Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 01 Jul 2021 13:45 WIB

TRAVEL NEWS

Bak di New Zealand, Begini Indahnya Desa Meat di Pinggiran Danau Toba

Angga Laraspati
detikTravel
Desa Meat Toba-Inalum
Foto: Pradita Utama/detikcom
Kabupaten Toba -

Siapapun tak akan berpaling dari keindahan yang ditawarkan Danau Toba di Sumatera Utara. Apalagi kawasan ini menjadi salah satu dari 5 destinasi super prioritas yang digagas oleh Kementerian Pariwisata.

Tim detikcom kali ini berkesempatan untuk melihat keindahan panorama Danau Toba tersebut secara langsung. Di sela-sela kegiatan Jelajah Tambang, kami diajak oleh tim dari PT Indonesia Asahan Aluminium untuk mendatangi salah satu desa yang berada di sisi selatan dari Danau Toba.

Desa tersebut adalah Desa Meat, yang terletak di Kecamatan Tampahan, Kabupaten Toba, Sumatera Utara. Eits, jangan salah, desa ini jadi salah satu dari 34 spot pengembangan wisata Danau Toba yang digagas oleh Kemenparekraf lho.

Desa Meat terletak di bawah perbukitan dengan jumlah penduduk kurang lebih 900 jiwa dengan luas desa kurang lebih 300 hektar. Untuk pekerjaan sehari-hari penduduk Desa Meat adalah nelayan dan juga perajin ulos.

Desa Meat juga menjadi salah satu lokasi event kegiatan tahunan '1000 Tenda Kaldera'. Event ini adalah satu satu festival berbasis masyarakat desa yang bertujuan untuk mengembangkan wisata melalui pendekatan seni dan budaya.

Tak hanya itu saja, di desa yang diperkirakan sudah berusia 300 tahun ini juga memiliki beberapa rumah adat Batak yang salah satu di antaranya dihiasi ukiran khas Batak. Ada juga lukisan orang-orang yang mengenakan pakaian seragam VOC yang dikenakan ketika zaman kolonial Belanda.

Desa Meat Toba-InalumBak di New Zealand, Begini Indahnya Desa Meat di Pinggiran Danau Toba Foto: Pradita Utama/detikcom

Untuk menuju ke desa ini, jaraknya tak terlalu jauh dari Bandara Internasional Sisimangaraja XII atau Bandara Silangit yang kini tengah diproyeksikan menjadi tempat masuk dan keluar wisatawan yang ingin mengunjungi Danau Toba, yaitu hanya 31 menit.

Jalur yang kami lewati untuk menuju desa ini bisa dikatakan cukup kecil, namun mobil Toyota Hiace yang kami tumpangi bisa masuk dan lewat di jalan kecil tersebut. Sebelum masuk ke kawasan desa yang dijuluki death valley viewing spot ini, kami disuguhkan oleh hamparan sawah hijau yang membuat mata terbelalak dibuatnya.

Tak jauh dari situ, indahnya Danau Toba menjadi panorama yang ditampilkan di depan mata. Luasnya Danau Toba seakan menyambut kedatangan kami menuju Desa Meat.

Satu kata untuk menggambarkan desa ini yaitu 'Indah'. Bagaimana tidak, dari ketinggian kami melihat susunan dusun-dusun desa yang letaknya berjauhan dan dikelilingi oleh hamparan sawah hijau beserta hijaunya bukit yang jadi latar belakangnya.

Sekilas, pemandangan tersebut mengingatkan dengan panorama yang sama dengan New Zealand atau persawahan yang ada di Bali. Hijaunya perbukitan, ditambah dengan sawah yang berundak-undak, plus pemandangan yang menghadap ke Danau Toba menjadikan kami melongok dibuatnya.

Sesampainya di salah satu spot pengembangan wisata, kami melihat satu bangunan berbentuk khas Sumatera Utara yang khas. Di tempat ini juga tersedia toilet umum yang bersih untuk menunjang pariwisata di desa ini. Tak jauh dari situ, juga terdapat sanggar tari yang dibuat oleh PT. Inalum untuk mengembangkan seni dan budaya di Desa Meat.

Desa Meat Toba-InalumBak di New Zealand, Begini Indahnya Desa Meat di Pinggiran Danau Toba Foto: Pradita Utama/detikcom

Kami pun disuguhkan dengan penampilan dari anak-anak sanggar tari yang mengenakan pakaian khas Sumatera Utara. Mereka menampilkan berbagai macam tari, salah satunya adalah tari sipitu cawan.

"Tari sipitu cawan itu maknanya adalah membersihkan hal-hal yang gak benar atau gak baiklah, supaya jalannya baik," ujar Ketua Rumah Karya Indonesia, Ojak Manalu kepada detikcom beberapa waktu yang lalu.

Usai disuguhkan penampilan memukau dari para penari, kami pun beranjak menuju tempat para perajin sarung. Ada sekitar 7 penenun yang kala itu sedang sibuk membuat berbagai sarung yang indah.

Salah satu perajin, Hertati mengatakan dirinya masuk ke dalam kelompok penenun sarung yang ada di Desa Meat. Adapun, jenis-jenis sarung yang mereka buat antara lain sibolang rastra, maulana tarutung, tobu-tobu dan jenis-jenis sarung lainnya.

"Beda dengan ulos, kalo ulos itu khusus untuk adat. Nah, kalau sarung ya bisa dipakai kaum muda, tua, bisa dipakai juga untuk ke gereja, menghadiri pesta adat," imbuhnya.

Setelah berjalan-jalan mengelilingi tempat yang indah tersebut, kami pun menyempatkan diri untuk berbincang dengan Kepala Desa Meat, Janri Simanjuntak di tempat duduk yang menghadap langsung ke Danau Toba.

Sambil ditemani dengan indahnya Danau Toba, Janri memaparkan dari sisi pariwisata potensi yang dimiliki oleh Desa Meat cukup bagus. Potensi tersebut bisa dilihat dari view yang disajikan desa ini hingga kebudayaan yang masih kental di desa ini.

"Termasuk itu penenun, rumah adat, jadi sama-sama untuk pengembangan pariwisata masih sama-sama kuat. Makanya kita juga sedang membuat homestay juga untuk menunjang para tamu kita," kata Janri.

Pengembangan pariwisata dan kebudayaan yang ada di Desa Meat ini juga dibantu oleh beberapa pihak, salah satunya yaitu PT Inalum. Dalam hal ini, PT Inalum membantu pengembangan seni dan budaya Desa Meat dengan menciptakan ruang kreatif, sanggar seni, dan sudut baca untuk anak-anak desa.

Desa Meat Toba-InalumBak di New Zealand, Begini Indahnya Desa Meat di Pinggiran Danau Toba Foto: Pradita Utama/detikcom

Program yang dimulai pada Desember 2019 hingga Maret 2020 ini berkolaborasi dengan Rumah Karya Indonesia untuk menciptakan salah satu pusat ruang kreasi, ruang baca, dan pelestarian nilai-nilai budaya.

"Kami dari pemerintah desa mengucapkan terima kasih untuk PT Inalum karena telah membantu untuk pengembangan pariwisata. Makanya cap jempol lah untuk PT Inalum yang sudah memberikan dampak positif untuk desa kami," ucap Janri.

detikcom bersama MIND ID mengadakan program Jelajah Tambang berisi ekspedisi ke daerah pertambangan Indonesia. detikcom menyambangi kota-kota industri tambang di Indonesia untuk memotret secara lengkap bagaimana kehidupan masyarakat dan daerah penghasil mineral serta bagaimana pengolahannya.

Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, ikuti terus beritanya di detik.com/jelajahtambang.

(ega/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA