untuk mengetahui penyebab kita harus melihat lebih holistik yaitu melihat lingkungan air seperti apa, apakah ditemukan interaksi dengan manusia, atau tabrakan dengan kapal atau adanya perubahan warna air laut. Dan tentu harus di tes juga. Memang untuk mengetahui hal ini kita butuh waktu lebih panjang untuk mengetahui lengkap hal itu.

"Jadi tidak salah jika para ahli ditanya mengenai hal ini, mereka akan memberikan beberapa kemungkinan karena dibutuhkan keahlian dan pengetahuan yang holistik. Bahkan untuk proses nekropsi (bedah bangkai) saja itu butuh waktu yang sangat panjang," jelas Mira.

Sejumlah tim gabungan memeriksa bangkai ikan paus yang terdampar di pantai Bungko, Kapetakan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Selasa (13/4/2021). Bangkai ikan paus yang diduga jenis Paus Sperma (Physeter macrocephalus) sepanjang 15 meter itu ditemukan terdampar oleh nelayan dalam kondisi mati pada Minggu (11/4) lalu. ANTARA FOTO/Dedhez Anggara/foc.Sejumlah tim gabungan memeriksa bangkai ikan paus yang terdampar di pantai Bungko, Kapetakan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Selasa (13/4/2021). Bangkai ikan paus yang diduga jenis Paus Sperma (Physeter macrocephalus) sepanjang 15 meter itu ditemukan terdampar oleh nelayan dalam kondisi mati pada Minggu (11/4) lalu. ANTARA FOTO/Dedhez Anggara/foc. Foto: ANTARA FOTO/Dedhez Anggara

Hal senada juga disampaikan oleh Pakar Kesehatan Megafauna Lau drh. Dwi Suprapti, M.Si dari Yayasan WWF Indonesia. Salah satu yang menyebabkan kematian dan terdampar adalah kesehatan hewan.

"Permasalahan kesehatan dari satwa tidak bisa detail untuk mengetahui status kesehatannya. Namun dengan kejadian terdampar bisa saja dia bukan karena sakit atau bisa saja dia terjebak di air yang surut. Awalnya dia sehat, namun karena dia mengejar makanan hingga berburu ke pesisir," ujarnya.

"Nah saat dia datang bisa jadi air pasang, dan kemudian laut keburu surut. Apalagi dia datang ke pantai bersama anaknya, kemudian anaknya tertinggal saat air surut. Kemudian anaknya sendiri dan tak ada yang bisa menolong. Keadaan semakin buruk dia tidak dapat susu hingga kesehatannya menurun," ungkap Dwi.

Dia juga mengatakan kesehatan hewan bisa juga terganggu karena keracunan. Biasanya disebabkan oleh limbah yang dihasilkan aktivitas manusia.

"Sisi lain terdampar baik itu paus, hiu paus, penyu ada juga kesehatan terganggu karena keracunan. Nah kalau mati karena keracunan itu seketika. Namun kesehatan yang terganggu karena jangka panjang misalnya di laut sampai dia kurus dan baru terdampar. Saat kita bedah, ternyata lambungnya sobek karena ada mata kail di pencernaannya atau karena tulang ikan yang dia makan," ujarnya.

"Ada lagi kesehatan yang disebabkan oleh virus, infeksi khusus. Dan makin hari infeksi khusus di laut semakin berkembang. Ternyata di laut juga ada penyakit cacar lho. dan tidak jarang saat kita mengkaji hewan yang terdampar kita menemukan penyakit yang beragam seperti ini," jelas Dwi.

Kemudian Dwi juga mengatakan bahwa ada juga faktor tambahan yang juga penting yang menyebabkan kematian pada hewan. Yaitu penanganan yang tidak tepat.

"Faktor yang juga menyebabkan hewan terdampar mati yaitu lambatnya penanganan kita. Bisa juga kita cepat menangani namun salah tindakan penyelamatan," ucapnya.



Simak Video "Penyelamatan 2 Ekor Paus Bungkuk di Argentina"
[Gambas:Video 20detik]
(sym/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA