Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 05 Jul 2021 09:04 WIB

TRAVEL NEWS

Mengenal Manu'niu, Burung 'Zombie' Endemik Pulau Sangihe

Syanti Mustika
detikTravel
Gunung berapi di dalam laut
Ilustrasi Sangihe (Hani Azzahra/d'Traveler)
Jakarta -

Manu'niu atau seriwang sangihe adalah burung endemik dari Pulau Sangihe yang sempat hilang dari peradaban. Sekarang burung itu dilindungi oleh negara.

PulauSangihe, yang berada di Sulawesi Utara, menjadi sorotan karena masalah tambang emas hingga meninggal dunianya Wakil Bupati Sangihe, Helmud Hontong, pada 9 Juni 2021. Dia meninggal dunia saat menumpangi pesawat Lion Air rute Denpasar-Makassar.

Kematiannya dikaitkan dengan rencana perusahaan Tambang Mas Sangihe (TMS) untuk mengeksplorasi emas di Sangihe seluas 42.000 hektare atau setengah dari luas Pulau Sangihe yang dihuni lebih dari 131 ribu jiwa.

Luas pertambangan itu termasuk di dalamnya adalah gunung purba seluas lebih dari 3.500 hektare. Gunung ini adalah habitat banyak hewan, khususnya burung endemik Sangihe.

Sebelum meninggal dunia Helmut Hontong sempat meminta Kementerian ESDM mencabut izin pertambangan PT TMS yang berada di wilayahnya.

Tambang itu dinilai memiliki dampak luar biasa terhadap lingkungan Sangihe. Termasuk, hutan tempat tinggal para burung endemiknya. Salah satunya adalah seriwang sangihe (Eutrichomyias rowleyi) atau penduduk lokal menyebutnya Manu'niu.

[Gambas:Instagram]


Prediksi itu dibenarkan oleh Dewi M. Prawiradilaga, peneliti burung sekaligus profesor Pusat Penelitian Biologi dari LIPI.

"Pulau Sangihe luasnya hanya sekitar 461 km persegi, tetapi bagi burung endemik pulau ini sangat penting. Karena memiliki jumlah jenis burung endemik yang tertinggi di Indonesia, yaitu 12 jenis dan tujuh jenis diantaranya termasuk manu'niu hanya terdapat di pulau ini dan tidak terdapat di lokasi lain di wilayah Indonesia," katanya kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Manu'niu sempat dinyatakan punah dahulunya, hingga ditemukan lagi pada tahun 1998. Dikutip dari BBC Indonesia, menurut data dari Burung Indonesia, spesimen pertama seriwang sangihe tercatat pada tahun 1873 lalu yang dikoleksi oleh Adolf B. Meyer.

Seratus tahun kemudian, tepatnya 1978, peneliti burung Murray D. Bruce mengumumkan telah menemukan burung itu di Gunung Awu, bagian utara Pulau Sangihe. Tapi, klaim tersebut tidak disertai bukti sehingga memunculkan anggapan terjadinya 'kepunahan lokal' akibat erupsi gunung berkali-kali yang mengubah habitatnya.

[Gambas:Instagram]



Burung ini kemudian ditemukan kembali pada tahun 1998 di Gunung Sahendaruman, bagian selatan Pulau Sangihe.

Anius Dadoali, yang biasa dipanggil Bu Niu ('Bu' adalah panggilan untuk orang tua pria di Sangihe), adalah warga lokal yang menemukannya saat mendampingi peneliti asal Inggris. Itu sebab, burung endemik ini lantas dipanggil 'niu', mengikuti nama penemunya.

Jenis burung ini ternyata dilindungi oleh undang-undah lho karena jumlahnya sudah mendekati punah.

"Manu'niu atau disebut juga seriwang sangihe memiliki nama ilmiah Eutrichomyias rowleyi termasuk suku Monarchidae. Oleh lembaga konservasi alam internasional (International Union for the Conservation of Nature/ IUCN) burung ini dikategorikan 'kritis' (critically endangered) atau mendekati punah," Dewi menjelaskan.

"Artinya, jumlah populasi burung ini di alam kurang dari 250 ekor burung dewasa atau terjadi penurunan populasi sangat tajam sekitar 25 persen dalam kurun waktu tiga tahun. Oleh karena itu keberadaan burung manu'niu secara hukum dilindungi oleh Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999 dan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MenLHK/Setjen/Kum.1/12/2018," Dewi menambahkan.

Dewi menyebut salah satu faktor yang menyebabkan punahnya suatu hewan endemik adalah kerusakan atau hilangnya habitat. Jika dikaitkan dengan tambang, bila tambang tidak bijak dengan sistemnya, bisa mengganggu keberlangsungannya burung.

"Pengaruh tambang emas terhadap habitat dan kelangsungan burung endemik saya kira tergantung sistem pertambangannya. Jika penambangan yang dilakukan ramah lingkungan, tentu akan berusaha meminimalkan kerusakan habitat dan mentolerir hasil tambang yang optimal," kata Dewi.

Dewi juga memaparkan faktor-faktor yang bisa menyebabkan punahnya burung dalam suatu kawasan. Salah satunya adalah kerusakan lingkungan.

"Faktor-faktor penyebab kepunahan burung dalam suatu kawasan yaitu kerusakan atau hilangnya habitat atau tempat hidup burung tersebut. Kemudian adanya perburuan atau penangkapan liar yang tidak terkendali atau adanya eksploitasi," ujar Dewi.

"Faktor selanjutnya adanya penyakit yang menyerang burung tersebut dan adanya pemangsa/predator alami dari burung. Serta wilayah sebaran sangat terbatas dan populasi sangat sedikit," Dewi menjelaskan.

Selanjutnya ---> Pola hidup seriwang sangihe

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Selain di Bali, Fenomena Burung Pipit Mati Massal Juga Ada di Cirebon"
[Gambas:Video 20detik]
BERITA TERKAIT
BACA JUGA