Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 25 Jun 2021 09:55 WIB

TRAVEL NEWS

Pengalaman Nyepur dan Gowes Seli: Sarapan di Pasar Kremyeng Giritirto

Dwi Ari Setyadi
detikTravel
Nyepur dan seli ke Wonogiri
Foto: Dwi Ari Setyadi for detikcom
Wonogiri -

Berkereta perintis Batara Kresna dari Solo ke Wonogiri dilanjutkan gowes dengan sepeda lipat (seli) untuk menuju Pasar Kremyeng. Pilihan jajanan bikin lapar mata.

Jajaran jajanan tradisional Pasar Kremyeng di perempatan Jalan Ki Mangunsarkoro Giritirto, Wonogiri itu seolah barisan prajurit yang tengah mengepung, bersiap melumpuhkan lawan. Kawanan gethuk, bubur sumsum, tempe benguk, serundeng daging dan pecel mie pentil sungguh sangat menggoda hasrat sarapan, Rabu (23/6) pagi itu.

Nyepur dan seli ke WonogiriPenjual jajan pasar di Pasar Kremyeng, Wonogiri Foto: Dwi Ari Setyadi for detikcom

Nyaris takluk, saya hampir tak kuasa menghalangi niat untuk segera melahap dine-in aneka panganan itu.

Tapi demi kesehatan, saya berusaha tidak membuka masker di keramaian, bergegas mencari tempat yang lebih sepi. Bungkusan ketan, lopis, gendar-puli, dan cenil yang dijajakan Bu Marti pun saya nikmati di teras sebuah minimarket, tak jauh dari pasar itu.

Nyepur dan seli ke WonogiriNyepur dan gowes seli dari Solo ke Wonogiri. Foto: Dwi Ari Setyadi for detikcom

Melayani kebutuhan masyarakat sekitar, Pasar Kremyeng Perempatan Jalan Ki Mangunsarkoro Giritirto, Wonogiri, Jawa Tengah itu masih menggeliat pada masa pandemi.

"Seperti biasa, saya jualan mulai pagi sekitar jam 6 sampai sebelum siang, sekitar jam 10-an," tutur Bu Marti, salah seorang pedagang.

Tapi kondisi ini tentu berbeda dengan pelaku usaha yang bergantung dari maraknya sektor pariwisata. Sejumlah warung makanan di sekitar objek wisata Waduk Gajahmungkur terlihat lengang, tanpa pengunjung. Suasana sepi menyelimuti daerah tujuan wisata lain di sekitarnya, seperti Watu Cenik atau Puncak Joglo.

Situasi ini juga melanda tiga gerbong kereta perintis Batara Kresna relasi wira-wiri Stasiun Purwosari Solo - Wonogiri.

Nyepur dan seli ke WonogiriStasiun Wonogiri Foto: Dwi Ari Setyadi for detikcom

"Lumayan, ada sepuluh," jawab kondektur saat ditanya jumlah penumpang yang ikut pada jam keberangkatan terakhir, pukul 12.00 dari Wonogiri.

Hampir separuhnya adalah pengguna jasa yang sama saat kereta ini berangkat pertama dari stasiun awal, Purwosari Solo, pukul 06.00. Padahal, rail bus ini memiliki 24 kursi penumpang di tiap gerbongnya.

"Biasanya tetap ramai penumpang tiap Minggu atau hari libur," dia menambahkan.

Nyepur dan seli ke WonogiriObjek wisata di Wonogiri sepi pengunjung. Foto: Dwi Ari Setyadi for detikcom

Selama pandemi, PT KAI tetap mengoperasikan jenis moda transportasi yang hanya ada dua di Tanah Air ini. Rail-bus lain adalah KA Kertalaya yang menghubungkan Stasiun Kertapati dan Indralaya di Sumatera Selatan.

Tiket kereta api Batara Kresna sangat murah karena termasuk salah satu rangkaian Public Service Obligation, hanya Rp 4.000 untuk perjalanan 37 km selama satu jam 45 menit. Tiket bisa dibeli online via apps KAI Acces pada hari H atau pembelian langsung di stasiun keberangkatan, yakni Purwosari, Solo Kota, Sukoharjo dan Pasar Nguter serta Wonogiri.

Tiap hari ada dua jadwal perjalanan, baik dari Purwosari (06.00 dan 10.00) maupun Wonogiri (08.00 dan 12.00).

===

Artikel ini dibuat oleh Dwi Ari Setyadi, pehobi sepeda, foto, dan berkereta. Artikel diubah seperlunya oleh redaksi.



Simak Video "Asyik Selfie di Rel, Wanita di Bandung Tertabrak Kereta"
[Gambas:Video 20detik]
(fem/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA