Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 24 Agu 2021 19:40 WIB

TRAVEL NEWS

Duh! Limbah Medis Jadi Ancaman Baru Krisis Iklim

bonauli
detikTravel
Ilustrasi sampah masker di pantai
Ilustrasi sampah masker (Getty Images/iStockphoto/tataks)
Jakarta -

Adanya pandemi virus Corona membuat sampah medis menjadi ancaman baru yang harus dipikirkan penanggulangannya. Kalau tidak, krisis iklim akan makin parah.

Saat ini Pemerintah dianggap belum melakukan pengelolaan limbah medis dengan baik. DETALKS dan Doctors for XR Indonesia pun melakukan diskusi yang bertajuk Diskusi Bareng Anak Muda: Darurat Limbah Medis, Kita Bisa Apa?' yang diadakan pada Selasa (24/8).

Kelompok ini mendesak Pemerintah untuk memastikan dan menjamin pengelolaan limbah medis yang transparan, cepat, dan ramah lingkungan. Sampai hari ini, petisi tersebut telah berhasil didukung oleh 29.000++ orang lewat laman Change.org.

"Kami merupakan orang biasa yang memiliki perhatian besar terhadap dampak limbah medis kepada kehidupan masyarakat sehari-hari. Dan ternyata, ada 29 ribu orang lain yang juga ikut mendukung gerakan yang kami buat," kata Amalia Renjana, salah seorang perwakilan pembuat petisi dalam rilis yang diterima detikTravel.

Diskusi penanggulangan sampah medisDiskusi penanggulangan sampah medis Foto: (dok Istimewa)

Amalia juga menceritakan bagaimana pengelolaan limbah medis yang baik dan ramah lingkungan serta bisa berpengaruh pada kehidupan setiap orang.

"Saat ini, saya memiliki teman di Tebet, Jakarta, yang bingung dan takut karena mau dibangun insinerator, karena takut menjadi sumber polusi udara lagi. Padahal, tidak semua limbah medis harus dikelola menggunakan pembakaran," ceritanya.

Insinerator merupakan alat pemusnah limbah medis dengan teknik pembakaran yang banyak digunakan di Indonesia. Banyak pihak, termasuk para pembuat petisi merasa bahwa penggunaan insinerator yang berlebihan untuk mengelola limbah medis bisa memperparah krisis iklim akibat polusi dan emisi yang dihasilkan oleh alat tersebut.

Terkait dengan krisis limbah B3 medis ini, Ir Medrilzam, M Prof Econ PhD mengatakan bahwa persoalan limbah medis memang masih menjadi permasalahan besar. Penggunaan alat insinerator yang dianggap dilematis.

"Ada lima jenis alat pengelola limbah medis dan semuanya sudah terbukti. Insinerator kalau diterapkan dengan baik bisa bekerja dengan baik. Tetapi, kalau di Indonesia, sampai hari ini saya belum pernah lihat ada yang dijalankan dengan benar. Dari segi manajemen masih banyak persoalannya, malah jadi seperti tungku. Dilematis bagi fasyankes untuk menerapkan insinerator," tutur Ir Medrilzam.

Sementara itu, dr Dimas Almakna dari Doctors for XR, salah seorang perwakilan pembuat petisi, juga mengaku bahwa selama ini pengelolaan limbah medis di fasilitas pelayanan kesehatan belum memadai.

"Kebanyakan fasyankes mau mengelola limbah medis mereka agar tidak mendapatkan dari pihak luar yang akan mengecek, bukan dari kesadaran mereka sendiri. Padahal, sebagai tenaga medis, diperlukan juga aksi dan kesadaran dari diri," ungkapnya.

Tidak hanya terbatas pada level nasional dan di fasyankes, problematika limbah medis juga terjadi di level domestik. Keprihatinan ini dialami oleh Tasya Kamila, figur publik dan juga seorang pegiat lingkungan. Tasya yang selama ini sering melakukan pengumpulan sampah melalui bank sampah, merasa belum ada fasilitas yang bisa digunakan untuk mengelola limbah medis, terutama masker.

"Aku sering bingung harus diapain masker bekas. Aku sampai cari tahu di internet harus diapain sampah masker. Di rumah aku udah mulai melakukan pilah sampah, dan sampah dijemput langsung lewat aplikasi. Tapi ternyata aplikasi dan bank sampah belum mau menerima sampah masker. Di satu sisi mau melindungi diri, tapi di sisi lain aku mau mengurangi sekali pakai," ceritanya.

Untuk itu, keempat pembicara pun setuju bahwa masyarakat perlu bersuara lebih keras lagi agar pengelolaan limbah medis dapat dilakukan secara cepat, transparan dan juga memperhatikan aspek keberlanjutan.

"Anak muda perlu bersuara lebih keras lagi tentang isu ini. Tapi 'berisiknya' jangan hanya di nasional. 'Berisik'-nya juga harus sampai di daerah-daerah, karena awareness tentang bagaimana kita harus mengelola limbah medis ini perlu juga sampai ke pelosok-pelosok negeri ini," tutup Ir Medrilzam.



Simak Video "Pentingnya SOP Pengelolaan Limbah Medis Bagi Pengelola Usaha Parekraf"
[Gambas:Video 20detik]
(bnl/bnl)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA