Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 29 Agu 2021 09:45 WIB

TRAVEL NEWS

Kisah Desa Wisata Kuliner yang 'Berdarah-darah' Saat PPKM

Arbi Anugrah
detikTravel
Desa Wisata Gerduren Banyumas
Desa Wisata Gerduren Banyumas (Arbi Anugrah/detikcom)
Banyumas -

Desa Wisata Gerduren merupakan salah satu destinasi di Kabupaten Banyumas. Seperti destinasi lainnya, desa wisata ini juga menderita saat PPKM.

Terletak di Jawa Tengah, desa ini mendapatkan penghargaan bergengsi dalam Trisakti Tourism Award 2021 yang digelar DPP PDI Perjuangan secara hybrid di Jakarta, Kamis (26/8). Desa yang berada di Kecamatan Purwojati itu mendapatkan juara harapan ketiga dalam kategori Desa Wisata Kuliner.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Suyanto mengatakan jika dirinya sama sekali tidak menyangka bisa mendapatkan juara harapan tiga dalam ajang Trisakti Tourism Award 2021. Yang ditampilkan selama ini dalam Desa Wisata Kuliner merupakan pasar kuliner jaman dahulu.

"Sama sekali kami tidak menyangka mas, saya ngomong ini merinding mas, benar meneteskan air mata, walaupun kami cuma dapat harapan tiga, akan tetapi saya tidak menyangka. Karena kami bekerja itu dibilang berdarah darah memang berdarah darah. Karena kami modal sendiri, lalu dengan dukungan masyarakat sekitar, kami cukup bangga, karena masyarakat itu kompak, ada kepuasan tersendiri," kata Suyanto saat dihubungi detikcom, Sabtu (28/8) kemarin.

Desa Wisata Gerduren BanyumasDesa Wisata Gerduren Banyumas Foto: (Arbi Anugrah/detikcom)

Dia menceritakan, awal mula konsep Desa Wisata Kuliner tersebut bisa muncul hingga akhirnya mengikuti ajang Trisakti Tourism Award. Dimana pasar kuliner tersebut awalnya dibuat di lokasi Wisata Pertapan yang merupakan tempat wisata milik Desa Gerduren, hingga akhirnya pasar wisata kuliner itu dibuat disekitar kompleks makam Ragan Tali yang masih merupakan keturunan wali songo.

"Awal mula adanya pasar wisata, karena waktu itu kami memang pertama membuat desa wisata di Pertapan, setelah itu kami ada pelatihan dari Dinporabudpar tentang tata kelola, setelah ada pelatihan kami dikasih materi untuk pengembangan di Wisata Pertapan, pengembangannya mau bagaimana," ucapnya.

Setelah itu dia dan teman teman mengambil inspirasinya dari pasar berkonsep tradisional jaman dahulu yang ada di Wonosobo dan beberapa lokasi lain. Di mana dalam proses berjualan menggunakan koin dan itu unik. Setelah itu kelompok sadar wisata ini diperintahkan oleh Kepala Desa Gerduren agar Pokdarwis fokus di pengembangan di kompleks Ragan Tali.

Desa Wisata Gerduren BanyumasDesa Wisata Gerduren Banyumas Foto: (Arbi Anugrah/detikcom)

"Perintah pak Kades sebenarnya di wisata religi, kalau di situ pengunjungnya hanya ke Mbah Ragan Tali otomatis ekonomi masyarakat situ tidak bisa berjalan. Jadi intinya bagaimana masyarakat itu bisa jalan dengan tumbuhnya ekonomi di wilayah itu, kami punya ide sama temen temen bagaimana kalau membuat pasar wisata," jelasnya.

Dia menjelaskan, setelah kumpul dengan masyarakat sekitar lokasi, ternyata ide kelompoknya mendapatkan dukungan dan masyarakat semua bergotong royong membangun pasar wisata kuliner.

"Semuanya swadaya masyarakat, kalau pasar kuna (jaman dahulu) itu menggunakan atap ilalang. Satu Minggu jalan sudah jadi, lalu yg dijual apa saja, kami nurutin penjual penjual itu ada sekitar 15 pedagang, ternyata dagangannya ada yang sama, makanya kami selaku yang mengurus, kami atur agar dagangan itu beda, yang boleh sama cuma kopi sama es teh," ujarnya.

Yang diangkat dari pasar wisata kuliner berkonsep tradisional itu adalah makanan seperti bubur srintil, sate kere, sega ambyar, soto, mendoan, serta jenis makanan lain termasuk sega oyek.

"Kenapa kami menamakannya sega ambyar, sebenarnya itu nasi uduk yang kami bungkus seperti tumpeng. Kalau dibuka lauk pauknya itu langsung ambyar dan langsung kita makan. Lalu bubur srintil itu asli bikinan dari Grumbul Kalipandan, Desa Gerduren, kalau sate kere dari dages, itu dibikin sate ditusuk dan di bakar tapi sebelumnya sudah diberi bumbu, jadi bukan daging tapi dages, di Banyumas ada itu menyeluruh, kalau di Yogyakarta itu namanya gembus itu kan ampas dari tahu," ucapnya.

Dari jenis makanan tradisional tersebut yang akhirnya diikutsertakan dalam ajang Trisakti Tourism Award. Namun hingga kini dirinya mengaku belum mendapatkan informasi lebih lanjut terkait pengumuman juara harapan tiga itu.

"Yang kami unggah dan paling disoroti itu memang sega ambyar, bubur srintil dan sate kere. Untuk proses penilaian kami juga tidak tahu, tahu tahu ada pengumuman seperti itu, ini pun kami belum dihubungi karena yang mengadakan dari PDIP. Soalnya kontak saya hangus saat pengisian di linknya itu. Tapi kebetulan ada dua nomor, tidak tahu kalau sudah hubungi ke nomor teman saya, kami belum koordinasi," ucapnya.

Kembali ke proses ide pasar wisata kuliner tersebut. Setelah itu mereka berpikir bagaimana agar ada pengunjung, karena pengunjung yang berziarah ke makam Ragan Tali tidak datang setiap Minggu atau setiap bulan, namun pada bulan bulan tertentu. Makanya untuk meramaikan pasar wisata kuliner di sekitar lingkungan makam Ragan Tali pihaknya mengundang seluruh masyarakat sekitar.

Desa Wisata Gerduren BanyumasDesa Wisata Gerduren Banyumas Foto: (Arbi Anugrah/detikcom)

Termasuk mengundang teman teman Pokdarwis se Kabupaten Banyumas serta Kepala Dinporabudpar untuk melaunching pasar wisata kuliner tersebut.

Dengan menggunakan caping sebagai ciri khas para pedagang serta koin yang dibuat dari pohon cemara, dengan nilai tukar tiap koinnya seharga Rp 2.500, pasar wisata kuliner tersebut ramai pengunjung. Bahkan dalam sehari buka, hasil keseluruhan para pedagang bisa mencapai Rp 8 juta.

"Pendapatan signifikan tapi lumayan. Untuk pertama kali buka saja kalau tidak salah ada nominal dana masuk semuanya pendapatan itu Rp 8 juta. Tapi Rp 8 juta itu punya pedagang, sistemnya kami jual koin, Rp 2500 harga per jajanan, contoh sega ambyar harganya Rp 5 ribu harus kasih dua koin. Dari Rp 2.500 itu, yang Rp 500 untuk pengelola yang Rp 2 ribu kembali ke pedagang," jelasnya.

"Hasil dari Rp 500 itu ada yang kembali ke pedagang lagi sebenarnya, karena kami persentase dapet sekitar Rp 1,5 juta atau Rp 2 juta, itu kami belum ngambil apa apa. Dibagi untuk desa sekian persen, untuk operasional sekian persen, lalu untuk berbagi orang tidak mampu sekian persen, kami kumpulkan seperti itu," lanjut dia.

Dia mengaku jika semua yang dilakukan di pasar wisata kuliner tersebut semuanya dari nol. Pasar tersebut buka setiap hari Minggu pukul 07.00 WIB dan terus berjalan hingga beberapa pekan sampai akhirnya ada Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) untuk meminimalisir penyebaran virus Corona atau COVID-19.

"Akan tetapi dengan adanya kendala PPKM itu kami jadi bubar ora karuan, kami akhirnya berhenti total. Jadi pedagangnya akhirnya belum semangat lagi," ucapnya.

Namun dengan adanya pengumuman juara harapan tiga dalam ajang tersebut diakuinya mengubah semangat teman teman di Pokdarwis dan masyarakat sekitar. Mereka berencana untuk kembali mengaktifkan lagi pasar wisata kuliner setelah PPKM Level 4 di Kabupaten Banyumas berakhir.

"Tapi Alhamdulillah kemarin dapat nomor harapan tiga itu membikin semangat dari teman-teman dan masyarakat sekitar, rencananya nanti akan kami jalankan lagi. Karena dengan adanya ini, kami jadi semakin semangat," urainya.

Saat ini, lokasi pasar wisata kuliner tersebut sepi, tidak ada aktivitas kegiatan sama sekali, hanya bangunan bangunan dari anyaman khas tradisional yang masih berdiri. Serta papan petunjuk pasar wisata kuliner di Desa Gerduren yang masih berdiri. Berbeda dengan Wisata Pertapan Gerduren yang masih dikunjungi beberapa wisatawan lokal, kedua wisata itu berbeda tempat namun masih satu bagian.

Salah satu warga sekitar, Jono mengatakan jika saat pasar wisata kuliner tersebut buka, diakuinya sangat ramai pengunjung. Hingga akhirnya sepi setelah ramai muncul COVID-19 varian delta, meskipun setiap kegiatan di pasar wisata kuliner tersebut semuanya menerapkan protokol kesehatan.

"Dulu itu pas buka pengunjungnya banyak banget, jadi belinya pakai koin, satu koin 2500, nanti sama pedagangnya ditukar lagi. Yang dagang itu kayak klepon benar benar makanan tradisional. Itu belum lama (tutup) sebelum muncul varian delta dan sudah ada Corona, karena awal sebelam ada varian delta, orang tetap ramai tapi datang menggunakan protokol kesehatan. Unik, pengunjungnya ramai dari desa lain ke situ," ucap Jono.

Sementara menurut Kepala Desa Gerduren, Bambang Suharsono mengatakan jika pasar wisata kuliner merupakan bagian dari Desa Wisata Gerduren atau Wisata Pertapan. Desa wisata tersebut berdiri di lahan milik Perhutani KPH Banyumas Timur dan berada di bawah tegakan pohon pohon pinus, pihaknya saat ini tengah mengajukan perijinan agar hutan desa dapat dikelola lebih luas lagi.

"Kita lagi mengurus legalitas pengelolaan hutannya jadi hutan desa, karena ini hutan Pinus milik Perhutani KPH Timur. Jadi saat ini kita masih kerjasama dengan perhutani sampai izin hutan desa ini turun. Total 185 hektar, yang sudah diusulkan baru jasa lingkungan dan pariwisata sekitar 3 hakter. Kalau izin turun bisa dimanfaatkan semuanya, seperti orang lihat penderes pinus, budi daya tanaman seperti kebun kopi di bawah tegakan, saat ini sedang dikembangkan," ujarnya.

Bahkan, pihaknya saat ini telah membentuk tiga kelompok usaha perhutanan sosial diantaranya jasa lingkungan dan pariwisata, wanatani dan peternakan kecil, wanatani dan peternakan besar yang basisnya usaha. Dari tiga kelompok tersebut yang baru berjalan yakni jasa lingkungan dan pariwisata.

"Kita ada tiga kelompok yang nantinya akan memanfaatkan hutan, yang baru berjalan jasa lingkungan dan pariwisata. Saya juga berupaya menggeser paradigma bagaimana hutan itu tetap jadi hutan, akan tetapi bisa memberikan nilai ekonomi, maka ada tanaman kopi dan tanaman tanaman perkebunan lain yang bisa dimanfaatkan, tapi tetap menjaga konservasi. Untuk budidaya kopi baru tanam 6.000 pohon, nanti kalau masih kurang kita tambah lagi, misal arah ke depan wisata kuliner minum kopi khas Gerduren," ujarnya.



Simak Video "Soko Tunggal, Masjid yang Didirikan Dengan Satu Tiang, Banyumas"
[Gambas:Video 20detik]
(bnl/bnl)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA