Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 05 Agu 2021 21:45 WIB

TRAVEL NEWS

Para Geisha Terakhir Tokyo, Berjuang untuk Bertahan Hidup

Geisha di Tokyo, Jepang
Geisha di Tokyo, Jepang (Foto: CNN)
Tokyo -

Pesona geisha di Jepang semakin memudar. Itu dicerminkan dengan penurunan jumlah pelaku yang signifikan. Mereka mencoba bertahan di tengah modernisasi.

Syarat wajib menjadi geisha yakni belum menikah. Mereka dapat bekerja dalam profesi selama yang mereka inginkan tanpa pensiun.

Karena, ada saat ini ada geisha yang berusia 80 tahun, bernama Ikuko. Ia juga menjabat sebagai kepala Asosiasi AKASAKA Geisha dan seorang pelatih geisha.

Dia pertama kali datang ke Tokyo pada tahun 1964, tahun pertama penyelenggaraan Olimpiade. Saat itu, katanya, ada 400 geisha di distrik Akasaka dan kini, hanya ada 21, pencerminan penurunan yang terjadi di seluruh negeri.

Bagian dari profesi rahasia geisha adalah hostes, penghibur, dan pemain terampil dalam seni tradisional Jepang. Mereka bekerja di dalam restoran tradisional mewah yang disebut Ryotei.

Para geisha bisa bermain gitar Shamisen, menari, bernyanyi dan melakukan ritual teh. Secara historis, hanya tamu eksklusif atau mereka yang memiliki koneksi pribadi atau bisnis, biasanya pria kaya, yang bisa masuk.

Geisha adalah penyempurna seni percakapan, menawarkan wacana jenaka, dan karena merekalah sake tetap mengalir. Perjamuan geisha, terutama di Tokyo, dulunya merupakan tempat negosiasi bisnis yang serius dan diskusi politik tertutup, menurut Hisafumi Iwashita, seorang profesor di Universitas Kokugakuin dan seorang ahli budaya Geisha.

Tetapi dari sekitar pertengahan abad ke-20, para pemimpin bisnis dan politik mulai kehilangan minat pada perjamuan geisha, yang disebut Ozashiki. Mereka lalu beralih menghibur klien dan tamu di tempat lain, seperti klub malam.

Geisha di Tokyo, JepangGeisha di Tokyo, Jepang (Foto: CNN)

"Geisha, pernah dipuji sebagai bunga Tokyo lalu memudar, seperti budaya tradisional lainnya," kata Iwashita.

"Geisha dulunya adalah bisnis besar dan bagian dari kehidupan, tetapi sekarang hanya bertahan sebagai pelestarian budaya," imbuh dia.

Sehari-hari dalam kehidupan seorang geisha, mereka akan mulai bekerja di pagi hari dan berakhir pada dini hari di hari berikutnya. Mereka menghibur klien sepanjang malam.

Persiapan harian seorang geisha yakni memakai riasan putih, melukis wajah dan menyempurnakan posisi wig. Di rumah AKASAKA Geisha, setiap geisha mengikat kimono rumit yang masing-masing dapat menelan biaya lebih dari USD 10.000.

Kini, geisha masih dipekerjakan sebagai hiburan kelas atas untuk perjamuan, perayaan, dan acara. Bersantap di Ryotei dengan geisha dapat menelan biaya hingga ribuan dolar.

Tetapi pandemi Covid-19 telah memangkas pengeluaran dan pertemuan, karena perayaan telah banyak yang dibatalkan.

"Kami berjuang untuk bertahan hidup. Yang bisa kita lakukan hanyalah berlatih terus, disiapkan untuk tampil kapan saja," kata Ikuko.

Geisha di Tokyo, JepangIkuko, geisha 80 tahun dari Tokyo, Jepang (Foto: CNN)

Sebelum Perang Dunia II, geisha adalah praktik umum bagi keluarga Jepang miskin untuk mengirim anak-anak mereka pergi ke bisnis kecil untuk bekerja.

Jika anak perempuan dikirim ke Geisha Houses, orang tua mereka akan dibayar sejumlah uang secara teratur selama beberapa tahun. Sistem ini dilarang di Jepang pasca-perang, dan geisha bebas masuk dan meninggalkan profesi ini.

Meski tidak ada angka pasti untuk jumlah geisha di Jepang, diperkirakan bahwa pada 1920-an, jumlah keseluruhan mencapai 90.000 orang. Saat ini hanya ada ratus orang saja, menurut Fiona Graham, seorang antropolog Australia bekerja sebagai geisha di Tokyo.

Graham, yang juga dikenal sebagai Sayuki, adalah orang asing pertama yang diakui sebagai geisha.



Simak Video "Leani Sebut Era Jokowi Atlet Difabel dan Nondifabel Setara"
[Gambas:Video 20detik]
(msl/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA