Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 20 Jul 2021 12:45 WIB

TRAVEL NEWS

Inggris Cabut Pembatasan, Kelab Malam Dibuka Lagi Tanpa Prokes

Femi Diah
detikTravel
Inggris rencananya akan segera akhiri lockdown pada tanggal 19 Juli mendatang. Klub malam di sana pun bersiap untuk kembali beroperasi.
Kelab malam di Inggris menggeliat lagi. AP Photo/Alberto Pezzali
London -

Kelab Malam di Inggris diserbu warga. Seolah tidak ada yang mau ketinggalan momen kelab malam dibuka untuk kali pertama sejak pandemi virus corona menerpa Inggris.

Dikuti dari Reuters, kelab malam di Inggris hidup lagi tepat setelah aturan ketat pembatasan dicabut ada Senin Senin (19/7/221) dini hari. Kelab malam makin menarik karena telah diizinkan untuk menyuguhkan live musik untuk pertama kalinya sejak pandemi dimulai tahun lalu.

Clubbers pun menari sepanjang malam dan bersuka cita. Mereka bebas berinteraksi, berdekat-dekatan, dan tidak memakai masker.

Inggris, yang mencatatkan satu korban tewas akibat Covid-19 harus berhadapan dengan gelombang kasus baru. Tetapi, Perdana Menteri Boris Johnson bersikukuh mencabut sebagian besar pembatasan di Inggris dan menamakannya dengan momen "Hari Kebebasan".

Para ahli epidemiologi kurang setuju dengan keputusan mencabut pembatasan, namun banyak anak muda Inggris mendukungnya. Warga remaja mendambakan pesta.

"Saya seperti sudah tidak diizinkan menari selamanya," kata Georgia Pike, 31, di Oval Space di Hackney, London timur.

"Saya ingin menari, saya ingin mendengar musik live, saya ingin getarannya. Saya ingin berada di sebuah pertunjukan, berada di sekitar orang lain," dia menambahkan.

Kendati senang bisa menjalani kehidupan nornal, namun tidak sedikit warga yang waswas dengan kemungkinan terburuk terkait Covid19.

"Saya sangat senang, tetapi tetap bercampur dengan perasaan khawatir akan datangnya malapetaka," kata Gary Cartmill, 26.

Di dalam kelab malam itu, orang-orang yang bersuka ria, beberapa dengan pint di tangan mereka, beberapa hanya menikmati alunan musik, atau ada yang menari, banyak yang berpelukan, beberapa berciuman, beberapa masih memakai masker.

Setelah bergegas memvaksinasi populasinya lebih cepat daripada hampir semua negara Eropa lainnya, pemerintahan Johnson bertaruh bahwa Inggris dapat dibuka kembali karena orang yang divaksinasi penuh cenderung tidak sakit parah dengan Covid-19.

Promotor acara Rob Broadbent dan Max Wheeler-Bowden memasang video mereka sendiri yang melakukan tes Covid-19 dan mendesak mereka yang diminta untuk mengisolasi diri untuk melakukannya.

Momen pembukaan kelab malam itu diharapkan menjadi kebangkitan industrinya. saat ini kendati buka lagi mereka mengurangi jumlah band dan luas tempat. Konsekuensinya, pendapatan belum seperti sebelum pandemi karena pengunjung lebih sedikit dari yang diharapkan.

Masyarakat Inggris tampak terpecah pada pembatasan: beberapa ingin aturan keras untuk melanjutkan karena mereka takut virus akan terus membunuh orang, tetapi yang lain telah jengkel dengan pembatasan paling berat dalam sejarah masa damai.

Pemilik bisnis --termasuk kelab malam, agen travel, dan di industri perhotelan--telah putus asa untuk membuka kembali perekonomian sementara banyak siswa, kaum muda dan orang tua diam-diam mengabaikan banyak aturan yang paling berat.

James Cox, penyanyi utama Crows berusia 32 tahun, sebuah band post-punk yang bermain di Oval Space, mengatakan terakhir kali dia tampil live adalah saat Halloween pada Oktober 2020.

"Sebelum ini, saya memiliki sedikit kekhawatiran bahwa saya tidak akan menyukainya karena sudah begitu lama," kata Cox.

"Begitu saya berdiri di panggung itu dan mulai memeriksa suara, saya seperti: oh ya saya lakukan seperti ini, saya suka ini, saya seperti, ini adalah hasrat saya," dia menambahkan.



Simak Video "Walau Kasus Corona Tinggi, Inggris Tak Mau Lockdown Total"
[Gambas:Video 20detik]
(fem/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA